
Bareksa - Pemerintah menegaskan arah kebijakan fiskal 2027 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Paripurna DPR RI (9/6/2026) mengenai Tanggapan Pemerintah atas Pandangan Fraksi-Fraksi DPR RI terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027. Kebijakan tersebut menjadi landasan penyusunan RAPBN 2027.
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2027 berada pada kisaran 5,8%-6,5%. Inflasi ditargetkan pada rentang 1,5%-3,5%, nilai tukar rupiah diperkirakan Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, dan suku bunga SBN tenor 10 tahun pada kisaran 6,5%-7,3%. Defisit APBN dirancang berada pada rentang 1,8%-2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah menyatakan pencapaian target tersebut akan didukung melalui sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. "Kami optimistis perekonomian Indonesia akan mampu berputar lebih cepat dan tumbuh lebih tinggi sebagai fondasi akselerasi peningkatan kesejahteraan rakyat," ujar Menteri Keuangan dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan. Pemerintah juga akan mengakselerasi investasi bernilai tambah tinggi yang berorientasi ekspor dan mengoptimalkan peran Danantara pada sektor strategis.
Penguatan daya beli masyarakat menjadi salah satu fokus utama kebijakan fiskal tahun depan. Pemerintah akan menjaga efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga, pengendalian inflasi, dan perluasan kesempatan kerja. Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, dan Sekolah Rakyat akan terus diperkuat.
Selain mendorong konsumsi domestik, pemerintah juga memperkuat transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan industrialisasi. Pendapatan negara akan dioptimalkan melalui reformasi dan digitalisasi perpajakan serta perluasan basis penerimaan. Di sisi belanja, pemerintah menargetkan pengeluaran yang lebih efisien, produktif, dan tepat sasaran.
Pemerintah menilai APBN 2027 akan tetap berperan sebagai instrumen menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. Berbagai skema pembiayaan inovatif akan dikembangkan melalui sinergi dengan Danantara, Special Mission Vehicles (SMV), Badan Layanan Umum (BLU), dan Sovereign Wealth Fund. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Tabel Ringkasan Asumsi dan Target Fiskal 2027
Indikator | Target/Kisaran |
|---|---|
Pertumbuhan Ekonomi | 5,8%-6,5% |
Inflasi | 1,5%-3,5% |
Nilai Tukar Rupiah | Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS |
SBN Tenor 10 Tahun | 6,5%-7,3% |
Harga Minyak ICP | US$70-US$95 per barel |
Defisit APBN | 1,8%-2,4% PDB |
Sumber: Kemenkeu
Pertumbuhan ekonomi 2027: 5,8%-6,5%
Inflasi 2027: 1,5%-3,5%
Nilai tukar rupiah: Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS
SBN tenor 10 tahun: 6,5%-7,3%
Harga minyak ICP: US$70-US$95 per barel
Defisit APBN: 1,8%-2,4% PDB
Fokus kebijakan: daya beli masyarakat, investasi, dan transformasi ekonomi
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada 2027 melalui kombinasi penguatan daya beli masyarakat, investasi, dan stabilitas ekonomi makro. Sasaran tersebut menjadi dasar penyusunan RAPBN 2027 dan arah kebijakan fiskal tahun depan.
Selain menjaga kesehatan APBN, pemerintah juga menempatkan perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja, dan transformasi ekonomi sebagai prioritas utama. Kebijakan tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
1. Apa target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027?
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,8%-6,5%.
2. Mengapa daya beli masyarakat menjadi fokus kebijakan fiskal 2027?
Karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
3. Berapa target inflasi Indonesia pada 2027?
Pemerintah menargetkan inflasi berada pada kisaran 1,5%-3,5%.
4. Berapa asumsi nilai tukar rupiah dalam KEM-PPKF 2027?
Pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah berada pada rentang Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS.
5. Bagaimana pemerintah mendorong investasi pada 2027?
Melalui hilirisasi, industrialisasi, investasi bernilai tambah tinggi berorientasi ekspor, dan penguatan sektor strategis.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.