
Bareksa - Ketika pasar global masih dibayangi ketidakpastian suku bunga dan risiko geopolitik, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) justru melihat peluang investasi yang menarik di kawasan Asia Pasifik. Menurut MAMI, kawasan ini memiliki fondasi pertumbuhan yang lebih kuat dibanding banyak pasar lain berkat dukungan sektor kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan belanja modal perusahaan teknologi global.
Dalam ulasan pasar Seeking Alpha edisi Juni 2026, Caroline Rusli, CFA, Senior Portfolio Manager Equity MAMI, menjelaskan bahwa ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Jika pada akhir 2025 pasar memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR) sebesar 50 basis poin pada 2026, kini ekspektasi berbalik menjadi potensi kenaikan sekitar 20 basis poin.
Perubahan serupa juga terjadi di Indonesia. Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate 50 basis poin pada Mei 2026 dan kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin pada awal Juni. Menurut Caroline, kombinasi pengetatan moneter, kenaikan imbal hasil obligasi, pelemahan rupiah, dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal membuat minat investor terhadap aset berisiko cenderung menurun.
Meski demikian, MAMI menilai pasar saham Indonesia sebenarnya sudah berada pada level valuasi yang menarik. Tantangannya, investor asing masih menunggu katalis yang lebih kuat sebelum kembali masuk secara agresif. Karena itu, pendekatan selektif melalui pemilihan saham dan sektor berbasis fundamental dinilai menjadi strategi yang lebih relevan saat ini.
Berbeda dengan Indonesia yang masih mencari katalis jangka pendek, Asia Utara dinilai memiliki dukungan pertumbuhan yang lebih jelas. Kawasan tersebut menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari perkembangan AI dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital global.
Perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft terus meningkatkan belanja modal untuk membangun pusat data, kapasitas komputasi, dan infrastruktur AI. Dampaknya mengalir ke rantai pasok Asia, mulai dari produsen semikonduktor, komponen elektronik, hingga material teknologi.
Menurut MAMI, kekuatan Asia saat ini bukan sekadar karena valuasi yang relatif menarik, tetapi juga karena didukung pertumbuhan laba perusahaan yang memiliki katalis struktural jangka panjang.
Ringkasan Pandangan MAMI
Faktor | Pandangan MAMI |
|---|---|
Fed Funds Rate 2026 | Ekspektasi berubah dari turun 50 bps menjadi naik 20 bps |
BI Rate | Naik 50 bps pada Mei dan 25 bps pada Juni 2026 |
Pasar Indonesia | Valuasi menarik, namun masih minim katalis jangka pendek |
Asia Utara | Diuntungkan oleh AI, semikonduktor, dan teknologi |
Belanja Modal Teknologi | Terus meningkat dan menopang pertumbuhan laba |
China | Berpotensi mendapat re-rating karena valuasi relatif tertinggal |
Risiko Utama | Suku bunga, geopolitik, dan volatilitas pasar |
Sumber: MAMI
MAMI juga mencermati pergerakan dana asing ke Asia yang masih cukup volatil. Pada akhir 2025, arus dana asing ke pasar negara berkembang Asia sempat mencapai sekitar US$229 miliar. Angka tersebut kemudian turun tajam menjadi sekitar US$64 miliar sebelum pulih ke kisaran US$113 miliar.
Meski arus dana belum kembali ke puncaknya, pasar Asia tetap mampu mencatat kinerja yang relatif kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan pasar tidak lagi hanya ditopang oleh likuiditas global, tetapi juga oleh prospek fundamental perusahaan yang lebih baik.
Pergerakan Arus Dana Asing ke Asia
Periode | Nilai |
|---|---|
Puncak Akhir 2025 | US$229 miliar |
Titik Terendah | US$64 miliar |
Posisi Terbaru | US$113 miliar |
Sumber: MAMI
MAMI menilai strategi Asia Pasifik cocok dijadikan alokasi inti (core allocation) dalam portofolio investasi luar negeri karena memberikan eksposur ke berbagai sumber pertumbuhan ekonomi di kawasan.
Sementara itu, strategi yang lebih berfokus pada China dapat menjadi alokasi pelengkap (satellite allocation) bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi. Meski ekonomi China masih menghadapi tantangan, negara tersebut tetap memiliki posisi penting dalam rantai pasok manufaktur global dan berpotensi mendapatkan dorongan sentimen apabila terjadi stabilisasi pertumbuhan ekonomi.
Di tengah perubahan arah kebijakan moneter global dan ketidakpastian geopolitik, MAMI menilai Asia Pasifik masih menawarkan peluang investasi yang menarik. Dukungan dari siklus AI, industri semikonduktor, serta peningkatan belanja modal perusahaan teknologi global menjadi faktor utama yang membedakan kawasan ini dari banyak pasar lainnya.
Namun investor tetap perlu mencermati risiko kenaikan suku bunga yang lebih agresif, konflik geopolitik, serta potensi koreksi jangka pendek pada pasar yang sudah mengalami kenaikan signifikan.
1. Mengapa Manulife memilih Asia Pasifik?
Karena kawasan ini memiliki katalis pertumbuhan laba yang didukung AI, semikonduktor, dan belanja modal teknologi global.
2. Apakah pasar saham Indonesia masih menarik?
Ya, dari sisi valuasi dinilai menarik. Namun investor asing masih menunggu katalis yang lebih kuat.
3. Mengapa Asia Utara menjadi sorotan?
Karena kawasan tersebut paling diuntungkan dari pertumbuhan industri AI dan rantai pasok semikonduktor global.
4. Apa risiko terbesar bagi investor saat ini?
Kenaikan suku bunga global yang lebih agresif, ketegangan geopolitik, dan volatilitas pasar saham.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.