Ketika Iran Memaksa Dunia Berpikir Ulang: Pelajaran Geopolitik untuk Investor Indonesia

Hanum Kusuma Dewi • 01 Jul 2026

an image
Mahendra Siregar — mantan Wakil Menteri Keuangan, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, dan mantan Ketua OJK — membedah konflik Iran-AS dari sudut pandang yang jarang dibahas di Podcast Pakkar di Bareksa.

Mahendra Siregar — mantan Wakil Menteri Keuangan, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, dan mantan Ketua OJK — membedah konflik Iran-AS dari sudut pandang yang jarang dibahas

Bareksa - Selat Hormuz bukan sekadar jalur air. Setiap hari, lebih dari 20 juta barel minyak melewati selat sepanjang 54 kilometer itu — sekitar seperlima dari seluruh pasokan minyak dunia. Ketika Iran menutupnya pada akhir Februari 2026, harga minyak global melonjak dari US$71 ke lebih dari US$94 per barel hanya dalam hitungan hari. Bagi Indonesia yang mengimpor sekitar satu juta barel per hari, guncangan itu bukan angka abstrak. Hal ini langsung berpengaruh pada harga BBM, inflasi, dan tekanan pada APBN.

Tapi di balik krisis itu, ada dinamika yang jauh lebih dalam dan lebih menarik dari sekadar naiknya harga minyak.

Dalam episode perdana Podcast Pakkar, yang dipandu oleh Co-Founder/CEO Bareksa Karaniya Dharmasaputra, Mahendra Siregar — mantan Wakil Menteri Keuangan, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, dan mantan Ketua OJK — membedah konflik Iran-AS dari sudut pandang yang jarang dibahas: bukan sebagai peristiwa militer, melainkan sebagai pertarungan strategi jangka panjang yang mengubah tatanan geopolitik dunia.

Salah satu poin paling mengejutkan yang disampaikan Mahendra: Iran, bukan Amerika Serikat, yang keluar sebagai pihak yang lebih diuntungkan dari kesepakatan ini. Iran memahami bahwa ia tidak akan pernah menang dalam konfrontasi senjata langsung melawan AS dan Israel. Maka selama puluhan tahun, Iran membangun strategi yang berbeda — mengembangkan misil balistik presisi tinggi dan teknologi drone yang murah, sederhana, namun efektif memukul balik serangan. Bukan meniru strategi negara lain, melainkan merancang pendekatan pertahanan yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan spesifik Iran sendiri.

Yang membuat strategi ini berhasil, menurut Mahendra, adalah konsistensi. Selama lebih dari 50 tahun di bawah rezim yang sama dengan angkatan bersenjata yang tidak berganti arah, Iran mampu menjalankan strategi jangka panjang secara efektif — sesuatu yang sulit dilakukan negara-negara dengan pergantian pemerintahan yang sering.

Lalu apa relevansinya bagi investor Indonesia?

Mahendra menegaskan bahwa pasar keuangan sangat bergantung pada stabilitas dan perkembangan geopolitik. Gejolak di Hormuz bukan hanya soal harga minyak — ia mempengaruhi nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan pada akhirnya, kinerja portofolio investasi. Di sinilah Mahendra menyampaikan pesan yang paling penting untuk investor ritel: jangan gamang, jangan kaget, dan jangan ikut-ikutan. Kemampuan untuk menyeleksi informasi geopolitik, mencernanya dengan jernih, dan mengambil keputusan investasi berdasarkan analisis — bukan kepanikan — adalah kompetensi yang tidak bisa ditawar di era seperti ini.

Bagaimana Mahendra melihat peluang kesepakatan Iran-AS ini benar-benar bertahan? Apa implikasi konkretnya bagi ekonomi dan pasar keuangan Indonesia ke depan? Dan pelajaran strategis apa yang bisa diambil investor dari cara Iran membangun ketahanannya selama setengah abad?

Semua jawabannya ada di episode lengkap Podcast Pakkar bersama Mahendra Siregar — sekarang tersedia di YouTube Bareksa.

(hm)

* * *

DISCLAIMER

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksa dana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksa dana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena