
Bareksa - Pemerintah dijadwalkan mengumumkan kupon resmi Sukuk Ritel SR025 paling lambat 20 Agustus 2026, sehari sebelum masa penawaran dibuka 21 Agustus-16 September 2026.
Momentum ini berbarengan dengan BI yang menahan BI Rate di 5,75% pada RDG 19 Agustus 2026, dan kurva yield SUN acuan PHEI per 18 Agustus yang turun dibanding posisi 7 Agustus - basis estimasi awal Bareksa pada 11 Agustus 2026.
Yield tenor 3 tahun turun dari 7,0849% menjadi 6,8664%, tenor 5 tahun turun dari 7,2377% menjadi 6,9968% - masing-masing terkoreksi sekitar 22 dan 24 bps.
• BI tahan BI Rate 5,75% dua bulan beruntun (19/8), mendukung tren yield SUN yang terus menurun.
• Kurva yield tenor 3 tahun turun ke 6,8664% (18/8) dari 7,0849% (7/8); tenor 5 tahun turun ke 6,9968% dari 7,2377%.
• Kurva benchmark SBSN (PBS) bergerak nyaris identik dengan kurva SUN konvensional pada tenor yang sama.
• Secara historis, kupon SR ritel konsisten lebih tinggi 10-45 bps dari ORI pada tenor sebanding (2 dari 2 pasangan terverifikasi).
• Indikasi gabungan: SR025T3 6,6%-7,0%, SR025T5 6,7%-7,1%. Kupon resmi diumumkan paling lambat 20 Agustus 2026.
Penurunan yield sejalan dengan rupiah yang menguat hampir 1% sepanjang Agustus, seiring transisi kepemimpinan BI yang mulus di bawah Destry Damayanti dan ekspektasi siklus kenaikan BI Rate 100 bps (Mei-Juni 2026) telah mencapai puncaknya.
Untuk memastikan estimasi berimbang antara instrumen konvensional dan syariah, benchmark SBSN (PBS) turut dicermati: PBS030 (sisa tenor 1,91 tahun) berimbal hasil 6,7810% dan PBS040 (4,25 tahun) 7,0021% per 18 Agustus.
Karena tidak ada benchmark SBSN persis di tenor 3 tahun, interpolasi di antara keduanya menghasilkan estimasi yield sukuk benchmark sekitar 6,884% - hanya berselisih tipis 1-2 bps dari kurva SUN konvensional pada tenor sama, menandakan pasar sukuk benchmark (grosir) dan SUN diperdagangkan pada level yield yang hampir setara.
Meski yield benchmark (PBS vs FR) hampir setara, pola berbeda terlihat pada kupon SBN Ritel. Data dua pasang penerbitan terakhir yang waktunya berdekatan menunjukkan kupon SR konsisten ditetapkan lebih tinggi dari ORI pada tenor sebanding:
Pasangan Seri | Kupon SR | Kupon ORI | Selisih |
SR023T3 (Agu'25) vs ORI028T3 (Sep'25) | 5,80% | 5,35% | +45 bps |
SR023T5 (Agu'25) vs ORI028T6 (Sep'25) | 5,95% | 5,65% | +30 bps |
ORI029T3 (Jan'26) vs SR024T3 (Mar'26) | 5,55% | 5,45% | +10 bps |
ORI029T6 (Jan'26) vs SR024T5 (Mar'26) | 5,90% | 5,80% | +10 bps |
Sumber: Pengumuman resmi DJPPR Kemenkeu, diolah Bareksa.
Premi ini konsisten muncul terlepas urutan penerbitan (SR lebih dulu pada pasangan pertama, ORI lebih dulu pada pasangan kedua), mengindikasikan kebijakan insentif kupon sukuk ritel yang cukup sistematis, dengan besaran premi yang mengecil dari 30-45 bps (2025) menjadi 10 bps (2026) seiring pasar yang lebih stabil.
Penting dicatat: ORI030 (T3 6,9%, T6 7%), ORI terbaru sebelum SR025, ditetapkan awal Juli 2026 saat yield masih jauh lebih tinggi dari saat ini. Menambahkan premi historis langsung ke kupon ORI030 akan keliru karena mengabaikan penurunan yield ~22-24 bps yang terjadi sejak saat itu.
Pendekatan yang lebih tepat: terapkan premi historis (kini sekitar 10 bps berdasarkan pola 2026 yang lebih relevan dengan kondisi pasar saat ini) di atas kurva pasar terkini, bukan di atas kupon ORI030.
Indikasi Kupon SR025
Seri | Basis Kurva Pasar (18/8) | Dengan Premi Historis SR (+10 bps) |
SR025T3 | 6,6%-6,8% | 6,7%-7,0% |
SR025T5 | 6,7%-6,9% | 6,8%-7,1% |
Sumber: PHEI, DJPPR Kemenkeu, diolah Bareksa
Indikasi gabungan Bareksa: SR025T3 sekitar 6,6%-7,0% dan SR025T5 sekitar 6,7%-7,1%. Ini analisis indikatif, bukan proyeksi maupun kupon resmi pemerintah.
Data Neraca Transaksi Berjalan kuartal II 2026 rilis 21 Agustus 2026 - bertepatan hari pertama masa penawaran SR025 - dengan konsensus defisit melebar ke -US$11,72 miliar dari -US$4 miliar. Jika realisasi lebih lebar, tekanan rupiah dapat muncul kembali dan mendorong yield naik, membuat kupon final berpotensi lebih tinggi dari indikasi tersebut.
BI Rate yang tertahan di 5,75% turut menopang tren penurunan kurva yield SUN, sementara kurva benchmark SBSN bergerak nyaris identik dengannya. Namun riwayat kupon SBN Ritel menunjukkan SR konsisten mendapat premi 10-45 bps di atas ORI pada tenor sebanding - pola yang, jika berlanjut dengan besaran terkini (~10 bps), mengarahkan indikasi kupon SR025T3 ke 6,6%-7,0% dan SR025T5 ke 6,7%-7,1%. Angka final tetap ada berdasarkan keputusan pemerintah.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
Siap-siap Investasi SR025 di Sini
(Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Kupon resmi diumumkan paling lambat 20 Agustus 2026; masa penawaran berlangsung 21 Agustus-16 September 2026.
Berdasarkan dua pasangan penerbitan terakhir yang waktunya berdekatan, SR konsisten lebih tinggi 10-45 bps dari ORI pada tenor sebanding - namun ini pola historis, bukan jaminan untuk SR025.
ORI030 ditetapkan awal Juli 2026 saat yield jauh lebih tinggi. Membandingkan langsung akan mengabaikan penurunan yield ~22-24 bps yang terjadi sejak itu, sehingga estimasinya keliru.
Tidak. Kurva SBSN benchmark (PBS) hanya berselisih 1-2 bps dari kurva SUN pada tenor yang sama, berbeda dengan pola premi yang justru terlihat pada kupon SBN Ritel.
Rilis data Neraca Transaksi Berjalan 21 Agustus 2026, dengan konsensus defisit melebar ke -US$11,72 miliar, berpotensi menekan rupiah dan mendorong yield naik jika realisasinya lebih buruk dari perkiraan.