
Bareksa – Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), meskipun menurunkan target harga menjadi Rp5.450 per saham dari sebelumnya Rp6.150. Dalam riset tertanggal Senin (26/10/2026), target tersebut mencerminkan potensi kenaikan 41,6% dibandingkan harga acuan Rp3.850 yang digunakan Ciptadana.
Rekomendasi tersebut didukung laba bersih Bank Mandiri yang mencapai Rp45,5 triliun sepanjang Januari–September 2026, tumbuh sekitar 21% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan laba terutama ditopang efisiensi operasional serta peningkatan pendapatan nonbunga, meskipun margin bunga bersih masih menghadapi tekanan.
Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp15,1 triliun pada kuartal III-2026, meningkat sekitar 14% secara tahunan dan 1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Dengan hasil tersebut, laba bersih sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp45,5 triliun, setara 80% dari estimasi konsensus laba setahun penuh dan 77% dari proyeksi Ciptadana.
Ringkasan Kinerja BMRI hingga September 2026
Indikator | Realisasi | Perubahan |
|---|---|---|
Laba bersih 9M26 | Rp45,5 triliun | +20,7% YoY |
Laba bersih Q3-2026 | Rp15,1 triliun | +13,9% YoY |
Pendapatan bunga bersih 9M26 | Rp69,8 triliun | +6,5% YoY |
Pendapatan nonbunga 9M26 | Rp36,2 triliun | +15,5% YoY |
Beban operasional nonbunga 9M26 | Rp40,3 triliun | −1,6% YoY |
Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) | 38% | Turun dari 42,3% |
NIM Q3-2026 | 3,9% | Turun 60 bps YoY |
Sumber: Bank Mandiri dan Ciptadana Sekuritas Asia, 26 Oktober 2026. Angka dibulatkan.
Efisiensi menjadi salah satu penopang laba Bank Mandiri. Rasio biaya terhadap pendapatan atau cost-to-income ratio (CIR) turun menjadi 38%, dibandingkan 42,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan perbaikan tersebut, manajemen memperbarui panduan CIR sepanjang 2026 menjadi 37–39%, lebih rendah dari target sebelumnya sebesar 39–41%.
Meski laba meningkat, Ciptadana mencatat tekanan pada margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Pada kuartal III-2026, NIM Bank Mandiri mencapai 3,9%, turun 20 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya dan 60 basis poin secara tahunan. Tekanan tersebut menunjukkan adanya tantangan biaya pendanaan dan kemampuan bank mempertahankan margin dari aktivitas penyaluran kredit.
Namun, pendapatan nonbunga menjadi penyeimbang. Pada kuartal III, pendapatan nonbunga meningkat sekitar 13% YoY dan 10% secara kuartalan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, pendapatan nonbunga tumbuh sekitar 16% YoY, membantu menjaga profitabilitas di tengah tekanan margin bunga.
Dari sisi intermediasi, kredit konsolidasian Bank Mandiri mencapai sekitar Rp1.693,6 triliun pada September 2026, tumbuh 15,4% YoY. Pertumbuhan tersebut mulai melambat seiring normalisasi pembiayaan yang berkaitan dengan program pemerintah. Analis mencatat pertumbuhan kredit kepada pihak berelasi sepanjang tahun berjalan melambat dari 12,8% pada Juni menjadi 8% pada September. Sebaliknya, pertumbuhan kredit kepada pihak tidak berelasi meningkat dari 4,1% menjadi 7%.
Perbaikan komposisi juga terlihat pada segmen usaha kecil dan menengah atau SME yang tumbuh 11,2% YoY, serta kredit pemilikan rumah (KPR) yang meningkat 8,6%. Meski terjadi perlambatan, manajemen menaikkan panduan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 menjadi 9–11%, dari sebelumnya 7–9%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian tumbuh 17,5% YoY, dengan rasio dana murah atau CASA meningkat menjadi sekitar 71% dari 69% pada kuartal II-2026.
Peningkatan dana murah berpotensi membantu bank mengelola biaya pendanaan pada periode berikutnya.
Dari sisi kualitas aset, Ciptadana mencatat rasio loan at risk (LAR), yakni kredit dengan potensi risiko lebih tinggi, meningkat sekitar 100 basis poin secara kuartalan menjadi 6,8%. Peningkatan tersebut terutama berkaitan dengan restrukturisasi kredit yang masih berstatus lancar pada sejumlah BUMN konstruksi, termasuk PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).
Total eksposur yang disoroti Ciptadana mencapai sekitar Rp13–14 triliun, dengan sasaran pencadangan manajemen sebesar 10–15%. Namun, kenaikan LAR tidak berarti seluruh kredit tersebut telah menjadi kredit macet. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross Bank Mandiri masih stabil di 1%, sedangkan biaya kredit atau cost of credit (CoC) sembilan bulan pertama 2026 sekitar 0,6%.
Analis menilai kualitas aset masih dapat dikelola, tetapi perkembangan restrukturisasi kredit dan kebutuhan pencadangan tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Analis menurunkan target harga saham BMRI dari Rp6.150 menjadi Rp5.450, atau berkurang sekitar 11,4%. Penurunan target tersebut bukan karena revisi turun proyeksi laba. Analis Ciptadana menyatakan estimasi laba tetap dipertahankan, sementara valuasi disesuaikan dengan meningkatnya biaya ekuitas (cost of equity) dan kondisi pasar terbaru.
Proyeksi Ciptadana untuk BMRI
Indikator | Estimasi |
|---|---|
Rekomendasi | BUY |
Harga acuan riset | Rp3.850 |
Target harga sebelumnya | Rp6.150 |
Target harga terbaru | Rp5.450 |
Potensi kenaikan dari harga acuan | 41,6% |
Proyeksi laba bersih 2026 | Rp59,2 triliun |
Proyeksi laba bersih 2027 | Rp63,1 triliun |
Potensi dividend yield 2027 dengan payout lebih tinggi | 12,1–13% |
Sumber: Ciptadana Sekuritas Asia, 26 Oktober 2026. Target harga dan dividend yield merupakan estimasi, bukan jaminan hasil investasi.
Di sisi dividen, manajemen mengindikasikan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) berpotensi meningkat menjadi 75–80% pada 2027, lebih tinggi dari asumsi dasar Ciptadana sebesar 70%. Menurut Analis, kenaikan rasio pembayaran tersebut berpotensi menghasilkan dividend yield sekitar 12,1–13%, berdasarkan asumsi valuasi yang digunakan dalam analisis. Namun, realisasi dividen masih bergantung pada laba, kebutuhan modal, persetujuan korporasi, dan harga saham saat pengukuran.
Analis Ciptadana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi BUY untuk BMRI dengan target harga Rp5.450, meskipun target tersebut diturunkan dari Rp6.150. Pertumbuhan laba bersih 21% hingga September 2026 menunjukkan ketahanan kinerja Bank Mandiri yang didukung efisiensi operasional dan pendapatan nonbunga. Namun, investor perlu mencermati tiga faktor utama: tekanan margin bunga, peningkatan kredit berisiko, serta keberlanjutan kebijakan dividen.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Rp45,5 triliun, tumbuh sekitar 21% secara tahunan.
Rp5.450 per saham dengan rekomendasi BUY berdasarkan riset 26 Oktober 2026.
Ciptadana menyesuaikan asumsi valuasi dan biaya ekuitas, bukan menurunkan estimasi laba.
Ciptadana memperkirakan potensi 12,1–13% apabila rasio pembayaran dividen meningkat menjadi 75–80%, sesuai asumsi yang digunakan.
Tekanan margin bunga bersih, kenaikan biaya pendanaan, restrukturisasi kredit, serta perubahan kondisi pasar yang memengaruhi valuasi.