
Bareksa - Tim Analis Bareksa merekomendasikan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebagai saham pilihan trading jangka pendek hari ini, 2 Juni 2026. Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki fase konsolidasi sideways setelah aksi jual agresif sebelumnya, dengan indikator stochastic oscillator yang mulai pulih dari zona oversold dan membuka peluang rebound teknikal terbatas.
CMRY direkomendasikan hold atau beli spekulatif di area Rp4.470–Rp4.780. Harga terakhir saham CMRY naik 9,77% ke Rp4.830 pada perdagangan 29 Mei 2026.
Secara teknikal, CMRY bergerak di atas MA20 di Rp4.660 dan MA50 di Rp4.575 yang mencerminkan tren naik terkonfirmasi dengan struktur bullish yang solid. RSI di level 55,00 menunjukkan momentum beli yang menguat namun belum memasuki area overbought sehingga ruang kenaikan masih terbuka.
Strategi: buy saat pullback ke area Rp4.470–Rp4.780 atau hold jika sudah dalam posisi. Target ambil untung berada di Rp5.080–Rp5.220, dengan batas risiko Rp4.430.
BRIS direkomendasikan hold atau beli spekulatif di area Rp1.755–Rp1.960. Harga terakhir saham BRIS naik 2,59% ke Rp1.980 pada perdagangan 29 Mei 2026.
Secara teknikal, BRIS bergerak di atas MA20 di Rp1.845 dan mendekati MA50 di Rp1.936, dengan momentum pemulihan yang menguat dan potensi breakout MA50 yang mulai terbuka. RSI di level 60,61 menunjukkan momentum beli yang kuat namun belum memasuki area overbought. BRIS juga mendapat dukungan fundamental dari kinerja empat bulan pertama 2026 yang solid dengan laba tumbuh 18% secara tahunan.
Strategi: buy saat pullback ke area Rp1.755–Rp1.960 atau hold jika sudah dalam posisi. Target ambil untung berada di Rp2.080–Rp2.140, dengan batas risiko Rp1.740.
INDF direkomendasikan hold atau beli spekulatif di area Rp6.650–Rp6.850. Harga terakhir saham INDF naik 1,47% ke Rp6.925 pada perdagangan 29 Mei 2026.
Secara teknikal, INDF bergerak di atas MA20 di Rp6.870 dan MA50 di Rp6.838 yang mengindikasikan tren naik terkonfirmasi dengan struktur bullish yang solid. RSI di level 54,92 berada di zona netral dengan bias positif sehingga potensi kenaikan lanjutan masih terbuka.
Strategi: buy saat pullback ke area Rp6.650–Rp6.850 atau hold jika sudah dalam posisi. Target ambil untung berada di Rp7.275–Rp7.500, dengan batas risiko Rp6.575.
Tabel Ringkasan Rekomendasi Saham Tim Analis Bareksa
Saham | Rekomendasi | Entry Area | Target Harga | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|
CMRY | Hold / Beli Spekulatif | Rp4.470–Rp4.780 | Rp5.080–Rp5.220 | Rp4.430 |
BRIS | Hold / Beli Spekulatif | Rp1.755–Rp1.960 | Rp2.080–Rp2.140 | Rp1.740 |
INDF | Hold / Beli Spekulatif | Rp6.650–Rp6.850 | Rp7.275–Rp7.500 | Rp6.575 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, harga penutupan 29 Mei 2026
Grafik Pergerakan IHSG
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
IHSG ditutup hampir stagnan, turun 3 poin atau 0,05% ke level 6.127 pada perdagangan Jumat (29/5), meski investor asing mencatatkan net sell Rp8,5 triliun, salah satu arus keluar terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Menurut riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia (2/6/2026), tekanan terbesar berasal dari sektor Kesehatan (-1,49%), Properti & Real Estate (-1,09%), dan Finansial (-1,04%). Saham yang menjadi pemberat utama antara lain BBCA (-4,06% ke Rp5.700), BBRI (-3,91% ke Rp2.950), dan TLKM (-1,94% ke Rp3.030). Nilai tukar rupiah melemah 85 poin ke level Rp17.874 per dolar AS.
IHSG saat ini memasuki fase konsolidasi atau sideways setelah penurunan tajam dari level tertinggi sebelumnya, dengan harga berfluktuasi di sekitar zona support kunci 5.967–6.000 dan menghadapi resistance di area 6.400–6.500. Meski tren yang lebih luas masih dalam tekanan dengan indeks bergerak di bawah rata-rata bergerak yang menurun, momentum jual tampak mulai mereda dan volatilitas menyempit, mengindikasikan keseimbangan sementara antara pembeli dan penjual.
Menurut analis, stochastic oscillator yang berangsur pulih dari kondisi oversold membuka peluang rebound jangka pendek dalam rentang konsolidasi ini. Selama IHSG bertahan di atas support 5.967, indeks kemungkinan melanjutkan pergerakan sideways, dengan breakout di atas 6.400 diperlukan untuk mengonfirmasi pemulihan yang lebih kuat, sementara breakdown di bawah 5.967 berpotensi memicu penurunan lanjutan dalam tren turun jangka menengah.
Pada perdagangan 2 Juni 2026, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support 5.967 dan resistance 6.286 dengan peluang ditutup di zona positif.
Rekomendasi saham Tim Analis Bareksa hari ini menempatkan CMRY, BRIS, dan INDF sebagai pilihan trading jangka pendek di tengah kondisi pasar yang memasuki fase konsolidasi. CMRY mencatat lonjakan harian terkuat dengan RSI yang menguat di 55,00 dan posisi di atas kedua garis MA yang solid. BRIS mendapat dukungan ganda dari teknikal yang kuat sekaligus fundamental kinerja empat bulan pertama 2026 yang melampaui konsensus. Sementara INDF menawarkan stabilitas di sektor consumer dengan tren naik terkonfirmasi di atas kedua garis MA.
Investor tetap disarankan waspada terhadap arus keluar asing yang masih besar dan tekanan rupiah yang melemah ke level Rp17.874 per dolar AS sebagai faktor risiko jangka pendek.
1. Mengapa CMRY dipilih di tengah pasar yang masih volatile?
CMRY mencatatkan lonjakan harian 9,77% dengan RSI 55,00 dan posisi di atas kedua garis MA, mencerminkan momentum beli yang genuine dan divergensi positif terhadap pasar secara keseluruhan. Bisnis produk susu premium CMRY juga relatif defensif terhadap pelemahan rupiah karena orientasi pasar domestik.
2. Apa katalis utama BRIS selain teknikal?
BRIS mendapat dukungan fundamental dari kinerja empat bulan pertama 2026 yang solid, laba tumbuh 18% secara tahunan, NIM ekspansif, dan CoC terjaga di 0,7%. Kebijakan pembebasan pajak bunga DHE SDA juga berpotensi meningkatkan likuiditas syariah di BRIS ke depan.
3. Mengapa net sell asing Rp8,5 triliun tidak langsung membuat IHSG turun tajam?
IHSG hanya turun 0,05% meski asing net sell besar karena ada penyerapan dari investor domestik. Kondisi ini justru mencerminkan fase konsolidasi yang sehat di mana tekanan jual mulai terimbangi oleh akumulasi selektif investor lokal.
4. Apa dampak kebijakan DHE SDA 100% onshore terhadap pasar saham?
Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia (2/6/2026), kebijakan ini berpotensi memperkuat rupiah dan meningkatkan likuiditas sistem keuangan domestik, yang secara tidak langsung mendukung sentimen pasar saham dan mengurangi tekanan pada nilai tukar.
5. Kapan IHSG bisa dinyatakan keluar dari fase konsolidasi saat ini?
Menurut analis Ciptadana Sekuritas Asia, breakout yang meyakinkan di atas level 6.400 disertai peningkatan volume beli dan normalisasi arus masuk asing menjadi syarat utama konfirmasi berakhirnya fase konsolidasi dan dimulainya pemulihan yang lebih berkelanjutan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Reynaldi/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.