
Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8,69% selama periode perdagangan 2–5 Juni 2026 dan ditutup pada level 5.594,765. Data tersebut disampaikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam siaran pers resmi pada 5 Juni 2026. Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan saham menunjukkan peningkatan dibanding pekan sebelumnya.
Kapitalisasi pasar BEI turun 8,59% menjadi Rp9.807 triliun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp26,97 triliun, turun 5,71% dari Rp28,38 triliun. Investor asing juga membukukan jual bersih Rp3,73 triliun pada 5 Juni 2026 dan Rp61,36 triliun secara tahun berjalan.
Peningkatan justru terlihat pada aktivitas perdagangan. Rata-rata frekuensi transaksi harian naik 14,11% menjadi 2,41 juta kali transaksi dari 2,11 juta kali transaksi. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian meningkat 8,66% menjadi 33,63 miliar saham dari 30,95 miliar saham.
Bagi investor, kenaikan frekuensi dan volume transaksi menunjukkan aktivitas pasar tetap berlangsung aktif di tengah volatilitas harga saham. Data tersebut mencerminkan masih tingginya perpindahan dana dan likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan tekanan yang masih membayangi pergerakan indeks.
Selain pasar saham, BEI bersama Kementerian Keuangan juga mendorong penguatan likuiditas pasar surat utang melalui transaksi repurchase agreement Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Hingga 29 Mei 2026, nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) mencapai Rp602,9 triliun atau melonjak 114,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang transaksi SBSN Rp105 triliun dan transaksi repo Rp348,7 triliun.
BEI juga melanjutkan pengembangan Bursa Karbon melalui kegiatan literasi dan sosialisasi di Surabaya bersama OJK serta pelaku industri. Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas partisipasi pasar karbon dan mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Secara keseluruhan, data awal Juni menunjukkan pasar modal menghadapi tekanan pada indeks, namun aktivitas perdagangan dan pengembangan infrastruktur pasar tetap berlanjut.
Tabel Ringkasan Pasar
Indikator | Nilai |
|---|---|
IHSG | 5.594,765 |
Perubahan IHSG | -8,69% |
Kapitalisasi Pasar | Rp9.807 triliun |
Perubahan Kapitalisasi Pasar | -8,59% |
Rata-rata Nilai Transaksi Harian | Rp26,97 triliun |
Perubahan Nilai Transaksi | -5,71% |
Rata-rata Frekuensi Harian | 2,41 juta kali |
Perubahan Frekuensi | 14,11% |
Rata-rata Volume Harian | 33,63 miliar saham |
Perubahan Volume | 8,66% |
Net Sell Asing Harian | Rp3,73 triliun |
Net Sell Asing YTD 2026 | Rp61,36 triliun |
Nilai Transaksi SPPA | Rp602,9 triliun |
Pertumbuhan SPPA | 114,3% YoY |
Sumber: BEI
IHSG menutup pekan pertama Juni 2026 dengan penurunan 8,69% ke level 5.594,765. Pelemahan tersebut diikuti penurunan kapitalisasi pasar dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan saham tetap meningkat, tercermin dari kenaikan frekuensi dan volume transaksi harian. Pertumbuhan transaksi SPPA dan pengembangan Bursa Karbon juga menunjukkan upaya pendalaman pasar keuangan Indonesia terus berjalan.
1. Mengapa IHSG turun 8,69% pada pekan 2–5 Juni 2026?
BEI melaporkan IHSG turun ke level 5.594,765 selama periode tersebut. Faktor rinci penyebab pergerakan indeks tidak dijelaskan dalam siaran pers.
2. Berapa nilai net sell investor asing sepanjang 2026?
Investor asing mencatat jual bersih Rp61,36 triliun hingga 5 Juni 2026.
3. Apakah aktivitas perdagangan saham ikut melemah?
Tidak. Frekuensi transaksi naik 14,11% dan volume transaksi meningkat 8,66% dibanding pekan sebelumnya.
4. Berapa nilai transaksi SPPA hingga Mei 2026?
SPPA mencatat total nilai transaksi Rp602,9 triliun hingga 29 Mei 2026.
5. Apa arti kenaikan frekuensi dan volume transaksi?
Kenaikan tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan dan likuiditas pasar tetap kuat meskipun IHSG mengalami koreksi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.