
Bareksa — UOB Kay Hian dalam riset strategi bertajuk "Crisis-level Valuations Present Attractive Risk-Reward" yang diterbitkan 26 Juni 2026 menyatakan bahwa valuasi IHSG kini berada di level krisis, dengan forward P/E di 9,8x, terendah sejak pandemi COVID-19 dan mendekati level Krisis Keuangan Global 2008.
IHSG juga diperdagangkan di diskon signifikan terhadap rata-rata historis 15 tahun Indonesia sebesar 15,2x, serta di bawah rata-rata kawasan Asia Tenggara.
Meski kondisi pasar masih tertekan, UOB Kay Hian menilai profil risk-reward investasi di pasar saham Indonesia semakin menarik. Analis menetapkan target IHSG akhir 2026 di level 7.500, didasarkan pada 12x P/E proyeksi 2026 — setara rata-rata tiga tahun — dengan asumsi pertumbuhan EPS sebesar 8,3%.
UOB Kay Hian membangun argumentasi investasinya di atas tiga pilar utama. Pertama, valuasi yang sudah mencerminkan skenario terburuk — big banks seperti BBCA dan BBRI diperdagangkan mendekati level price-to-book terendah sejak krisis 2008, sementara BMRI dan BBNI menawarkan dividend yield 6–10%.
Kedua, katalis yang masih bisa mendorong re-rating dari dua arah: eksternal (kepastian status MSCI EM, easing geopolitik) dan internal (perbaikan kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, pemulihan likuiditas ke sektor riil). UOB Kay Hian mencatat bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets telah turun ke sekitar 0,4% dari puncak 3,0% satu dekade lalu — salah satu penurunan terdalam di antara negara EM Asia.
Ketiga, pemosisian selektif — analis merekomendasikan akumulasi bertahap (selective accumulation) dengan portofolio yang menyeimbangkan antara saham perbankan, komoditas, dan defensif untuk memberikan ketahanan terhadap ketidakpastian makro dan kebijakan.
Perbandingan Valuasi Pasar Saham Asia
Pasar | P/E Forward Saat Ini | Rata-rata 15 Tahun | Diskon/Premium |
|---|---|---|---|
Indonesia | 9,8x | 15,2x | −36% |
Malaysia | 14,9x | 15,3x | −3% |
Thailand | 16,1x | 15,7x | +3% |
Singapura | 15,9x | 13,3x | +20% |
Filipina | 9,4x | 15,7x | −40% |
AS | 21,8x | 18,1x | +20% |
Sumber: Bloomberg, UOB Kay Hian, 26 Juni 2026
UOB Kay Hian mengidentifikasi lima risiko kunci yang perlu dicermati: pelemahan rupiah lebih lanjut yang memaksa BI Rate naik lebih tinggi, penurunan rating sovereign Indonesia, fiscal slippage pada subsidi energi dan pangan, kenaikan harga minyak, dan perkembangan negatif dari MSCI.
Dalam konteks risiko tersebut, analis merekomendasikan portofolio yang terdiversifikasi dengan pemilihan bottom-up yang selektif.
Top Picks UOB Kay Hian — Target Harga Akhir 2026
Emiten | Kode | Rekomendasi | Harga (24/6) | Target | Potensi Naik |
|---|---|---|---|---|---|
Amman Mineral | AMMN | Buy | Rp3.460 | Rp7.000 | +102% |
Astra International | ASII | Buy | Rp4.660 | Rp7.100 | +52% |
Bank Central Asia | BBCA | Buy | Rp5.950 | Rp8.150 | +37% |
Bank Mandiri | BMRI | Hold | Rp3.990 | Rp5.150 | +29% |
Buana Lintas Lautan | BULL | Buy | Rp352 | Rp750 | +113% |
Bumi Resources Minerals | BRMS | Buy | Rp555 | Rp1.330 | +140% |
Cisarua Mountain Dairy | CMRY | Buy | Rp4.430 | Rp6.400 | +44% |
Darma Henwa | DEWA | Buy | Rp324 | Rp1.375 | +324% |
Japfa Comfeed | JPFA | Buy | Rp1.875 | Rp3.330 | +78% |
Merdeka Copper Gold | MDKA | Buy | Rp2.730 | Rp3.900 | +43% |
Telkom Indonesia | TLKM | Buy | Rp2.520 | Rp3.600 | +43% |
Sumber: UOB Kay Hian, 26 Juni 2026. Harga per 24 Juni 2026.
Sektor yang mendapat bobot Overweight dari UOB Kay Hian adalah Healthcare, Oil & Gas, Plantation, dan Property — mencerminkan preferensi terhadap sektor dengan earnings visibility yang lebih tinggi dan eksposur lebih rendah terhadap risiko intervensi pemerintah. Sektor perbankan, konsumer, tambang, semen, telekomunikasi, dan otomotif mendapat bobot Market Weight.
UOB Kay Hian menilai pasar saham Indonesia sudah priced for the worst dengan valuasi P/E forward 9,8x yang berada di level krisis — memberikan margin of safety yang signifikan bagi investor dengan cakrawala jangka menengah. Target IHSG akhir 2026 di 7.500 mencerminkan potensi kenaikan sekitar 25% dari level saat ini, dengan katalis utama dari perbaikan kredibilitas kebijakan, kepastian MSCI, dan pemulihan likuiditas ke sektor riil. Namun analis menekankan bahwa pemulihan berkelanjutan tetap memerlukan konsistensi eksekusi kebijakan dan stabilitas makro.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
P/E forward IHSG saat ini berada di 9,8x — terendah sejak pandemi COVID-19 pada 2020 dan mendekati level Krisis Keuangan Global 2008. Angka ini juga mencerminkan diskon sekitar 36% terhadap rata-rata historis 15 tahun Indonesia di 15,2x, serta di bawah hampir semua pasar saham di kawasan Asia Tenggara.
Target IHSG 7.500 ditetapkan UOB Kay Hian berdasarkan valuasi 12x P/E proyeksi 2026 — setara rata-rata tiga tahun — dengan asumsi pertumbuhan EPS 8,3%. Dari level IHSG saat ini di sekitar 6.000, target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 25% hingga akhir tahun 2026.
UOB Kay Hian mengidentifikasi dua kelompok katalis: eksternal meliputi kepastian status MSCI Emerging Markets dan easing risiko geopolitik global; internal meliputi perbaikan kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter Indonesia, serta pemulihan aliran likuiditas ke sektor riil yang mendorong pertumbuhan kredit dan konsumsi.
BBCA dipilih karena memiliki profil paling defensif di antara bank-bank besar Indonesia — fundamental yang kuat, kualitas aset yang terjaga, dan likuiditas yang lebih baik dibanding peers. Di tengah tekanan NIM dari kenaikan BI Rate dan potensi perlambatan kredit di semester kedua 2026, BBCA dinilai paling tahan dengan target harga Rp8.150 per saham.
Tidak. Seluruh rating, rekomendasi, dan target harga dalam artikel ini sepenuhnya bersumber dari riset UOB Kay Hian (26/6/2026) dan tidak merupakan rekomendasi investasi dari Bareksa. Investor disarankan melakukan analisis mandiri dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.