
Bareksa - Pasar keuangan domestik memasuki awal Juli dengan kondisi yang relatif lebih tenang. Yield obligasi pemerintah Indonesia mulai stabil di kisaran 7,1%, namun rupiah masih berada dalam tekanan.
Per 1 Juli 2026, dolar AS menguat sekitar 8,02% secara year-to-date (YTD) menjadi Rp18.011,9, menurut data Investing.
Dalam kondisi seperti ini, menjaga likuiditas sekaligus melakukan diversifikasi menjadi strategi yang patut dicermati investor.
Reksadana Pasar Uang (RDPU) tetap menjadi pilihan bagi investor yang ingin menempatkan dana jangka pendek dengan tingkat risiko yang relatif rendah.
Di tengah stabilnya pasar obligasi dan tingginya suku bunga, kinerja sejumlah RDPU masih cukup kompetitif.
Pilihan Reksadana Pasar Uang Rupiah
Produk | Return 1 Tahun |
|---|---|
Insight Money | +5,3% |
STAR Money Market Kelas Utama | +4,6% |
Pilihan Reksadana Pasar Uang USD
Produk | Return 1 Tahun |
|---|---|
Sucorinvest Money Market USD | +3,65% |
Bahana Liquid USD | +2,78% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 30/6/2026
Reksadana pasar uang dapat menjadi alternatif untuk menjaga likuiditas sambil menunggu peluang investasi yang lebih menarik di pasar.
Bagi investor yang ingin memiliki eksposur terhadap aset berbasis dolar AS, STAR Fixed Income Neo AI Dollar dapat menjadi salah satu pilihan.
Produk ini menawarkan diversifikasi melalui instrumen obligasi berdenominasi dolar AS dengan pendekatan AI-Managed, sehingga berpotensi memperoleh manfaat dari pertumbuhan saham-saham teknologi Amerika Serikat.
Kinerja per 1 Juli 2026:
Return 1 Bulan : +0,68%
Return 3 Bulan : +6,03%
Selain Reksadana Pasar Uang, investor juga dapat mulai menyiapkan dana untuk Obligasi Negara Ritel ORI030 yang akan memasuki masa penawaran pekan depan. ORI030 layak dicermati karena menawarkan kupon tetap hingga jatuh tempo, dijamin pemerintah, pajak kupon lebih rendah dibanding deposito, serta berpotensi memberikan capital gain di pasar sekunder. ORI030 berpeluang menawarkan kupon menarik karena ditawarkan saat suku bunga sedang tinggi dengan BI Rate di level 5,75%, dan diprediksi menawarkan imbal hasil tertinggi sejak 2019.
Jadwal ORI030 (tentatif):
3 Juli 2026: Pengumuman kupon
6-30 Juli 2026: Masa penawaran
6 Agustus 2026: Setelmen
15 September 2026: Kupon pertama
Koreksi harga emas dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap (buy on weakness).
Harga beli emas digital per 2 Juli 2026:
Platform | Harga |
|---|---|
Treasury | Rp2.359.603 |
Pegadaian | Rp2.512.703 |
Indogold | Rp2.388.048 |
Sumber: fitur Bareksa Emas
Emas tetap menjadi salah satu aset lindung nilai (safe haven) yang dapat melengkapi portofolio investasi, terutama ketika ketidakpastian global masih tinggi.
Menurut data Investing, secara teknikal harga emas dunia masih bergerak dalam fase konsolidasi. XAU/USD memiliki support di kisaran US$4.002-3.959 per ons troi, sedangkan resistance berada di area US$4.080-4.115. Selama harga bertahan di atas area support, peluang rebound menuju resistance masih terbuka.
Harga emas spot melemah secara year to date 6,49% jadi US$4.035,23 pada 1 Juli 2026.
Indikator | Level (US$/ons troi) |
|---|---|
Resistance 3 | 4.190,68 |
Resistance 2 | 4.115,36 |
Resistance 1 | 4.080,46 |
Pivot Point | 4.036,96 |
Support 1 | 4.001,87 |
Support 2 | 3.958,55 |
Support 3 | 3.923,46 |
Sumber: Investing, diolah Tim Analis Bareksa
Instrumen | Pandangan |
|---|---|
RD Pasar Uang | Menjaga likuiditas dengan potensi imbal hasil yang kompetitif |
RD Pendapatan Tetap USD | Diversifikasi aset berbasis dolar AS |
Emas | Peluang akumulasi bertahap setelah koreksi harga |
Sumber: Tim Analis Bareksa
Investor tetap disarankan menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu investasi masing-masing.
Yield obligasi Indonesia stabil di sekitar 7,1%.
Rupiah masih tertekan sehingga aset berbasis USD patut dicermati.
RD Pasar Uang tetap menarik untuk menjaga likuiditas.
RD Pendapatan Tetap USD dapat menjadi pilihan diversifikasi.
Pelemahan harga emas membuka peluang akumulasi bertahap bagi investor jangka panjang.
Yield obligasi Indonesia yang mulai stabil di kisaran 7,1% dan penguatan dolar AS sekitar 8,02% YTD terhadap rupiah membuat strategi defensif masih relevan. Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas, sementara Reksa Dana Pendapatan Tetap USD menawarkan alternatif diversifikasi aset berbasis dolar AS. Di sisi lain, koreksi harga emas dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap sesuai profil risiko dan tujuan investasi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Karena cocok untuk menjaga likuiditas dengan risiko relatif rendah di tengah pasar yang masih berfluktuasi.
Penguatan dolar AS sekitar 8,02% YTD membuat instrumen berbasis USD layak dicermati sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.
Koreksi harga emas dapat menjadi peluang akumulasi bertahap bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang.