Berita / SBN / Artikel

Penjualan SBR015 Capai Rp17,01 Triliun, ST017 Siap Ditawarkan 6 November 2026

Abdul Malik • 27 Oct 2026

an image
Ilustrasi investasi di Surat Berharga Negara (SBN), termasuk Sukuk Ritel, Sukuk Tabungan (ST), Savings Bond Ritel (SBR) dan Obligasi Negara Ritel (ORI). (Shutterstock)

Penjualan SBR015 mencapai Rp17,01 triliun dari 62.529 investor. Simak rincian hasil penjualan dan jadwal Sukuk Tabungan ST017 mulai 6 November 2026.

Bareksa – Pemerintah bersiap menawarkan Sukuk Tabungan seri ST017 mulai 6 November 2026, setelah sukses menghimpun dana Rp17,01 triliun dari penjualan Savings Bond Ritel (SBR015). Berdasarkan hasil penjualan yang ditetapkan Kementerian Keuangan pada Senin (26/10/2026), SBR015 berhasil menarik 62.529 investor, dengan tenor dua tahun mendominasi pemesanan.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) mencatat penjualan SBR015T2 sebesar Rp13,60 triliun, sedangkan SBR015T4 mencapai Rp3,40 triliun. Kedua seri tersebut sebelumnya ditawarkan pada 28 September hingga 22 Oktober 2026.

Selanjutnya, ST017 dijadwalkan ditawarkan mulai 6 November hingga 2 Desember 2026, dengan pilihan tenor dua dan empat tahun. Sukuk negara ritel berbasis syariah ini menawarkan imbalan mengambang dengan batas minimal (floating with floor), sementara besaran imbalannya masih menunggu pengumuman resmi pemerintah.

Hasil Penjualan SBR015: Tenor 2 Tahun Mendominasi

Pemerintah menawarkan SBR015 pada 28 September hingga 22 Oktober 2026 dengan kupon minimal 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun.

Rincian Hasil Penjualan SBR015

Indikator
SBR015T2
SBR015T4

Hasil penjualan

Rp13,6 triliun

Rp3,4 triliun

Porsi penjualan

80%

20%

Kupon minimal per tahun

6,75%

6,85%

Jumlah investor

51.702

14.156

Tenor

2 tahun

4 tahun

Jatuh tempo

10 Oktober 2028

10 Oktober 2030

Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan, 26 Oktober 2026. Nilai penjualan dibulatkan.

Total hasil penjualan mencapai Rp17.007.306.000.000, terdiri atas Rp13.604.029.000.000 untuk SBR015T2 dan Rp3.403.277.000.000 untuk SBR015T4. Dana hasil penerbitan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2026 beserta perubahannya.

SBR015 merupakan SBN ritel konvensional yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Kuponnya bersifat floating with floor, yaitu dapat menyesuaikan perubahan BI Rate setiap tiga bulan, tetapi tidak turun di bawah tingkat minimal yang ditetapkan saat penerbitan.

Investor SBR015 Capai 62.529 Orang, Milenial Mendominasi

Penjualan SBR015 mencatat partisipasi 62.529 investor, termasuk 19.583 investor baru Surat Utang Negara (SUN) ritel dan 12.809 investor baru SBN ritel. Jumlah investor pada kedua tenor tidak dijumlahkan langsung karena terdapat 3.329 investor yang membeli kedua seri.

Profil Investor SBR015

Kategori
Temuan Utama

Total investor

62.529 orang

Investor baru SUN ritel

19.583 orang

Investor baru SBN ritel

12.809 orang

Generasi dengan investor terbanyak

Milenial, 49,84%

Generasi dengan nominal terbesar

Gen X, 38,38%

Nominal Baby Boomers

31,97%

Profesi dengan investor terbanyak

Pegawai swasta, 34,36%

Profesi dengan nominal terbesar

Wiraswasta, 32,10%

Perempuan berdasarkan jumlah investor

58,32%

Perempuan berdasarkan nominal investasi

50,68%

Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan.

Data tersebut menunjukkan perbedaan antara jumlah investor dan besarnya dana investasi. Milenial mendominasi dari sisi jumlah, sedangkan Gen X dan Baby Boomers menyumbang porsi nominal yang besar. Dari sisi distribusi, perbankan masih mendominasi nilai penjualan dan jumlah investor. Namun, perusahaan teknologi finansial dan sekuritas turut berperan dalam menjangkau investor ritel.

Setelah SBR015, Kapan ST017 Mulai Ditawarkan?

Pemerintah berencana menawarkan Sukuk Tabungan ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026, berdasarkan jadwal sementara yang disampaikan DJPPR kepada mitra distribusi pada 23 Oktober. ST017 merupakan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel dengan akad wakalah. Berbeda dengan SBR015 yang merupakan obligasi negara konvensional, ST017 menggunakan struktur penerbitan berdasarkan prinsip syariah.

Jadwal dan Ketentuan ST017

Ketentuan
ST017T2
ST017T4

Masa penawaran

6 Nov–2 Des 2026

6 Nov–2 Des 2026

Tenor

2 tahun

4 tahun

Jatuh tempo

10 November 2028

10 November 2030

Minimal pemesanan

Rp1 juta

Rp1 juta

Maksimal pemesanan

Rp5 miliar

Rp10 miliar

Jenis kupon

Floating with floor

Floating with floor

Besaran kupon

Belum diumumkan

Belum diumumkan

Pencairan awal

Maksimal 50%

Maksimal 50%

Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan, 23 Oktober 2026. Seluruh jadwal dan ketentuan masih tentatif.

Penetapan hasil penjualan ST017 dijadwalkan pada 7 Desember, sedangkan setelmen pada 9 Desember 2026. ST017 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi memiliki fasilitas early redemption sesuai persyaratan dan periode yang ditentukan.

Apakah Kupon ST017 Bisa Lebih Tinggi dari SBR015?

Besaran kupon ST017 belum ditetapkan. Pemerintah dijadwalkan mengumumkannya paling lambat sehari sebelum masa penawaran dimulai. Sebagai pembanding historis, SBR015 menawarkan kupon minimal 6,75%–6,85% per tahun. Namun, angka tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan kupon ST017.

Kupon ST017 akan mempertimbangkan BI Rate dan selisih tetap (spread) yang ditentukan pemerintah. Bagi investor yang mencermati ST017, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah besaran kupon setelah diumumkan, pilihan tenor, kebutuhan likuiditas, serta konsekuensi dana yang tidak dapat dicairkan seluruhnya sebelum jatuh tempo.

Kesimpulan

Penjualan SBR015 mencapai Rp17,01 triliun, dengan 80% dana berasal dari tenor dua tahun. Sebanyak 62.529 investor berpartisipasi, didominasi milenial dari sisi jumlah dan investor perempuan dari sisi jumlah maupun nominal. Selanjutnya, pemerintah menjadwalkan penawaran ST017 pada 6 November–2 Desember 2026. Sukuk Tabungan ini menyediakan tenor dua dan empat tahun dengan pemesanan mulai Rp1 juta. Investor perlu menunggu pengumuman resmi kupon ST017 sebelum membandingkan tingkat imbalannya dengan SBR015 atau instrumen investasi lainnya.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya. Pembelian SBN di Bareksa hanya melalui aplikasi dan bareksa.com. Bareksa tidak pernah meminta transfer ke rekening pribadi.

Siap-siap Investasi ST017 di Sini

(Rahmat Hidayat/AM)

Tentang Penulis

*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.

***

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Berapa hasil penjualan SBR015?

Rp17,01 triliun, terdiri atas Rp13,60 triliun SBR015T2 dan Rp3,40 triliun SBR015T4.

Berapa jumlah investor SBR015?

Sebanyak 62.529 investor, termasuk 12.809 investor baru SBN ritel.

Kapan ST017 ditawarkan?

Dijadwalkan pada 6 November hingga 2 Desember 2026, dengan ketentuan yang masih tentatif.

Berapa kupon ST017?

Belum diumumkan. Kupon bersifat mengambang dengan batas minimal dan akan ditetapkan menjelang masa penawaran.

Apa perbedaan SBR015 dan ST017?

SBR015 adalah obligasi negara konvensional, sedangkan ST017 merupakan sukuk negara berbasis prinsip syariah. Keduanya tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan memiliki fasilitas pencairan awal terbatas.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.