
Bareksa - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan harga batu bara global, meski dampaknya belum sepenuhnya tercermin pada kinerja kuartal I 2026. Dalam riset 8 Juni 2026, Ciptadana Sekuritas Asia menaikkan rekomendasi PTBA menjadi Neutral dari sebelumnya Sell. Perubahan rekomendasi tersebut didasarkan pada penguatan harga batu bara serta prospek volume penjualan Perseroan.
Harga batu bara Newcastle tercatat mencapai US$146 per ton. Angka tersebut naik 40% secara tahunan dan 36% sejak awal tahun 2026 menurut riset Ciptadana. Pada kuartal I 2026, PTBA membukukan pendapatan Rp9,93 triliun, relatif datar dibanding periode sama tahun sebelumnya, dengan volume penjualan 10,2 juta ton.
Laba bersih PTBA pada kuartal I 2026 mencapai Rp802 miliar. Angka itu meningkat 105% secara tahunan, namun turun 48% dibanding kuartal sebelumnya. Ciptadana menilai hasil tersebut sejalan dengan 20% estimasi laba tahun penuh 2026 versi internal dan 24% estimasi konsensus pasar.
Menurut Ciptadana, sekitar 54% penjualan PTBA pada 2025 berasal dari pasar domestik. Sebanyak 37% penjualan dialokasikan kepada PLN melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) dengan harga patokan US$70 per ton. Skema tersebut membatasi manfaat kenaikan harga batu bara, namun sekaligus menjaga kepastian penyerapan volume penjualan.
PTBA menargetkan pertumbuhan volume penjualan sekitar 5% menjadi 49,6 juta ton pada 2026. Selain harga batu bara, faktor penting yang diperhatikan pasar adalah perkembangan proyek jalur kereta Tanjung Enim–Keramasan yang ditargetkan beroperasi pada semester II 2026. Proyek tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas distribusi batu bara Perseroan.
Ciptadana merevisi naik proyeksi laba bersih PTBA menjadi Rp4,02 triliun pada 2026. Sebelumnya, estimasi laba bersih hanya Rp1,47 triliun. Target harga saham PTBA ditetapkan Rp2.800 per saham berdasarkan valuasi 8 kali price to earnings ratio (PER) 2026, sementara harga saham terakhir dalam laporan tercatat Rp2.600 per saham.
Tabel Ringkasan PTBA Kuartal I 2026
Indikator | Nilai |
|---|---|
Pendapatan | Rp9,93 triliun |
Laba Bersih | Rp802 miliar |
Volume Penjualan | 10,2 juta ton |
Produksi Batu Bara | 6,6 juta ton |
Harga Newcastle Coal | US$146/ton |
Target Volume 2026 | 49,6 juta ton |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Harga Newcastle Coal: US$146/ton per 8 Juni 2026
Pendapatan PTBA 1Q26: Rp9,93 triliun
Laba Bersih PTBA 1Q26: Rp802 miliar
Volume Penjualan 1Q26: 10,2 juta ton
Target Volume 2026: 49,6 juta ton
Rekomendasi Ciptadana: Neutral
Target Harga Ciptadana: Rp2.800/saham
Harga Saham Acuan Riset: Rp2.600/saham
Porsi Penjualan Domestik 2025: 54%
Porsi Penjualan PLN melalui DMO: 37%
Reli harga batu bara global menjadi faktor positif bagi prospek PTBA pada 2026. Namun, manfaat kenaikan harga belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja kuartal I karena kondisi operasional yang terdampak curah hujan serta pertumbuhan ASP yang masih terbatas.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada realisasi target volume penjualan, perkembangan proyek logistik Tanjung Enim–Keramasan, serta keberlanjutan harga batu bara global. Faktor-faktor tersebut dinilai menjadi penentu utama kinerja PTBA sepanjang 2026 berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia.
1. Apa alasan Ciptadana menaikkan rekomendasi PTBA menjadi Neutral?
Karena harga batu bara global meningkat dan prospek volume penjualan PTBA dinilai membaik.
2. Berapa laba bersih PTBA pada kuartal I 2026?
PTBA membukukan laba bersih Rp802 miliar pada kuartal I 2026.
3. Berapa harga batu bara Newcastle dalam riset Ciptadana?
Harga batu bara Newcastle disebut mencapai US$146 per ton.
4. Apa fungsi skema DMO bagi PTBA?
DMO membantu menjaga kepastian penyerapan volume penjualan domestik meski membatasi manfaat kenaikan harga batu bara.
5. Apa proyek strategis yang menjadi perhatian investor PTBA?
Proyek jalur kereta Tanjung Enim–Keramasan yang ditargetkan beroperasi pada semester II 2026.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.