Kinerja Perbankan hingga Mei 2026 Masih Moncer, Rekomendasi Overweight, Cermati Saham Ini

Abdul Malik • 29 Jun 2026

an image
Ilustrasi saham-saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Shutterstock)

Ciptadana Sekuritas mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perbankan. Laba bank tumbuh 9,7% hingga Mei 2026, meski kenaikan BI Rate diperkirakan menekan margin bunga.

Bareksa - Ciptadana Sekuritas Asia dalam risetnya (26/6) mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perbankan setelah kinerja emiten bank hingga Mei 2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Meski demikian, tekanan terhadap margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) diperkirakan meningkat pada paruh kedua tahun ini seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan likuiditas yang semakin ketat.

Laba bersih agregat bank-bank dalam cakupan riset tumbuh 9,7% secara tahunan (YoY) hingga Mei 2026, lebih tinggi dibanding pertumbuhan 8,9% pada empat bulan pertama tahun ini. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan laba Mei sebesar 13% YoY.

Bank Mandiri (BMRI) menjadi bank besar dengan kinerja terbaik setelah laba bersih naik 19% YoY, sedangkan Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatat pertumbuhan laba tertinggi di kelompok bank menengah mencapai 54% YoY, melampaui ekspektasi analis.

BI Rate Diperkirakan Naik ke 6,25%

Ciptadana merevisi proyeksi BI Rate menjadi 6,25% pada akhir 2026, atau naik total 150 basis poin sepanjang tahun.

Kenaikan suku bunga diperkirakan meningkatkan Cost of Fund (CoF) dan menekan margin bunga bersih perbankan mulai kuartal III 2026.

Secara agregat, NIM perbankan turun menjadi 5% hingga Mei 2026 dari 5,3% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan dipicu meningkatnya biaya dana serta persaingan penyaluran kredit.

Pertumbuhan Kredit Masih Kuat

Di tengah tekanan margin, pertumbuhan kredit masih menunjukkan tren positif.

Kredit perbankan nasional tumbuh 10,8% YoY hingga Mei 2026, berada di batas atas target Bank Indonesia 8%-12%.

Sementara itu, bank-bank yang berada dalam cakupan riset Ciptadana membukukan pertumbuhan kredit rata-rata 14,4% YoY, dipimpin:

Bank
Pertumbuhan Kredit

BBNI

25%

BMRI

21%

BRIS

15%

BBRI

12%

BBTN

10%

BBCA

5%

BNGA

4%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Menurut analis, perlambatan pertumbuhan kredit pada BBCA dan BNGA mencerminkan sikap yang lebih konservatif terhadap risiko, terutama pada segmen konsumer.

Risiko Mulai Meningkat

Meski kualitas aset masih relatif terjaga, analis memperkirakan biaya kredit (Cost of Credit/CoC) akan meningkat dalam dua tahun ke depan.

Hal tersebut disebabkan rasio pencadangan terhadap total kredit (loan loss coverage) terus menurun menjadi 3,7% pada Mei 2026, dibanding 4,2% setahun sebelumnya dan 7,5% pada puncaknya pada 2022.

Selain itu, pemerintah mulai mengurangi penempatan dana SAL di bank-bank BUMN sehingga likuiditas diperkirakan semakin ketat. Karena itu, Ciptadana memangkas estimasi laba sektor perbankan 2026 sekitar 2%, terutama akibat proyeksi tekanan terhadap NIM.

Saham Bank Pilihan

Meski prospek margin menurun, valuasi sektor perbankan dinilai masih menarik karena diperdagangkan sekitar 2 standar deviasi di bawah rata-rata historis.

Rekomendasi Saham

Saham
Rating
Target Harga
Potensi Kenaikan

BBTN

Buy

Rp1.925

76%

BRIS

Buy

Rp2.750

59%

BMRI

Buy

Rp6.150

58%

BBNI

Buy

Rp4.975

54%

BBCA

Buy

Rp9.200

51%

BBRI

Buy

Rp4.100

46%

BTPS

Buy

Rp1.400

42%

BNGA

Buy

Rp2.040

32%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Key Takeaways

  • Ciptadana mempertahankan rating Overweight sektor perbankan.

  • Laba bank tumbuh 9,7% YoY hingga Mei 2026.

  • BMRI dan BBTN mencatat kinerja laba terbaik.

  • BI Rate diproyeksikan naik menjadi 6,25% pada akhir 2026.

  • Tekanan Cost of Fund diperkirakan meningkat mulai kuartal III.

  • Seluruh bank dalam cakupan riset masih direkomendasikan Buy.

Kesimpulan

Prospek sektor perbankan Indonesia masih dinilai positif berkat pertumbuhan kredit dan laba yang tetap solid. Namun investor perlu mencermati potensi tekanan terhadap margin bunga, kenaikan biaya dana, dan pengetatan likuiditas pada semester II 2026. Di tengah kondisi tersebut, analis Ciptadana tetap melihat valuasi saham perbankan masih menarik untuk dicermati dalam jangka menengah hingga panjang.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Mengapa Ciptadana Sekuritas masih Overweight sektor perbankan?

Karena pertumbuhan laba dan kredit masih solid serta valuasi saham perbankan dinilai murah dibanding rata-rata historis.

Mengapa NIM diperkirakan turun?

Karena kenaikan BI Rate dan Cost of Fund meningkatkan biaya dana bank.

Bank mana yang mencatat pertumbuhan laba tertinggi?

BMRI memimpin bank besar dengan pertumbuhan laba 19% YoY, sedangkan BBTN tumbuh 54% YoY di kelompok bank menengah.

Apa risiko terbesar sektor perbankan?

Tekanan margin bunga, kenaikan biaya kredit, pelemahan kualitas aset, volatilitas rupiah, dan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Saham bank apa yang paling menarik menurut analis Ciptadana Sekuritas?

BBTN memiliki potensi kenaikan terbesar berdasarkan target harga, disusul BRIS, BMRI, BBNI, BBCA, dan BBRI.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.