
Bareksa - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai memasuki fase pertumbuhan baru (Fueling the Next Phase) seiring meningkatnya produksi migas, bertambahnya cadangan energi, serta prospek lonjakan kontribusi laba dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Berdasarkan prospek tersebut, Ciptadana Sekuritas Asia memulai kembali cakupan risetnya (29/6) terhadap MEDC dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp1.800 per saham. Nilai tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 69,8% dibanding harga penutupan saham saat riset diterbitkan.
Di tengah normalisasi harga minyak Brent ke bawah US$80 per barel setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, analis tetap optimistis terhadap prospek jangka menengah MEDC.
Asumsi harga minyak Brent dipertahankan di rata-rata US$80 per barel pada 2026, didukung proyeksi OPEC yang memperkirakan permintaan minyak global terus meningkat hingga 2050, sementara pertumbuhan produksi minyak serpih Amerika Serikat diperkirakan mulai melambat.
Menurut analis, salah satu pendorong utama fase pertumbuhan baru MEDC berasal dari ekspansi aset migas. Akuisisi Corridor PSC meningkatkan kepemilikan MEDC dari 46% menjadi 70%, menambah sekitar 25 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) dan 58 juta barel setara minyak (mmboe) cadangan terbukti dan terduga (2P).
Selain itu, MEDC memperoleh hak operator sekaligus 45% partisipasi di Blok Sakakemang, yang menambah sekitar 26 mmboe cadangan dengan target produksi gas perdana pada kuartal III 2027 melalui infrastruktur Corridor yang telah tersedia.
Di luar Indonesia, MEDC juga mengakuisisi 50% hak operator pada blok PM304 di Malaysia dengan produksi sekitar 7.000 barel minyak per hari. Sementara itu, proyek Senoro Phase 3 ditargetkan mempertahankan produksi sekitar 110 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd) hingga 2031.
Kontribusi laba dari AMMN diperkirakan menjadi katalis utama pertumbuhan MEDC pada 2026. AMMN menargetkan produksi 485 juta pon tembaga dan 579 ribu ons emas pada tahun ini.
Seiring meningkatnya produksi logam dan masih tingginya harga komoditas, konsensus analis memperkirakan laba bersih AMMN dapat melonjak sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut diperkirakan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan asosiasi dan laba bersih MEDC.
Kinerja MEDC pada awal 2026 menunjukkan pemulihan yang kuat. Perseroan membukukan pendapatan US$654 juta pada kuartal I 2026, naik 19,2% secara tahunan, didukung produksi 169 mboepd dan kenaikan harga jual minyak maupun gas.
EBITDA meningkat menjadi US$351 juta, sedangkan laba bersih melonjak menjadi US$67 juta, atau naik 282,3% YoY, terutama karena membaiknya kontribusi laba dari perusahaan asosiasi, khususnya AMMN.
Untuk sepanjang 2026, manajemen menargetkan produksi 165-170 mboepd, penjualan listrik 4.550 GWh, biaya produksi di bawah US$10 per barel setara minyak, serta belanja modal sekitar US$400-430 juta.
Analis menilai MEDC masih menawarkan valuasi yang menarik dibandingkan prospek pertumbuhan laba dan produksinya.
Target harga Rp1.800 diperoleh menggunakan metode Sum of The Parts (SOTP) dengan asumsi EV/EBITDA 2027 sebesar 4,3 kali. Menurut analis, kombinasi pertumbuhan produksi, portofolio gas berbiaya rendah, optimalisasi aset, serta pemulihan kontribusi AMMN menjadi alasan utama mempertahankan rekomendasi Buy.
Ringkasan Rekomendasi
Keterangan | Nilai |
|---|---|
Rekomendasi | Buy |
Target Harga | Rp1.800 |
Potensi Kenaikan | 69,8% |
Asumsi Brent 2026 | US$80/barel |
Target Produksi 2026 | 165-170 mboepd |
Capex 2026 | US$400-430 juta |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
MEDC dinilai memasuki fase pertumbuhan baru (Fueling the Next Phase).
Ciptadana memulai kembali cakupan riset dengan rekomendasi Buy.
Target harga MEDC dipatok Rp1.800 per saham.
Akuisisi Corridor PSC dan Sakakemang memperkuat pertumbuhan produksi.
Pemulihan laba AMMN diperkirakan menjadi katalis utama kinerja MEDC pada 2026.
Ciptadana mempertahankan asumsi harga minyak Brent sebesar US$80 per barel.
Analis Ciptadana menilai MEDC berada pada posisi yang lebih kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya melalui peningkatan produksi migas, ekspansi cadangan, dan diversifikasi portofolio energi. Di sisi lain, pemulihan kinerja AMMN diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba perseroan pada 2026. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko fluktuasi harga minyak, kenaikan biaya operasional, gangguan proyek, serta perubahan kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Karena MEDC dinilai memasuki fase pertumbuhan baru dengan prospek peningkatan produksi, kontribusi AMMN, dan valuasi yang masih menarik.
Analis Ciptadana menetapkan target harga Rp1.800 per saham.
Akuisisi Corridor PSC, pengembangan Sakakemang, peningkatan produksi Senoro, dan pemulihan laba AMMN.
Analis Ciptadana mempertahankan asumsi harga Brent rata-rata US$80 per barel sepanjang 2026.
Penurunan harga minyak, gangguan operasional AMMN, inflasi biaya, keterlambatan proyek, dan lambatnya perpanjangan atau akuisisi blok migas.