Kinerja MPPA Memburuk, Seperti Apa Kontribusi Hypermart?

Kinerja MPPA Memburuk, Seperti Apa Kontribusi Hypermart?

Dilihat berdasarkan wilayah, DKI Jakarta diikuti dengan pulau Jawa masih menjadi pangsa pasar yang dominan.
Kamis, 13 Juli 2017 16:37:56 WIB Muhammad Ikhsan B
Image

Bareksa.com – Saham-saham perusahaan yang bergerak di lini bisnis department store cenderung melemah tahun ini. Sepanjang 2017, rata-rata saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), serta PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang merupakan induk usaha dari Hypermart masing-masing melemah hingga double digit. Sebelumnya, Bareksa telah menjelaskan salah satu penyebab pelemahan industri ini secara makro. (Baca Juga : Daya Beli Melemah, Tiga Saham Department Store Turun Dua Digit Sepanjang 2017)

Pasca dibantahnya isu terkait adanya PHK yang dilakukan pihak Hypermart, saham MPPA selaku induk usaha bergerak menguat dalam dua hari terakhir. Pada perdagangan hari ini, 13 Juli 2017 saham MPPA bergerak menguat 1,5 persen di level Rp 640 per lembar.

Juru Bicara MPPA, Fernando Repi membantah kabar soal PHK besar-besaran yang terjadi di Hypermart seperti pemberitaan media. Sebab tahun ini perseroan justru menargetkan penambahan 9-10 gerai. Hingga kini penambahan gerai sudah terealisasi 2 gerai. "Lokasi penambahan gerai ada di Sulawesi, Kalimantan, dan kami juga sedang mempertimbangkan Sumatera," ujarnya kepada Bareksa, 12 Juli 2017.

Menilik Penyebab Memburuknya Kinerja MPPA

Ditengah kerugian yang mencapai Rp 176 miliar di kuartal I 2017, MPPA masih optimistis terhadap kinerjanya tahun ini. Hingga Maret 2017, Hypermart telah mempunyai gerai sebanyak 114 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Sekedar tambahan informasi, Pendapatan Hypermart masih menjadi nyawa bagi MPPA mengingat kontribusi pendapatan Hypermart mencapai 72 persen terhadap induk usaha.

Pie Chart : Kontribusi Pendapatan MPPA

Sumber : Perusahaan, diolah Bareksa

Dengan target pangsa pasar kelas menengah (middle income), Hypermart tersebar di beberapa wilayah di mana pulau Jawa masih menjadi penopang dari pendapatan Hypermart.

Dilihat berdasarkan wilayah, DKI Jakarta diikuti dengan pulau Jawa masih menjadi pangsa pasar yang dominan. Terbukti di mana dari kedua daerah itu saja, kontribusi penjualan telah menyumbang hampir 60 persen. Sehingga bisa diasumsikan apabila memburuk nya performa kinerja keuangan lebih disebabkan faktor ekonomi secara umum berdasarkan letak wilayah.

Tabel : Kontribusi Pendapatan dan EBITDA berdasarkan wilayah

Sumber : MPPA

Sebelumnya, mengutip situs resmi Bank Indonesia, Inflasi DKI Jakarta pada Juni 2017 juga lebih rendah dibandingkan rata-rata historis inflasi pada periode hari raya Idul Fitri selama tiga tahun terakhid yang tercatat 0,93 persen (month to month). Sedangkan apabila dirinci lebih jauh, kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,35 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata bulan Idul Fitri pada 3 tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 1,19 persen (mtm).

Secara umum, rendahnya angka inflasi juga dapat menunjukkan rendahnya permintaan dan daya beli masyarakat. Sehingga kinerja MPPA secara tidak langsung merupakan gambaran dari melemahnya daya beli pulau Jawa khususnya daerah Ibukota. Sehingga, apabila tingkat ekonomi, inflasi, maupun daya beli di pulau Jawa serta DKI Jakarta membaik, hal tersebut juga diharapkan berdampak pada peusahaan yang terefleksikan dalam kinerja laporan keuangan di periode ke depannya.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN CHAT
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
Top learning center