
Bareksa - PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dinilai berpotensi mendapat sentimen positif dari transisi biodiesel B50 setelah mencatat laba bersih Rp275 miliar pada kuartal I 2026. Hal ini penting dicermati investor karena bisnis biodiesel kini menjadi kontributor terbesar pendapatan perseroan.
Berdasarkan riset PT Ciptadana Sekuritas Asia per 11 Mei 2026, analis mempertahankan rekomendasi “buy” dengan target harga Rp960 per saham, meski menurunkan valuasi dari sebelumnya Rp1.180. Penyesuaian dilakukan menggunakan valuasi price to earnings (PE) 5,3 kali atau setara rata-rata historis lima tahun TBLA. Riset tersebut menyebut valuasi TBLA masih relatif murah dibanding prospek pertumbuhan bisnis biodiesel perseroan.
Pendapatan TBLA naik 8,7% secara tahunan menjadi Rp6,1 triliun pada kuartal I 2026. Kenaikan ditopang harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) produk sawit, terutama PKO dan minyak goreng, di tengah pelemahan produksi akibat faktor musiman. Kondisi ini membuat laba perseroan tetap stabil meski margin laba kotor turun tipis menjadi 17,2%. TBLA merupakan emiten sektor perkebunan dan hilirisasi sawit.
Segmen biodiesel menyumbang 45% total penjualan TBLA dan menjadi penopang utama kinerja perseroan. Ciptadana menilai implementasi mandatori B50 mulai Juli 2026 berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel domestik. TBLA dinilai berada dalam posisi strategis karena memiliki dua fasilitas produksi biodiesel di Lampung.
TBLA saat ini memiliki kontrak pengiriman biodiesel 722 ribu kiloliter untuk tahun buku 2026. Volume tersebut berpotensi meningkat jika implementasi B50 berjalan sesuai rencana pemerintah. Hal ini menjadi perhatian pasar karena dapat memperkuat visibilitas pendapatan TBLA ke depan.
Di sisi lain, investor masih cenderung memilih emiten sawit berbasis hulu murni dibanding emiten terintegrasi seperti TBLA. Namun, riset Ciptadana menilai eksposur biodiesel dan bisnis hilir TBLA berpotensi menopang ketahanan laba perseroan di tengah fluktuasi harga CPO global.
Ringkasan Analisis dan Rekomendasi TBLA
Indikator | Data |
|---|---|
Laba bersih Q1 2026 | Rp275 miliar |
Pertumbuhan laba YoY | 0,4% |
Pendapatan Q1 2026 | Rp6,1 triliun |
Kontribusi biodiesel | 45% penjualan |
Kontrak biodiesel FY26 | 722 ribu KL |
Target harga Ciptadana | Rp960 per saham |
Valuasi yang digunakan | PE 5,3x |
Target harga sebelumnya | Rp1.180 per saham |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Transisi biodiesel B40 ke B50 mulai Juli 2026
Biodiesel menjadi sumber pendapatan terbesar TBLA
Harga jual produk sawit menopang laba di tengah produksi turun
Valuasi TBLA dinilai masih relatif rendah
Margin laba masih menghadapi tekanan biaya produksi
Riset terbaru Ciptadana menunjukkan TBLA masih memiliki prospek pertumbuhan yang ditopang bisnis biodiesel dan hilirisasi sawit. Implementasi B50 menjadi salah satu katalis yang berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel domestik.
Di tengah pelemahan produksi kebun akibat faktor musiman, kenaikan harga jual produk dan kontribusi bisnis hilir membantu menjaga stabilitas laba perseroan. Valuasi saham TBLA juga menjadi perhatian pasar karena dinilai masih relatif menarik dibanding prospek bisnisnya.
1. Berapa target harga TBLA versi Ciptadana?
Ciptadana menetapkan target harga TBLA Rp960 per saham.
2. Apa alasan utama rekomendasi TBLA dipertahankan?
Karena TBLA memiliki eksposur besar pada bisnis biodiesel dan operasional hilir yang dinilai cukup resilien.
3. Berapa kontribusi biodiesel terhadap pendapatan TBLA?
Segmen biodiesel menyumbang sekitar 45% total penjualan perseroan.
4. Apa dampak program B50 bagi TBLA?
Program B50 berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel dan volume kontrak penjualan TBLA.
5. Mengapa laba TBLA tetap stabil meski produksi turun?
Kenaikan harga jual produk sawit membantu menopang profitabilitas perseroan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.