BI Rate Naik Jadi 5,5%, Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah di Tengah Gejolak Global

Abdul Malik • 09 Jun 2026

an image
Logo Bank Indonesia di pagar gedung Bank Indonesia, Jakarta (shutterstock)

BI Rate naik menjadi 5,5% untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah gejolak global. Reksadana pasar uang kembali menjadi instrumen yang dicermati investor.

Bareksa - Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada 9 Juni 2026. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,5% dan Lending Facility menjadi 6,25%. Berdasarkan siaran pers resmi BI, langkah ini ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, menjaga inflasi tetap dalam sasaran, serta meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.

Keputusan tersebut diambil setelah BI mencermati pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan perkiraan sejak RDG Mei 2026. Menurut BI, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi gejolak global akibat konflik di Timur Tengah, tingginya permintaan valuta asing domestik, serta keluarnya sebagian investasi portofolio asing dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut mendorong BI memperkuat respons kebijakan moneter.

Selain menaikkan BI Rate, BI meningkatkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan. Bank sentral juga menurunkan biaya swap lindung nilai bagi investor asing 10% dan membuka kembali lelang repo tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan guna menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.

BI Rate Naik Jadi 5,5%, Reksadana Pasar Uang Kembali Dicermati

Kenaikan suku bunga acuan umumnya meningkatkan daya tarik instrumen pasar uang berbasis rupiah, termasuk deposito dan surat berharga jangka pendek. Instrumen tersebut merupakan aset utama dalam portofolio reksadana pasar uang. Karena itu, reksadana pasar uang kembali menjadi salah satu instrumen yang dicermati investor di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Di tengah volatilitas pasar dan pergerakan nilai tukar yang fluktuatif, investor tidak hanya mempertimbangkan potensi pertumbuhan aset, tetapi juga menjaga likuiditas portofolio. Reksadana pasar uang menjadi salah satu alternatif yang sering digunakan untuk tujuan tersebut karena mayoritas berinvestasi pada instrumen berjangka pendek dengan tingkat volatilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen pasar modal lainnya.

Berdasarkan data per 8 Juni 2026, sejumlah reksadana pasar uang mencatat kinerja positif dalam satu tahun terakhir. Data ini dapat menjadi referensi bagi investor untuk memahami perkembangan instrumen pasar uang di tengah perubahan arah kebijakan suku bunga. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan horizon waktu masing-masing investor.

Tabel Ringkasan Reksadana Pasar Uang

No.
Produk Reksadana
Return 1 Thn

1

Insight Money

5,48%

2

KIM Money Market Fund

4,97%

3

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

4,78%

4

STAR Money Market Kelas Utama

4,77%

5

TRIM Kas 2 Kelas A

4,59%

Sumber: Bareksa, kinerja per 8/6/2026

Kesimpulan

Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate menjadi 5,5% sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah meningkatnya gejolak global. Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran dan meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing ke Indonesia.

Di tengah perubahan kebijakan suku bunga tersebut, instrumen pasar uang berbasis rupiah kembali menjadi perhatian investor. Reksa dana pasar uang dapat menjadi salah satu alternatif yang dicermati untuk menjaga likuiditas dan diversifikasi portofolio, dengan tetap mempertimbangkan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

FAQ

1. Mengapa BI Rate naik menjadi 5,5%?
Bank Indonesia menaikkan BI Rate untuk memperkuat stabilisasi rupiah, menjaga inflasi tetap dalam sasaran, dan meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.

2. Apa dampak kenaikan BI Rate terhadap instrumen pasar uang?
Kenaikan BI Rate umumnya meningkatkan daya tarik instrumen pasar uang berbasis rupiah seperti deposito dan surat berharga jangka pendek.

3. Apa itu reksadana pasar uang?
Reksadana pasar uang adalah reksa dana yang berinvestasi pada deposito dan instrumen pasar uang dengan jatuh tempo pendek.

4. Mengapa reksadana pasar uang kembali dicermati?
Karena mayoritas portofolionya terdiri dari instrumen pasar uang rupiah yang menjadi lebih menarik saat suku bunga meningkat.

5. Apakah kenaikan BI Rate menjamin keuntungan investasi?
Tidak. Kinerja investasi tetap dipengaruhi kondisi pasar, komposisi portofolio, dan kebijakan pengelolaan masing-masing manajer investasi.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Beli Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Rahmat Hidayat/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.