
Bareksa - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat Total Shareholder Return (TSR) 35,7% sepanjang 2025. Informasi ini penting karena mencerminkan kombinasi capital gain dan dividen di tengah penurunan pendapatan serta laba bersih perseroan.
Berdasarkan siaran pers perseroan 12 Mei 2026 dan laporan keuangan perseroan, sepanjang 2025, pendapatan konsolidasi TLKM turun menjadi Rp146,7 triliun dari Rp149,9 triliun pada 2024. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi Rp17,8 triliun dari Rp22,4 triliun. Perseroan menyebut penurunan laba dipengaruhi percepatan depresiasi dan penyesuaian kebijakan akuntansi sebagai bagian penguatan tata kelola.
Direktur Utama Dian Siswarini menyatakan transformasi TLKM 30 menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. “Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Dian. TLKM merupakan emiten BUMN sektor telekomunikasi dan digital terbesar Tanah Air.
TLKM mencatat normalized net income Rp22,7 triliun dan EBITDA Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA 49,2%. Perseroan juga menjalankan buyback saham hingga Rp3 triliun dan mempertahankan payout ratio 89% untuk pembayaran dividen tahun buku 2024. TSR 35,7% terdiri dari capital gain 28,4% dan dividend yield 7,3%.
Di segmen B2C, PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel membukukan pendapatan Rp109,2 triliun. Trafik data naik 15% YoY dan ARPU mulai pulih pada semester II-2025, mencerminkan kondisi pasar yang dinilai lebih stabil.
Sementara itu, pendapatan segmen B2B Infrastructure tumbuh 9,2% YoY menjadi Rp8,9 triliun, didorong bisnis data center dan fiber. Perseroan juga melanjutkan inisiatif fiber carve-out, streamlining bisnis non-inti, dan transformasi strategic holding untuk memperkuat fundamental jangka panjang.
Ringkasan Kinerja TLKM 2025
Indikator | 2025 | 2024 | Perubahan |
|---|---|---|---|
Pendapatan Konsolidasi | Rp146,7 triliun | Rp149,9 triliun | Turun 2,1% |
Laba Bersih Induk | Rp17,8 triliun | Rp22,4 triliun | Turun 20,5% |
EBITDA | Rp72,2 triliun | Rp68,4 triliun* | Naik |
Margin EBITDA | 49,2% | 45,6%* | Naik |
TSR | 35,7% | - | - |
Capital Gain | 28,4% | - | - |
Dividend Yield | 7,3% | - | - |
Belanja Modal | Rp27,5 triliun | - | - |
*Perhitungan indikatif berdasarkan data perseroan.
Sumber: TLKM
Pendapatan dan laba bersih TLKM turun pada 2025
Penurunan laba dipengaruhi percepatan depresiasi dan restatement akuntansi
TSR 35,7% didukung capital gain dan dividend yield
Bisnis data center, fiber, dan B2B infrastructure masih mencatat pertumbuhan
Buyback saham Rp3 triliun masih berlangsung hingga Mei 2026
Pemulihan ARPU Telkomsel mulai terlihat sejak semester II-2025
Kinerja TLKM tahun buku 2025 mencerminkan fase transformasi dan penguatan tata kelola perusahaan. Di tengah penurunan pendapatan dan laba bersih, perseroan masih mencatat TSR positif dan mempertahankan strategi pengembalian nilai kepada pemegang saham.
Investor dapat mencermati keberlanjutan transformasi TLKM 30, perkembangan bisnis data center dan fiber, serta dampak efisiensi operasional terhadap profitabilitas perseroan ke depan.
FAQ
1. Apa itu TSR TLKM 2025?
TSR atau Total Shareholder Return TLKM tercatat 35,7% pada 2025, terdiri dari capital gain dan dividend yield.
2. Mengapa laba bersih TLKM turun?
Penurunan laba dipengaruhi percepatan depresiasi dan penyesuaian kebijakan akuntansi.
3. Berapa pendapatan TLKM pada 2025?
Pendapatan konsolidasi TLKM tercatat Rp146,7 triliun.
4. Apa fokus transformasi TLKM 30?
Transformasi fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi aset, dan penguatan bisnis digital.
5. Apakah buyback saham TLKM masih berjalan?
Ya, program buyback saham hingga Rp3 triliun masih berlangsung sampai Mei 2026.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.