
Bareksa - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menargetkan marketing sales 135 hektare pada 2026 yang didorong ekspansi kawasan industri Subang Smartpolitan. Informasi ini penting karena mencerminkan potensi pertumbuhan pendapatan kawasan industri dan recurring income perseroan.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas tertanggal 26 Mei 2026, analis mencatat SSIA telah membukukan penjualan lahan sekitar 9 hektare pada kuartal I 2026 dan menargetkan tambahan 126 hektare hingga akhir tahun. Dari total target tersebut, sekitar 119 hektare diproyeksikan berasal dari kawasan Subang, sedangkan Karawang diperkirakan menyumbang sekitar 8 hektare dari sisa land bank.
Riset tersebut juga menyinggung langsung transaksi penjualan lahan kepada BYD di kawasan Subang. Setelah transaksi tersebut, manajemen disebut tengah membidik anchor tenant baru sekitar 100 hektare, terutama dari sektor otomotif dan manufaktur terkait rantai pasok kendaraan listrik. SSIA merupakan emiten sektor properti, kawasan industri, dan perhotelan.
Analis memperkirakan pengakuan penjualan lahan industri SSIA mencapai 151 hektare pada FY26, melonjak 1.298% dibanding FY25 sebesar 10,8 hektare. Sejalan dengan itu, pendapatan segmen properti diproyeksikan naik 207,2% secara tahunan menjadi Rp953 miliar pada 2026.
Analis juga menyoroti kenaikan average selling price (ASP) lahan industri menjadi sekitar Rp2 juta per meter persegi dari sebelumnya Rp1,9 juta per meter persegi. Kenaikan tersebut ditopang pengembangan kawasan secara bertahap dan penguatan kurs dolar AS terhadap rupiah.
Selain itu, SSIA telah menyelesaikan temporary exit ramp yang terhubung langsung ke fasilitas BYD untuk meningkatkan aksesibilitas tenant di kawasan Subang. Infrastruktur tersebut dinilai penting sambil menunggu pengembangan jalan tol Patimban.
Analis mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham SSIA dengan target harga Rp2.080 per saham. Target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan dibanding harga terakhir Rp1.700 per saham.
Analis menilai momentum penjualan lahan di kawasan Subang berpotensi mendukung pertumbuhan kinerja SSIA pada 2026. Namun, pasar masih mencermati realisasi tenant baru, keberlanjutan permintaan kawasan industri, serta kondisi sektor pariwisata dan daya beli domestik.
Indikator | Nilai |
|---|---|
Marketing sales 2026 | 135 ha |
Pertumbuhan marketing sales | 187,8% YoY |
Kontribusi Subang | 119 ha |
Pengakuan penjualan lahan 2026 | 151 ha |
Proyeksi pendapatan properti 2026 | Rp953 miliar |
Proyeksi pendapatan 2026 | Rp5,69 triliun |
Proyeksi laba bersih 2026 | Rp300 miliar |
Target harga saham SSIA | Rp2.080 |
Harga saham terakhir | Rp1.700 |
PER 2026F | 26,7x |
PBV 2026F | 1,4x |
Kawasan Subang diproyeksikan menjadi kontributor utama marketing sales 2026.
Penjualan lahan kepada BYD menjadi salah satu katalis pengembangan kawasan industri.
SSIA membidik tenant besar baru sekitar 100 hektare.
Pendapatan properti dan hospitality diproyeksikan tumbuh pada 2026.
Investor masih mencermati realisasi tenant baru dan kondisi makroekonomi.
Riset Ciptadana menunjukkan kawasan industri Subang menjadi fokus utama pertumbuhan SSIA pada 2026. Penjualan lahan kepada BYD dan potensi masuknya tenant baru dinilai dapat memperkuat momentum marketing sales perseroan.
Di sisi lain, transformasi Karawang menuju recurring income serta pemulihan bisnis hospitality menjadi faktor tambahan yang dicermati pasar terhadap prospek jangka menengah SSIA.
1. Apa kaitan BYD dengan prospek SSIA?
Riset Ciptadana menyebut penjualan lahan kepada BYD menjadi salah satu katalis pengembangan kawasan industri Subang.
2. Berapa target marketing sales SSIA pada 2026?
SSIA menargetkan marketing sales sebesar 135 hektare pada FY26.
3. Berapa target harga saham SSIA menurut Ciptadana?
Ciptadana mempertahankan target harga Rp2.080 per saham dengan rekomendasi BUY.
4. Apa dampak transaksi BYD terhadap SSIA?
Transaksi tersebut dinilai dapat meningkatkan daya tarik kawasan Subang bagi tenant otomotif dan manufaktur lainnya.
5. Apa bisnis utama SSIA?
SSIA bergerak di bidang kawasan industri, konstruksi, dan perhotelan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.