
Bareksa - PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) tetap memperoleh rekomendasi BUY dari analis Ciptadana Sekuritas Asia meski target harga diturunkan menjadi Rp1.980 per saham dari Rp2.300 per saham, berdasarkan riset tertanggal 12 Juni 2026. Penyesuaian target harga dilakukan setelah analis memangkas proyeksi laba 2026–2027 sebesar 21–23% akibat potensi kenaikan biaya pupuk.
Sebanyak 6–10% pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) ditargetkan TAPG pada 2026. Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia, implementasi program biodiesel B50 pada semester II 2026 diperkirakan mendukung permintaan domestik minyak sawit mentah (CPO) dan membantu menyerap tambahan produksi nasional.
TAPG menilai dampak langsung rencana pengawasan ekspor komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) relatif terbatas karena perseroan tidak melakukan aktivitas ekspor. Kekhawatiran pasar terkait DSI terjadi bersamaan dengan prospek pertumbuhan produksi dan peningkatan permintaan CPO dari B50, mencerminkan faktor fundamental yang masih menjadi perhatian analis.
Belanja modal TAPG pada 2026 diperkirakan mencapai Rp920 miliar, lebih tinggi dibandingkan kisaran normal Rp650–750 miliar per tahun. Dana tersebut terutama digunakan untuk pembangunan pabrik kelapa sawit berkapasitas 45 ton per jam yang ditargetkan selesai pada akhir 2027 atau awal 2028.
Posisi kas yang kuat juga mendukung kebijakan dividen perseroan. Pada tahun buku 2025, TAPG membagikan dividen Rp180 per saham dengan payout ratio lebih dari 97%, yang menurut riset Ciptadana mencerminkan estimasi dividend yield sekitar 12% pada saat pengumuman dividen.
Analis menggunakan target price earning ratio (P/E) 9,7 kali dalam penetapan target harga terbaru. Investor perlu mencermati risiko kenaikan biaya pupuk, volatilitas harga CPO, dan perkembangan kebijakan sektor perkebunan.
Ringkasan Data TAPG
Indikator | Nilai |
|---|---|
Rekomendasi Ciptadana | BUY |
Target Harga Baru | Rp1.980 per saham |
Target Harga Sebelumnya | Rp2.300 per saham |
Revisi Laba 2026–2027 | Turun 21–23% |
Target Pertumbuhan TBS 2026 | 6–10% |
Asumsi Pertumbuhan TBS Ciptadana | 8% |
Belanja Modal 2026 | Rp920 miliar |
Belanja Modal Historis | Rp650–750 miliar |
Dividen Tahun Buku 2025 | Rp180 per saham |
Payout Ratio | >97% |
Estimasi Dividend Yield* | Sekitar 12% |
Replanting Tahunan | Sekitar 4.000 hektare |
Umur Rata-rata Tanaman | 14,6 tahun |
Kenaikan Harga Pupuk 2027 | 20–30% |
Target Penyelesaian Pabrik Baru | Akhir 2027–awal 2028 |
*Pada saat pengumuman dividen, berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia.
📌 Target harga TAPG diturunkan menjadi Rp1.980 dari Rp2.300 per saham.
📌 Rekomendasi BUY tetap dipertahankan oleh Ciptadana Sekuritas Asia.
📌 Produksi TBS 2026 ditargetkan tumbuh 6–10%.
📌 Implementasi B50 dinilai mendukung permintaan domestik CPO.
📌 Belanja modal 2026 meningkat menjadi Rp920 miliar.
📌 Proyeksi laba 2026–2027 dipangkas 21–23% akibat potensi kenaikan biaya pupuk.
📌 Estimasi dividend yield saat pengumuman dividen sekitar 12%.
Triputra Agro Persada masih didukung prospek pertumbuhan produksi dan potensi peningkatan permintaan CPO dari implementasi B50 pada semester II 2026. Perseroan juga mempertahankan kebijakan dividen yang tinggi dengan dukungan posisi kas yang kuat.
Di sisi lain, kenaikan biaya pupuk dan ketidakjelasan implementasi DSI tetap menjadi faktor yang perlu dicermati. Investor juga perlu memperhatikan risiko perubahan harga CPO, biaya produksi, serta perkembangan kebijakan sektor perkebunan.
1. Apa yang menjadi pendorong utama prospek TAPG pada 2026?
Implementasi B50 dan target pertumbuhan produksi TBS 6–10% menjadi faktor utama yang disoroti dalam riset Ciptadana Sekuritas Asia.
2. Berapa belanja modal TAPG pada 2026?
Belanja modal TAPG diproyeksikan mencapai sekitar Rp920 miliar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis Rp650–750 miliar per tahun.
3. Mengapa Ciptadana menurunkan target harga TAPG?
Analis Ciptadana memangkas proyeksi laba 2026–2027 akibat potensi kenaikan biaya pupuk, meskipun tetap mempertahankan pandangan positif terhadap fundamental perseroan.
4. Apa risiko utama yang perlu diperhatikan investor TAPG?
Risiko yang disebutkan meliputi kenaikan biaya pupuk, perubahan harga CPO, serta perkembangan kebijakan pemerintah terkait tata kelola industri sawit.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.