
Bareksa - PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) membukukan laba bersih Rp97 miliar pada kuartal I 2026, naik 33% secara tahunan. Kinerja ini penting dicermati investor karena menunjukkan pertumbuhan bisnis alat kesehatan dan efisiensi operasional yang tetap terjaga di tengah tekanan nilai tukar.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia (13/5/2026), rekomendasi untuk saham OMED Buy dan target harga saham naik jadi Rp280 per saham dari sebelumnya Rp220. Dengan harga saham terakhir Rp248, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 12,9%. Re-rating ini didukung pertumbuhan pangsa pasar, pipeline proyek baru, serta perbaikan efisiensi operasional perseroan.
Pendapatan OMED mencapai Rp572 miliar pada kuartal I 2026 atau naik 31% YoY. Pertumbuhan terutama didorong segmen biotechnology & laboratory yang melonjak hampir 200% YoY, diikuti diagnostic & equipment naik 69% YoY serta medical disposables naik 23% YoY. Sementara itu, segmen hospital furniture menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi akibat perlambatan belanja modal rumah sakit. OMED merupakan emiten sektor kesehatan dan alat medis.
Penjualan sektor publik OMED naik 64% YoY dan kini menyumbang 36,3% dari total pendapatan. Kinerja itu ditopang belanja kesehatan pemerintah untuk program pemeriksaan kesehatan gratis, skrining TBC, dan pengadaan alat kesehatan. Penjualan ekspor juga tumbuh 72% YoY, termasuk ekspansi pasar ke Filipina dan peningkatan permintaan dari Amerika Serikat.
Margin laba kotor atau gross profit margin naik menjadi 36% dari sebelumnya 33,7%. Ciptadana menilai perbaikan margin ditopang otomatisasi manufaktur, utilisasi pabrik yang lebih tinggi, dan efisiensi rantai pasok sepanjang 2025. Rasio beban operasional juga turun menjadi 16,4% sehingga margin EBIT meningkat menjadi 19,6%.
Ciptadana turut menaikkan proyeksi pendapatan OMED 2026-2027 masing-masing sebesar 5% dan 8%. Proyeksi laba bersih 2026 juga direvisi naik 6% menjadi Rp430 miliar, sejalan dengan panduan manajemen yang menargetkan pertumbuhan laba sekitar 18% YoY. Namun pasar tetap perlu mencermati risiko pelemahan rupiah, gangguan rantai pasok, dan potensi perlambatan belanja pemerintah.
Ringkasan Kinerja OMED Kuartal I 2026
| Indikator | Realisasi Q1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
Pendapatan | Rp572 miliar | Naik 31,2% YoY |
Laba bersih | Rp97 miliar | Naik 33,3% YoY |
Gross profit margin | 36,0% | Naik 2,3 ppt |
Operating margin | 19,6% | Naik 4,3 ppt |
Penjualan sektor publik | 36,3% dari total penjualan | Naik dari 29% |
Penjualan ekspor | Tumbuh 72% YoY | Positif |
Segmen biotechnology | Rp56 miliar | 199,7% YoY |
Segmen diagnostic & equipment | Rp71 miliar | 68,7% YoY |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Target harga OMED versi Ciptadana: Rp280 per saham
Harga saham terakhir: Rp248
Proyeksi pertumbuhan pendapatan 2026: 16% YoY
Estimasi laba bersih 2026: Rp430 miliar
Estimasi ROE 2026: 14,1%
Estimasi PER 2026: 15,6 kali
Dividend yield estimasi 2026: 1,6%
Risiko utama: pelemahan rupiah dan perlambatan belanja pemerintah
Kinerja OMED pada kuartal I 2026 mencerminkan pertumbuhan bisnis yang tetap kuat di sektor alat kesehatan. Penjualan pemerintah, ekspor, dan produk diagnostik menjadi penopang utama pertumbuhan perseroan.
Revisi naik target harga dan proyeksi laba dari Ciptadana menunjukkan prospek OMED masih dinilai positif oleh analis. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko nilai tukar dan dinamika belanja kesehatan pemerintah.
1. Berapa laba bersih OMED pada kuartal I 2026?
OMED membukukan laba bersih Rp97 miliar atau naik 33,3% YoY.
2. Berapa target harga saham OMED versi Ciptadana?
Ciptadana menaikkan target harga OMED menjadi Rp280 per saham.
3. Apa pendorong utama pertumbuhan OMED?
Pertumbuhan ditopang penjualan sektor publik, ekspor, dan segmen biotechnology serta diagnostic equipment.
4. Mengapa margin laba OMED meningkat?
Margin meningkat karena otomatisasi manufaktur, utilisasi pabrik lebih tinggi, dan efisiensi rantai pasok.
5. Apa risiko utama yang dicermati pasar?
Risiko utama meliputi pelemahan rupiah, gangguan rantai pasok, dan perlambatan belanja pemerintah.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.