WIFI Dinilai Masuk Fase Ekspansi Agresif, Bisnis Konsumer Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Abdul Malik • 23 Apr 2026

an image
RUPSLB PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge. (Dok. Perusahaan)

Riset Ciptadana menyoroti kinerja WIFI 2025 yang melonjak 147% dan ekspansi agresif ke bisnis konsumer. FWA dinilai jadi pendorong utama 2026.

Bareksa - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge mencatat pertumbuhan pendapatan 147% pada tahun buku 2025. Kinerja ini penting dicermati investor karena perseroan sedang bertransformasi ke model bisnis konsumer yang berpotensi memperluas pasar dan pendapatan berulang.

Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia pada 23 April 2026, pertumbuhan kinerja terutama ditopang segmen telekomunikasi yang kini menyumbang 73% dari total pendapatan.

WIFI merupakan emiten teknologi dan telekomunikasi yang dikenal melalui pengembangan jaringan internet, fiber optik, dan layanan konektivitas digital. Fokus terbaru perseroan adalah memperbesar segmen pelanggan ritel.

Pendapatan Melonjak, Bisnis B2C Makin Besar

WIFI berhasil menunjukkan eksekusi kuat dalam pengembangan FTTH (fiber to the home). Perseroan telah mencapai 2,5 juta home passes dan 1,5 juta pelanggan, dengan tingkat konversi sekitar 60%.

Selain itu, jaringan backbone WIFI disebut telah melampaui 8.000 kilometer. Infrastruktur ini menjadi fondasi ekspansi layanan internet ke berbagai wilayah.

Perubahan penting lainnya adalah komposisi bisnis. Kontribusi segmen B2C naik dari 15% menjadi 45%, menandakan pergeseran dari model bisnis yang sebelumnya dominan B2B.

Margin Turun, Namun Dinilai Strategis

Seiring perubahan model bisnis, margin EBITDA FY25 turun dari sekitar 73% menjadi 69%. Namun, penurunan ini dinilai sebagai bagian dari strategi ekspansi, bukan pelemahan operasional.

Margin bisnis telekomunikasi masih kuat di kisaran 74%. Profitabilitas keseluruhan juga disebut tetap membaik berkat efisiensi biaya dan leverage operasional.

Artinya, perusahaan sedang menukar sebagian margin jangka pendek untuk pertumbuhan pasar yang lebih besar di masa depan.

Utang Naik Saat Ekspansi, Neraca Masih Sehat

WIFI disebut sedang berada dalam fase investasi agresif. Belanja modal (capex) mencapai sekitar Rp3,1 triliun untuk mendukung ekspansi FTTH dan FWA.

Total utang meningkat dari Rp1,1 triliun menjadi Rp5 triliun. Meski demikian, Ciptadana menilai kondisi neraca masih terjaga.

Net debt to EBITDA tercatat 1,0x, debt to equity 0,6x, dan posisi kas mencapai Rp6,1 triliun. Angka ini menunjukkan ruang pendanaan masih relatif terkendali.

FWA Dinilai Jadi Motor Pertumbuhan 2026

Riset Ciptadana menilai layanan FWA (Internet Rakyat) akan menjadi pendorong utama kinerja WIFI pada 2026. Produk ini disebut sudah memiliki lebih dari 200 ribu pengguna di lebih dari 230 lokasi.

Manajemen menargetkan ekspansi menjadi 3,2 juta pelanggan dan 5.500 site pada FY26. Ekspansi didukung jaringan distribusi luas dan kemitraan dengan vendor global.

Kecepatan internet perangkat yang diuji berada di kisaran 200–400 Mbps, menandakan kualitas layanan cukup kompetitif. Ciptadana Sekuritas sedang meninjau ulang target harga dan rekomendasi untuk WIFI setelah analyst meeting FY25. 

Tabel Ringkasan Kinerja WIFI

Indikator
2025

Pertumbuhan Pendapatan

147% YoY

Kontribusi Segmen Telco

73%

Home Passes FTTH

2,5 juta

Pelanggan FTTH

1,5 juta

Take-up Rate

60%

Panjang Backbone

>8.000 km

EBITDA Margin

69%

Capex

Rp3,1 triliun

Total Utang

Rp5 triliun

Kas

Rp6,1 triliun

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Tabel Target 2026

Indikator FWA
Target

Pelanggan

3,2 juta

Site

5.500

Sumber: riset Ciptadana

Kesimpulan

Riset terbaru menunjukkan WIFI sedang memasuki fase pertumbuhan baru dengan fokus lebih besar ke pelanggan ritel. Meski utang dan capex meningkat, analis menilai kondisi keuangan masih sehat dan FWA berpotensi menjadi mesin pertumbuhan 2026. Investor tetap perlu mencermati eksekusi ekspansi dan profitabilitas ke depan.

FAQ

1. Apa yang mendorong kenaikan pendapatan WIFI?
Utamanya segmen telekomunikasi yang menyumbang 73% pendapatan.

2. Mengapa margin EBITDA turun?
Karena perusahaan memperbesar bisnis konsumer yang membutuhkan investasi lebih besar.

3. Apakah utang WIFI naik signifikan?
Ya, dari Rp1,1 triliun menjadi Rp5 triliun untuk ekspansi jaringan.

4. Apa motor pertumbuhan WIFI tahun 2026?
Layanan FWA atau Internet Rakyat.

5. Apakah artikel ini rekomendasi beli saham?
Bukan. Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan membeli atau menjual efek tertentu.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap. 

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.