
Bareksa – Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dengan target harga Rp1.400 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan 44,3% dari harga acuan Rp970 dalam riset tertanggal Senin (26/10/2026).
Rekomendasi tersebut didukung pemulihan kinerja BTPN Syariah. Bank membukukan laba bersih Rp356 miliar pada kuartal III-2026, meningkat sekitar 18% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan 6% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ). Sepanjang Januari–September 2026, laba bersih mencapai Rp1,01 triliun, naik sekitar 7% YoY. Pencapaian ini setara 78% dari proyeksi laba tahunan Ciptadana dan sekitar 77% dari konsensus pasar.
Penurunan biaya kredit atau cost of credit (CoC) menjadi pendorong utama perbaikan laba BTPN Syariah. CoC turun dari 8,5% pada Q3-2025 menjadi 3,8% pada Q3-2026, sekaligus menjadi rasio kuartalan pertama di bawah 4% sejak Q4-2019. Penurunan risiko pembiayaan tersebut membuat beban pencadangan menyusut sekitar 51% YoY menjadi Rp105 miliar.
Ringkasan Kinerja BTPN Syariah Q3-2026
Indikator | Realisasi Q3-2026 | Perubahan |
|---|---|---|
Laba bersih | Rp356 miliar | +18,3% YoY |
Laba bersih 9M26 | Rp1,01 triliun | +7,1% YoY |
Pendapatan bunga bersih Q3 | Rp1,20 triliun | +0,2% YoY |
Beban pencadangan Q3 | Rp105 miliar | −50,8% YoY |
CoC | 3,8% | Turun dari 8,5% YoY |
NIM | 22,4% | Naik 70 bps QoQ |
Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) | 54,2% | Naik dari 52% QoQ |
NPL gross | 2,2% | Turun dari 2,9% YoY |
Sumber: BTPN Syariah dan Ciptadana Sekuritas Asia, 26 Oktober 2026.
Meski beban pencadangan turun, biaya operasional masih menjadi tantangan. Beban operasional nonbunga meningkat sekitar 10% YoY dan 7% QoQ, sehingga CIR naik menjadi 54,2%. Akibatnya, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) turun 9% YoY. Namun, penurunan biaya pencadangan mampu mengimbangi tekanan tersebut.
Pertumbuhan pembiayaan BTPN Syariah mencapai 12,5% YoY pada Q3-2026, meningkat dari 8,7% pada kuartal II dan 4% pada kuartal I. Menurut analis, pencapaian ini menandai kembalinya pertumbuhan dua digit setelah periode kontraksi pembiayaan pada 2023–2025.
Total pembiayaan mencapai sekitar Rp11,03 triliun, sedangkan dana pihak ketiga tumbuh 8,6% YoY menjadi Rp16,13 triliun. Pemulihan turut didukung perbaikan kualitas aset. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing yang dalam tabel riset disebut NPL gross turun menjadi 2,2%, dibandingkan 2,9% setahun sebelumnya.
Sementara itu, rasio pembiayaan berisiko atau loan at risk (LAR) membaik menjadi 4,2%, dari 5,1% pada Q2-2026 dan 6,3% pada Q1-2026. Analis menilai perkembangan ini membuka ruang bagi bank untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan baru secara bertahap. Namun, rasio penghapusbukuan pembiayaan tahunan meningkat menjadi 5,7% pada Q3 dari 4,8% pada kuartal sebelumnya. Perkembangan ini tetap perlu dipantau.
Pemulihan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) turut mendukung kinerja BTPN Syariah. NIM meningkat dari 21,7% pada Q2 menjadi 22,4% pada Q3-2026, didukung kenaikan imbal hasil aset produktif dan berkurangnya pembiayaan restrukturisasi.
Imbal hasil aset produktif naik menjadi 24,7%, sementara biaya dana relatif terkendali di 3,9%. Meski demikian, secara kumulatif NIM Januari–September masih turun 140 basis poin YoY menjadi 21,9%, sehingga tekanan terhadap margin belum sepenuhnya hilang.
Ciptadana mempertahankan rekomendasi BUY dengan target Rp1.400 per saham, menggunakan valuasi sekitar satu kali price-to-book value (PBV) proyeksi 2026. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan 44,3% dari harga acuan Rp970. Namun, angka ini merupakan perkiraan analis, bukan jaminan keuntungan.
Proyeksi Keuangan BTPS Menurut Ciptadana
Indikator | 2026F | 2027F |
|---|---|---|
Laba bersih | Rp1,30 triliun | Rp1,56 triliun |
Pertumbuhan laba | +8,4% | +20,2% |
EPS | Rp169 | Rp203,1 |
ROE | 12,6% | 14,0% |
Dividend yield | 8,0% | 7,9% |
Sumber: Estimasi Ciptadana Sekuritas Asia, 26 Oktober 2026. F menunjukkan proyeksi.
Manajemen BTPS juga kembali menaikkan panduan pertumbuhan laba 2026 menjadi kategori mid-double-digit, dari sebelumnya low-double-digit, seiring harapan normalisasi biaya kredit. Namun, estimasi pertumbuhan laba Ciptadana untuk 2026 masih sebesar 8,4%. Perbedaan tersebut perlu dibaca sebagai perbedaan antara panduan manajemen dan model proyeksi analis.
Katalis lain adalah pelaksanaan program pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp1 triliun. Ciptadana memperkirakan realisasi program ini berpotensi mendukung sentimen saham BTPS.
Biaya operasional meningkat: CIR yang lebih tinggi dapat membatasi pertumbuhan laba.
Biaya kredit berpotensi kembali naik: Pemulihan kualitas pembiayaan perlu berlanjut agar pencadangan tetap terkendali.
Pertumbuhan pembiayaan: Ekspansi yang lebih lambat dari perkiraan dapat menekan pendapatan.
Buyback dan valuasi: Realisasi buyback maupun pencapaian target harga tidak dijamin.
Ciptadana mempertahankan rekomendasi BUY BTPS dengan target Rp1.400, didukung laba bersih Q3-2026 yang tumbuh 18%, penurunan biaya kredit, serta pemulihan pertumbuhan pembiayaan. Kualitas aset dan NIM menunjukkan perbaikan, tetapi kenaikan biaya operasional serta keberlanjutan pemulihan pembiayaan masih perlu dicermati investor.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Rp1,01 triliun, tumbuh sekitar 7% secara tahunan.
Rp1.400 per saham, dengan rekomendasi BUY dalam riset 26 Oktober 2026.
Terutama karena biaya kredit turun sehingga kebutuhan pencadangan berkurang, didukung pemulihan margin.