
Bareksa - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatat laba bersih Rp2,2 triliun pada kuartal I 2026, naik 17% secara tahunan. Kinerja ini penting dicermati investor karena menunjukkan pertumbuhan pembiayaan, margin bunga bersih, dan kualitas aset yang tetap terjaga di tengah implementasi PSAK 413.
Berdasarkan riset resmi Ciptadana Sekuritas Asia (13/5/2026), rekomendasi “Buy” untuk BRIS dipertahankan dengan target harga Rp2.900 per saham, meski turun dari sebelumnya Rp3.100. Dengan harga saham terakhir Rp1.855, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 56,3%, namun tetap disertai risiko seperti tekanan biaya dana dan potensi dilusi free float. Saham BRIS sendiri tercatat turun 35,1% dalam 12 bulan terakhir.
Pendapatan margin atau net interest income (NII) BRIS tumbuh 13% YoY menjadi Rp4,98 triliun pada kuartal I 2026. Pertumbuhan itu ditopang ekspansi pembiayaan 14,4% YoY dan net interest margin (NIM) yang naik menjadi 5,1% dari 4,8% pada periode sama tahun lalu. Beban provisi juga turun 6,8% YoY sehingga menopang kenaikan laba bersih. BRIS merupakan emiten sektor perbankan syariah terbesar di Indonesia.
Pertumbuhan dana murah atau CASA BRIS dinilai menjadi salah satu sorotan utama. Simpanan tumbuh 18% YoY, ditopang tabungan yang naik 20% dan giro naik 24%. Ciptadana menilai penguatan ini didukung ekosistem haji dan bisnis emas BRIS yang terus berkembang.
Jumlah nasabah haji BRIS naik 20% YoY menjadi 6,7 juta nasabah. Sementara itu, nasabah emas tumbuh 46% menjadi 762 ribu dan pengguna digital gold melonjak lebih dari 600% YoY menjadi 900 ribu nasabah. Pembiayaan emas juga meningkat sangat tinggi yakni 101% YoY.
Di sisi kualitas aset, BRIS mulai menerapkan PSAK 413 pada kuartal I 2026. Implementasi standar akuntansi baru itu membuat cadangan kerugian kredit naik 37% QoQ menjadi Rp15 triliun sehingga rasio coverage NPL meningkat dari 191% menjadi 254%. Meski modal inti tier-1 turun menjadi 19,9%, posisi permodalan BRIS masih dinilai kuat dan rasio kredit bermasalah atau NPL tetap stabil di level 1,8%.
Ringkasan Kinerja BRIS Kuartal I 2026
Indikator | Realisasi Q1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
Laba bersih | Rp2,2 triliun | 17,1% YoY |
NII | Rp4,98 triliun | 12,8% YoY |
NIM | 5,1% | Naik 30 bps YoY |
Pembiayaan | Rp328,5 triliun | 14,4% YoY |
Dana pihak ketiga | Rp376,8 triliun | 18% YoY |
CASA ratio | 62,7% | Naik dari 61% |
NPL gross | 1,8% | Stabil |
Coverage ratio | 253% | Naik dari 191% |
Tier-1 capital | 19,9% | Turun 100 bps QoQ |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Target harga BRIS versi Ciptadana: Rp2.900 per saham
Harga saham terakhir: Rp1.855
Potensi risiko: tekanan cost of fund dan dilusi free float
Free float saat ini sekitar 9,9%
Proyeksi laba bersih 2026: Rp8,7 triliun
Estimasi ROE 2026: 16,2%
Estimasi PBV 2026: 1,5 kali
Estimasi dividend yield 2026: 1,8%
Kinerja BRIS pada kuartal I 2026 mencerminkan pertumbuhan bisnis yang tetap solid di tengah implementasi PSAK 413. Pertumbuhan pembiayaan emas, dana murah, dan kualitas aset yang stabil menjadi perhatian utama pasar.
Rekomendasi positif dari Ciptadana juga menunjukkan prospek BRIS masih dinilai menarik oleh analis. Namun investor tetap perlu mencermati risiko likuiditas, biaya dana, dan potensi perubahan struktur free float perseroan.
1. Berapa laba bersih BRIS pada kuartal I 2026?
BRIS membukukan laba bersih Rp2,2 triliun atau naik 17,1% YoY.
2. Berapa target harga saham BRIS versi Ciptadana?
Ciptadana mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga BRIS di Rp2.900 per saham.
3. Apa pendorong utama pertumbuhan BRIS?
Pertumbuhan ditopang pembiayaan emas, ekosistem haji, dan kenaikan dana murah atau CASA.
4. Berapa rasio NPL BRIS saat ini?
Rasio NPL gross BRIS stabil di level 1,8% pada kuartal I 2026.
5. Apa dampak PSAK 413 terhadap BRIS?
PSAK 413 meningkatkan pencadangan kerugian kredit sehingga coverage ratio naik menjadi 254%, meski modal inti sedikit turun.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.