Transisi B50 Untungkan Tunas Baru Lampung (TBLA), Rekomendasi Buy, Target Harga Rp960 per Saham

Abdul Malik • 12 May 2026

an image
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. (Shutterstock)

TBLA dinilai diuntungkan transisi biodiesel B50 setelah laba kuartal I 2026 stabil. Ciptadana pertahankan rekomendasi dan target harga Rp960.

Bareksa - PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dinilai berpotensi mendapat sentimen positif dari transisi biodiesel B50 setelah mencatat laba bersih Rp275 miliar pada kuartal I 2026. Hal ini penting dicermati investor karena bisnis biodiesel kini menjadi kontributor terbesar pendapatan perseroan. 

Berdasarkan riset PT Ciptadana Sekuritas Asia per 11 Mei 2026, analis mempertahankan rekomendasi “buy” dengan target harga Rp960 per saham, meski menurunkan valuasi dari sebelumnya Rp1.180. Penyesuaian dilakukan menggunakan valuasi price to earnings (PE) 5,3 kali atau setara rata-rata historis lima tahun TBLA. Riset tersebut menyebut valuasi TBLA masih relatif murah dibanding prospek pertumbuhan bisnis biodiesel perseroan.

Pendapatan TBLA naik 8,7% secara tahunan menjadi Rp6,1 triliun pada kuartal I 2026. Kenaikan ditopang harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) produk sawit, terutama PKO dan minyak goreng, di tengah pelemahan produksi akibat faktor musiman. Kondisi ini membuat laba perseroan tetap stabil meski margin laba kotor turun tipis menjadi 17,2%. TBLA merupakan emiten sektor perkebunan dan hilirisasi sawit.

Biodiesel Jadi Kunci Pertumbuhan TBLA

Segmen biodiesel menyumbang 45% total penjualan TBLA dan menjadi penopang utama kinerja perseroan. Ciptadana menilai implementasi mandatori B50 mulai Juli 2026 berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel domestik. TBLA dinilai berada dalam posisi strategis karena memiliki dua fasilitas produksi biodiesel di Lampung.

TBLA saat ini memiliki kontrak pengiriman biodiesel  722 ribu kiloliter untuk tahun buku 2026. Volume tersebut berpotensi meningkat jika implementasi B50 berjalan sesuai rencana pemerintah. Hal ini menjadi perhatian pasar karena dapat memperkuat visibilitas pendapatan TBLA ke depan.

Di sisi lain, investor masih cenderung memilih emiten sawit berbasis hulu murni dibanding emiten terintegrasi seperti TBLA. Namun, riset Ciptadana menilai eksposur biodiesel dan bisnis hilir TBLA berpotensi menopang ketahanan laba perseroan di tengah fluktuasi harga CPO global.

Ringkasan Analisis dan Rekomendasi TBLA

Indikator
Data

Laba bersih Q1 2026

Rp275 miliar

Pertumbuhan laba YoY

0,4%

Pendapatan Q1 2026

Rp6,1 triliun

Kontribusi biodiesel

45% penjualan

Kontrak biodiesel FY26

722 ribu KL

Target harga Ciptadana

Rp960 per saham

Valuasi yang digunakan

PE 5,3x

Target harga sebelumnya

Rp1.180 per saham

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Faktor yang Dicermati Investor

  • Transisi biodiesel B40 ke B50 mulai Juli 2026

  • Biodiesel menjadi sumber pendapatan terbesar TBLA

  • Harga jual produk sawit menopang laba di tengah produksi turun

  • Valuasi TBLA dinilai masih relatif rendah

  • Margin laba masih menghadapi tekanan biaya produksi

Kesimpulan

Riset terbaru Ciptadana menunjukkan TBLA masih memiliki prospek pertumbuhan yang ditopang bisnis biodiesel dan hilirisasi sawit. Implementasi B50 menjadi salah satu katalis yang berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel domestik.

Di tengah pelemahan produksi kebun akibat faktor musiman, kenaikan harga jual produk dan kontribusi bisnis hilir membantu menjaga stabilitas laba perseroan. Valuasi saham TBLA juga menjadi perhatian pasar karena dinilai masih relatif menarik dibanding prospek bisnisnya.

FAQ

1. Berapa target harga TBLA versi Ciptadana?
Ciptadana menetapkan target harga TBLA  Rp960 per saham.

2. Apa alasan utama rekomendasi TBLA dipertahankan?
Karena TBLA memiliki eksposur besar pada bisnis biodiesel dan operasional hilir yang dinilai cukup resilien.

3. Berapa kontribusi biodiesel terhadap pendapatan TBLA?
Segmen biodiesel menyumbang sekitar 45% total penjualan perseroan.

4. Apa dampak program B50 bagi TBLA?
Program B50 berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel dan volume kontrak penjualan TBLA.

5. Mengapa laba TBLA tetap stabil meski produksi turun?
Kenaikan harga jual produk sawit membantu menopang profitabilitas perseroan.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap. 

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.