
Bareksa — Tim Analis Bareksa merekomendasikan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sebagai saham pilihan trading jangka pendek hari ini, 29 Mei 2026. Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam fase koreksi dengan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda, meski indikator stochastic oscillator mulai menunjukkan sinyal oversold yang membuka peluang rebound teknikal terbatas.
PGAS direkomendasikan hold atau beli spekulatif di area Rp1.840–Rp1.875. Harga terakhir saham PGAS naik 1,07% ke Rp1.895 pada perdagangan 26 Mei 2026.
Secara teknikal, PGAS bergerak di atas MA20 di Rp1.871 dan MA50 di Rp1.867 yang mencerminkan breakout MA20 yang terkonfirmasi dengan tren naik yang solid. RSI di level 53,84 menunjukkan momentum positif yang sehat, belum memasuki area overbought sehingga ruang kenaikan masih terbuka.
Strategi: buy saat pullback ke area Rp1.840–Rp1.875 atau hold jika sudah dalam posisi. Target ambil untung berada di Rp1.990–Rp2.050, dengan batas risiko Rp1.820.
PTBA direkomendasikan hold atau beli spekulatif di area Rp2.810–Rp2.820. Harga terakhir saham PTBA naik 1,43% ke Rp2.840 pada perdagangan 26 Mei 2026.
Secara teknikal, PTBA bergerak mendekati MA20 di Rp2.844 dan MA50 di Rp2.895 yang menjadi area support dinamis dengan potensi rebound jangka pendek. RSI di level 57,17 menunjukkan momentum beli yang menguat namun belum overbought sehingga ruang kenaikan masih terbuka.
Strategi: buy saat pullback ke area Rp2.810–Rp2.820 atau hold jika sudah dalam posisi. Target ambil untung berada di Rp2.990–Rp3.070, dengan batas risiko Rp2.790.
INTP direkomendasikan hold atau beli spekulatif di area Rp4.830–Rp4.940. Harga terakhir saham INTP naik 1,84% ke Rp4.990 pada perdagangan 26 Mei 2026.
Secara teknikal, INTP mendekati MA20 di Rp5.044 dan MA50 di Rp5.175 yang menjadi area resistance dinamis sekaligus target pemulihan jangka pendek. RSI di level 53,31 berada di zona netral dengan bias positif sehingga potensi rebound dari area support mulai terbentuk.
Strategi: buy saat pullback ke area Rp4.830–Rp4.940 atau hold jika sudah dalam posisi. Target ambil untung berada di Rp5.240–Rp5.390, dengan batas risiko Rp4.780.
Tabel Ringkasan Rekomendasi Saham Tim Analis Bareksa
Saham | Rekomendasi | Entry Area | Target Harga | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|
PGAS | Hold / Beli Spekulatif | Rp1.840–Rp1.875 | Rp1.990–Rp2.050 | Rp1.820 |
PTBA | Hold / Beli Spekulatif | Rp2.810–Rp2.820 | Rp2.990–Rp3.070 | Rp2.790 |
INTP | Hold / Beli Spekulatif | Rp4.830–Rp4.940 | Rp5.240–Rp5.390 | Rp4.780 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, harga penutupan 26 Mei 2026
Grafik Pergerakan IHSG
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
IHSG ditutup melemah 76 poin atau 1,23% ke level 6.130 pada perdagangan Kamis (28/5), dengan investor asing mencatatkan net sell Rp1,6 triliun yang melanjutkan tren arus keluar. Menurut riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia (29/5/2026), hampir seluruh sektor berakhir di zona merah dengan Industrials menjadi penekan terbesar (-3,38%), disusul Consumer Cyclicals (-2,2%), dan Properti & Real Estate (-2,14%). Hanya tiga sektor yang bertahan di zona hijau yakni Infrastruktur (0,18%), Teknologi (0,08%), dan Transportasi & Logistik (0,06%).
Saham yang menjadi pemberat utama indeks antara lain ASII (-8,48% ke Rp5.125), BBRI (-3,15% ke Rp3.070), dan BBCA (-2,05% ke Rp5.975). Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah 46 poin ke level Rp17.789 per dolar AS.
IHSG masih berada dalam fase koreksi setelah gagal mempertahankan momentum di atas zona resistance 7.700–7.800, dengan pergerakan harga yang terus mencetak lower highs dan lower lows di bawah garis tren turun. Pergerakan mendekati area 6.100 mengindikasikan pasar memasuki fase konsolidasi pascaaksi jual agresif, didukung sinyal oversold pada stochastic oscillator yang mengindikasikan tekanan jual mulai mereda.
IHSG masih menghadapi risiko penurunan selama berada di bawah resistance kunci 6.700–6.900, sementara support terdekat berada di kisaran 5.970–5.770. Rebound jangka pendek masih mungkin terjadi namun tren yang lebih luas tetap bearish selama IHSG belum mampu breakout dari kisaran konsolidasi dengan konfirmasi volume yang lebih kuat.
Pada perdagangan 29 Mei 2026, IHSG diperkirakan bergerak di rentang support 5.967 dan resistance 6.287 dengan kecenderungan masih berada di zona negatif.
Rekomendasi saham Tim Analis Bareksa hari ini menempatkan PGAS, PTBA, dan INTP sebagai pilihan trading jangka pendek di tengah kondisi pasar yang masih dalam tekanan. PGAS unggul karena telah berhasil breakout MA20 dengan momentum RSI yang positif. PTBA mendapat dukungan dari RSI yang menguat di 57,17 di tengah sentimen positif jangka pendek dari kecelakaan tambang China yang berpotensi mendorong harga batu bara. Sementara INTP menawarkan peluang rebound teknikal dari area support dengan RSI yang netral dan bias positif.
Investor tetap disarankan disiplin pada batas rugi yang ditetapkan mengingat tren bearish IHSG belum sepenuhnya terbalik.
1. Mengapa PGAS dipilih di tengah sentimen negatif sektor energi?
PGAS adalah emiten gas bumi yang memiliki model bisnis berbeda dari emiten batu bara dan minyak. Kinerja PGAS lebih dipengaruhi volume distribusi gas domestik dan tarif yang diregulasi, sehingga relatif lebih defensif dibanding emiten energi lain yang tertekan kebijakan sentralisasi ekspor.
2. Apakah sentimen kecelakaan tambang China masih mendukung PTBA?
Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia sebelumnya, kecelakaan tambang di Shanxi berpotensi memicu inspeksi keselamatan massal dan penangguhan sementara yang mendorong China meningkatkan impor batu bara seaborne, menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten batu bara Indonesia termasuk PTBA.
3. Mengapa INTP dipilih padahal sektor semen masih tertekan?
INTP dipilih atas dasar divergensi teknikal positif yakni RSI yang mulai membaik di 53,31 dan return 5 hari 3,31% yang menonjol di tengah pasar yang bearish, menunjukkan adanya akumulasi selektif dari pelaku pasar.
4. Apakah kondisi rupiah yang melemah ke Rp17.789 berdampak pada ketiga saham ini?
Pelemahan rupiah umumnya berdampak negatif pada emiten dengan biaya bahan baku impor tinggi seperti INTP. Sebaliknya, PGAS dan PTBA cenderung lebih netral karena pendapatan dan biaya operasional keduanya lebih banyak dalam denominasi rupiah.
5. Kapan sinyal pembalikan tren IHSG yang lebih kuat dapat terbentuk?
Menurut analis Ciptadana Sekuritas Asia, konfirmasi pembalikan tren membutuhkan IHSG mampu breakout dari kisaran konsolidasi dan merebut kembali area resistance 6.700–6.900 secara meyakinkan disertai peningkatan volume beli dan net buy asing yang berkelanjutan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Reynaldi/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.