
Bareksa – Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia (8/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,75% ke 6.147 pada Rabu (7/10/2026), diiringi jual bersih (net sell) investor asing Rp871 miliar.
Pelemahan terjadi merata, dipimpin sektor energi (–1,56%), barang konsumsi nonprimer (–1,21%), dan bahan baku (–1,15%). Hanya sektor keuangan yang naik tipis 0,02%. BYAN, BBCA, dan DSSA menjadi penekan utama indeks, sementara rupiah menguat 18 poin ke Rp17.882/US$.
Dari global, bursa saham AS melemah karena kenaikan imbal hasil obligasi AS menekan valuasi dan memicu aksi ambil untung. Bursa Asia juga mayoritas turun, dipimpin Kospi yang melemah 1,98%. Untuk Kamis (8/10/2026), IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 6.119–6.216 dengan potensi melanjutkan koreksi.
Berikut rekomendasi saham hari ini berdasarkan riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia.
Harga Terakhir: Rp1.065 (7/10/2026)
Rekomendasi: Buy on Weakness
Harga Masuk: Rp1.040–1.060
Target Harga: Rp1.140–1.180
Batas Rugi (Stop Loss): di bawah Rp1.040
Analisis: Saham BBTN turun 1,84% dan sedang terkoreksi setelah rebound teknikal. Harga masih di bawah MA55 (rata-rata harga 55 hari), sehingga tren jangka menengah masih bearish. Namun, indikator stochastic berbalik naik dari area jenuh jual (oversold), membuka peluang rebound jangka pendek. Support berada di Rp1.040–1.050, dengan resistance di Rp1.100–1.140 dan Rp1.180.
Harga Terakhir: Rp835 (7/10/2026)
Rekomendasi: Speculative Buy
Harga Masuk: Rp835
Target Harga: Rp970
Batas Rugi (Stop Loss): Rp800
Analisis: Saham PNBN naik 0,6% dan bergerak mendatar (sideways) cenderung bearish di kisaran Rp830–850. Stochastic mulai berbalik naik dari area bawah, membuka peluang rebound teknikal. Support berada di Rp805–825, dengan resistance awal di Rp860 dan Rp885–900. Tren yang lebih luas masih perlu diwaspadai karena harga berada di bawah MA55.
Harga Terakhir: Rp5.150 (7/10/2026)
Rekomendasi: Buy if Breakout
Harga Masuk: Rp5.275
Target Harga: Rp6.000
Batas Rugi (Stop Loss): Rp5.025
Analisis: Saham PTRO naik 0,98% dan berkonsolidasi sideways di atas garis tren naik dan area MA55, sehingga struktur jangka menengah masih konstruktif. Support berada di Rp5.000–5.025, dengan resistance terdekat di Rp5.275–5.300. Penembusan area tersebut, idealnya disertai volume yang lebih besar, berpotensi memicu rebound ke Rp5.500–6.000.
Ringkasan Rekomendasi Saham Ciptadana 8/10/2026
Kode Saham | Rekomendasi | Harga Masuk | Target Harga | Batas Rugi (Stop Loss) |
|---|---|---|---|---|
BBTN | Buy on Weakness | Rp1.040–1.060 | Rp1.140–1.180 | Di bawah Rp1.040 |
PNBN | Speculative Buy | Rp835 | Rp970 | Rp800 |
PTRO | Buy if Breakout | Rp5.275 | Rp6.000 | Rp5.025 |
Sumber: Riset Ciptadana Sekuritas Asia, harga terakhir per 7/10/2026
Secara teknikal, IHSG terkoreksi setelah gagal melanjutkan rebound ke area 6.400–6.500 dan masih berada di bawah MA55, sehingga tren jangka menengah perlu diwaspadai. Di sisi lain, stochastic berbalik naik tajam dari area jenuh jual, membuka peluang aksi beli jangka pendek. Support utama berada di 6.000–5.973 dan 5.800, dengan resistance di 6.250–6.400. Untuk 8/10/2026, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 6.119–6.216 dengan kemungkinan ditutup lebih rendah.
Dari sisi makro, cadangan devisa Indonesia turun tipis ke US$146,3 miliar pada akhir September 2026 dari US$146,5 miliar pada Agustus, namun masih setara 5,3 bulan impor. Penurunan dipicu arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi, intervensi BI menjaga rupiah, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Analis menilai jika rupiah melemah melewati Rp18.000/US$, BI berpotensi mempertimbangkan kenaikan BI Rate 25 bps menjadi 6%.
Dari komoditas, kebutuhan bijih smelter nikel mencapai sekitar 320 juta ton per tahun, sementara target produksi nasional hanya 260–270 juta ton. Pemerintah juga mempertimbangkan moratorium smelter baru untuk produk nikel setengah jadi. Kebijakan ini dinilai positif bagi harga nikel dan produsen bijih, namun berdampak beragam bagi emiten smelter.
IHSG masih dalam fase koreksi. Asing mencatat jual bersih Rp871 miliar. Jika IHSG menembus di bawah 5.973, risiko koreksi lebih dalam ke area 5.800–5.600 terbuka.
Tren menengah dua saham masih bearish. BBTN dan PNBN masih berada di bawah MA55, sehingga peluang rebound bersifat jangka pendek dan memerlukan disiplin batas rugi.
Tekanan rupiah dan potensi kenaikan suku bunga. Jika rupiah melemah melewati Rp18.000/US$, kenaikan BI Rate yang diperkirakan Ciptadana berpotensi menekan sentimen pasar saham, termasuk saham perbankan seperti BBTN dan PNBN.
Riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia menyoroti BBTN dengan strategi buy on weakness, PNBN dengan speculative buy, serta PTRO dengan buy if breakout pada 8 Oktober 2026. Mengingat IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dan tren menengah BBTN dan PNBN masih bearish, disiplin menerapkan batas rugi menjadi kunci pengelolaan risiko.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Buy on weakness berarti membeli saat harga turun ke area support. Speculative buy adalah pembelian dengan risiko lebih tinggi untuk memanfaatkan peluang rebound jangka pendek. Buy if breakout berarti membeli hanya jika harga berhasil menembus level resistance tertentu.
Ciptadana menilai IHSG sedang terkoreksi setelah gagal melanjutkan rebound ke 6.400–6.500 dan masih berada di bawah MA55, diiringi jual bersih asing Rp871 miliar.
MA55 adalah rata-rata harga penutupan dalam 55 hari perdagangan terakhir. Harga di bawah MA55 umumnya menandakan tren jangka menengah masih melemah.