
Bareksa – Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), tetapi memangkas target harga menjadi Rp4.650 per saham dari sebelumnya Rp4.975 dalam riset tertanggal Selasa (27/10/2026).
Target baru tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 34% dari harga acuan Rp3.470. Penyesuaian target bukan disebabkan penurunan proyeksi laba, melainkan meningkatnya risiko pasar dan terbatasnya ruang perbaikan margin bunga.
Sepanjang Januari–September 2026, BBNI membukukan laba bersih Rp16,12 triliun, naik 6,6% secara tahunan (YoY). Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit dan berkurangnya biaya pencadangan pada kuartal III, meskipun margin bunga bersih masih tertekan.
BBNI mencatat laba bersih Rp5,36 triliun pada Q3-2026, tumbuh 6,8% YoY dan 5,2% dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ). Pencapaian laba sembilan bulan pertama setara 76% dari proyeksi Ciptadana dan 77% dari konsensus pasar untuk sepanjang 2026.
Ringkasan Kinerja BBNI hingga September 2026
Indikator | Realisasi | Perubahan |
|---|---|---|
Laba bersih 9M26 | Rp16,12 triliun | +6,6% YoY |
Laba bersih Q3 | Rp5,36 triliun | +6,8% YoY |
Pendapatan bunga bersih 9M26 | Rp33,24 triliun | +13,6% YoY |
Laba operasional sebelum pencadangan 9M26 | Rp27,54 triliun | +11,6% YoY |
Beban pencadangan Q3 | Rp1,87 triliun | −36,8% QoQ |
Biaya kredit (CoC) Q3 | 0,6% | Turun dari 1% pada Q2 |
NIM Q3 | 3,4% | Turun dari 3,6% pada Q2 |
NPL gross | 2,0% | Stabil secara tahunan |
Sumber: BBNI dan Ciptadana Sekuritas Asia, 27 Oktober 2026.
Penurunan pencadangan menjadi penopang utama laba kuartalan. Beban pencadangan turun 19,7% YoY dan 36,8% QoQ, membantu mengimbangi tekanan biaya operasional.Namun, beban operasional sembilan bulan masih meningkat 10,9% YoY, terutama akibat kenaikan biaya pegawai sekitar 15% seiring transformasi jaringan layanan.
Rasio biaya terhadap pendapatan atau cost-to-income ratio (CIR) mencapai 46,8% pada 9M26, sementara manajemen mempertahankan sasaran jangka menengah sekitar 40%.
Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BBNI turun menjadi 3,4% pada Q3-2026, dibandingkan 3,6% pada Q2 dan 3,7% setahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) dari 2,8% menjadi 3,4% secara kuartalan, meskipun imbal hasil aset produktif meningkat dari 6,3% menjadi 6,6%.
Manajemen memperkirakan NIM berpeluang membaik pada Q4-2026 seiring meredanya tekanan likuiditas dan dukungan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) dari Bank Indonesia. Panduan NIM sepanjang 2026 tetap 3,3–3,5%, dengan peluang mendekati batas atas.
Namun, analis mengingatkan ruang kenaikan imbal hasil kredit semakin terbatas. Sekitar 46% portofolio kredit telah mengalami penyesuaian bunga, sehingga kemampuan menaikkan margin melalui perubahan suku bunga kredit berpotensi berkurang.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit berisiko atau loan at risk (LAR) BBNI turun menjadi 7,8%, dari 8,1% pada kuartal sebelumnya. Rasio pencadangan terhadap LAR meningkat menjadi 48,8%, sedangkan NPL gross tetap terkendali pada 2%.
Meski demikian, Ciptadana mencermati restrukturisasi kredit BUMN konstruksi. Eksposur gabungan BBNI kepada PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencapai sekitar Rp2,9 triliun, dengan cakupan pencadangan sekitar 14%. Eksposur tersebut perlu dipantau, tetapi tidak berarti seluruh pembiayaan otomatis berstatus kredit macet.
Kredit BBNI tumbuh 22,2% YoY menjadi Rp992,52 triliun pada September 2026, meskipun melambat dari pertumbuhan sekitar 24% pada Q2.Pertumbuhan tersebut masih melampaui target manajemen sepanjang 2026 sebesar 10–13%. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 20,4% YoY menjadi Rp1.124,59 triliun, didukung pertumbuhan giro sekitar 26%.
Rasio dana murah atau CASA bertahan pada 65,2%, menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung efisiensi pendanaan.Untuk 2027, manajemen memperkirakan pertumbuhan kredit kembali normal ke kisaran belasan persen rendah hingga menengah.
Ciptadana menurunkan target harga BBNI sekitar 6,5%, dari Rp4.975 menjadi Rp4.650, tetapi tetap mempertahankan rekomendasi BUY. Menurut riset tersebut, perubahan mencerminkan peningkatan asumsi biaya ekuitas (cost of equity) akibat risiko pasar, serta keterbatasan ruang kenaikan NIM dalam jangka panjang.
Proyeksi BBNI Menurut Ciptadana
Indikator | 2026F | 2027F |
|---|---|---|
Laba bersih | Rp21,20 triliun | Rp23,17 triliun |
Pertumbuhan laba | 5,8% | 9,3% |
EPS | Rp568,5 | Rp621,3 |
ROE | 12,1% | 12,5% |
Dividend yield | 10,1% | 9,8% |
Sumber: Estimasi Ciptadana, 27 Oktober 2026. F menunjukkan proyeksi, bukan realisasi.
Target harga terbaru mencerminkan valuasi sekitar 0,9 kali proyeksi price-to-book value (PBV) 2027. Proyeksi dividend yield juga bukan jaminan pembagian dividen karena realisasinya bergantung pada laba, kebijakan perusahaan, persetujuan pemegang saham, dan harga pasar.
Margin bunga: Kenaikan biaya dana dapat menghambat pemulihan NIM.
Biaya operasional: Pengeluaran transformasi jaringan masih menekan efisiensi.
Kualitas kredit: Restrukturisasi kredit BUMN konstruksi memerlukan pemantauan.
Risiko pasar: Peningkatan biaya ekuitas dapat menekan valuasi saham meskipun laba tetap tumbuh.
Ciptadana tetap merekomendasikan BUY saham BBNI dengan target Rp4.650, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 34% dari harga acuan Rp3.470. Laba bersih yang tumbuh 6,6% hingga September 2026, penurunan biaya kredit, dan kualitas aset yang membaik menopang prospek fundamental BBNI. Namun, keberlanjutan pemulihan margin bunga, pengendalian biaya operasional, dan risiko kredit menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Rp16,12 triliun, naik 6,6% secara tahunan.
Rp4.650 per saham dengan rekomendasi BUY, berdasarkan riset 27 Oktober 2026.
Karena meningkatnya biaya ekuitas akibat risiko pasar dan terbatasnya peluang kenaikan margin bunga, bukan karena revisi turun proyeksi laba.