Reformasi Jalan, Purbaya Siap Beri Insentif Pajak untuk Pasar Modal

Abdul Malik • 27 Apr 2026

an image
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (20/11). (Dok. Kemenkeu)

Purbaya buka peluang insentif pajak untuk pasar modal jika reformasi berhasil dalam 6 bulan sejak saat ini. Saham, obligasi, reksadana, dan IHSG berpotensi terdorong.

Bareksa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang pemberian insentif fiskal bagi pelaku pasar modal, apabila agenda reformasi dan pendalaman pasar berjalan efektif dalam beberapa bulan ke depan. Pernyataan itu menjadi sinyal dukungan pemerintah terhadap upaya memperkuat daya saing pasar keuangan domestik, termasuk industri saham, obligasi, dan reksadana.

Menurut Purbaya, insentif dapat berbentuk pengurangan beban pajak atau relaksasi tertentu atas pendapatan yang berasal dari aktivitas pasar modal. Namun, ia menegaskan kebijakan tersebut belum diputuskan dan masih bergantung pada hasil implementasi reformasi yang sedang berjalan.

“Kalau programnya berjalan bagus, enam bulan dari sekarang industri pasar modal boleh datang meminta insentif,” ujarnya dalam acara Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana Tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4).

Insentif Fiskal Jadi Sinyal Dukungan Pemerintah

Pernyataan tersebut dinilai penting karena selama ini pelaku pasar mendorong kebijakan fiskal yang mampu meningkatkan partisipasi investor domestik dan memperbesar likuiditas pasar.

Beberapa opsi insentif yang berpotensi dipertimbangkan antara lain:

  • Relaksasi pajak atas pendapatan investasi 

  • Insentif untuk investasi berkala melalui reksadana

  • Tarif pajak lebih kompetitif untuk obligasi dan instrumen jangka panjang

  • Stimulus bagi emiten dengan free float lebih besar

Jika terealisasi, kebijakan itu berpotensi mempercepat pendalaman pasar modal Indonesia yang selama ini dinilai masih tertinggal dibanding negara regional.

Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Membaik

Purbaya menegaskan pemerintah tengah menyiapkan fondasi ekonomi yang lebih kuat melalui percepatan pembangunan, reformasi penerimaan negara, dan penyelesaian hambatan birokrasi.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi nasional tetap solid di tengah ketidakpastian global, dengan proyeksi kuartal I dan kuartal II 2026 berada di atas 5,5%.

Menurutnya, kinerja pasar saham dalam jangka panjang sangat bergantung pada fundamental ekonomi. Jika reformasi berjalan konsisten dan sektor swasta bergerak lebih agresif, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Prospek Pasar Saham dan Peran Investor Ritel

Purbaya juga menilai masyarakat tidak harus selalu berinvestasi langsung ke saham individual. Bagi investor yang belum memiliki waktu atau keahlian memadai, reksadana dapat menjadi jalur alternatif untuk ikut menikmati pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menyoroti dominasi generasi muda di pasar modal yang kini terus meningkat. Namun, edukasi tetap menjadi faktor penting agar pertumbuhan investor ritel dibarengi pemahaman risiko.

Apa Dampaknya ke IHSG?

Bagi pasar, sinyal insentif fiskal dapat menjadi katalis positif karena:

  • Meningkatkan daya tarik investasi domestik

  • Memperluas basis investor ritel dan institusi

  • Mendorong emiten baru masuk bursa

  • Memperkuat likuiditas transaksi harian

  • Menopang valuasi jangka menengah

Meski demikian, implementasi kebijakan tetap akan ditentukan oleh kondisi fiskal negara dan efektivitas reformasi yang dijalankan regulator.

Kesimpulan

Sinyal insentif pajak dari Purbaya menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia. Jika reformasi berjalan efektif dalam enam bulan ke depan, saham, obligasi, reksa dana, dan IHSG berpotensi mendapat dorongan pertumbuhan baru.

FAQ 

1. Apa isi pernyataan Purbaya soal pasar modal?
Purbaya menyebut industri pasar modal bisa mengajukan insentif dalam enam bulan jika program reformasi berjalan baik.

2. Insentif apa yang berpotensi diberikan?
Pengurangan pajak investasi, insentif reksa dana, tarif pajak obligasi lebih kompetitif, hingga stimulus untuk emiten dengan free float besar.

3. Apa dampaknya ke IHSG?
Berpotensi meningkatkan likuiditas, menarik investor baru, mendorong IPO, dan menopang valuasi saham.

4. Kapan kebijakan ini bisa direalisasikan?
Belum diputuskan. Pemerintah akan mengevaluasi hasil reformasi dalam beberapa bulan ke depan.

5. Apakah reksadana ikut diuntungkan?
Ya, reksadana disebut sebagai salah satu instrumen yang berpotensi mendapat insentif dan cocok bagi investor pemula.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.