
Bareksa - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat laba bersih Rp15,4 triliun pada kuartal I 2026, naik 16% secara tahunan (YoY) dan sedikit di atas konsensus pasar.
Kinerja ini dinilai positif karena menunjukkan ketahanan profitabilitas di tengah tekanan margin bunga bersih (NIM) dan ketidakpastian makro.
Menurut riset Ciptadana Sekuritas Asia (22/4), pertumbuhan laba didorong cost of credit (CoC) rendah di 0,6% serta efisiensi operasional, tercermin dari cost to income ratio (CIR) membaik ke 38% dari 39% tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga bersih (NII) tumbuh 11% YoY secara proforma, ditopang pertumbuhan kredit yang tetap solid.
Penyaluran kredit BMRI naik 16,2% YoY, terutama dari segmen:
Di sisi lain, biaya dana (CoF) juga turun 15 basis poin QoQ, membantu menjaga profitabilitas bank.
NIM tercatat 4,3%, turun 40 basis poin YoY. Penurunan ini dipengaruhi dekonsolidasi Bank Syariah Indonesia (BRIS), yang sebelumnya memiliki yield pembiayaan lebih tinggi.
Secara proforma, tekanan margin relatif ringan dengan penurunan hanya 5 basis poin YoY.
BMRI masih menjaga kualitas kredit dengan baik:
Indikator | Realisasi |
|---|---|
NPL | 1,0% |
LAR | 6,1% |
CoC | 0,6% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Angka tersebut menunjukkan risiko kredit masih terjaga meski bank agresif menyalurkan pembiayaan.
Manajemen menurunkan panduan NIM FY2026 ke kisaran 4,5%–4,7% akibat ketidakpastian makro dan potensi kenaikan biaya dana seiring naiknya yield SRBI.
Meski begitu, laba dinilai tetap resilien karena:
Efisiensi operasional kuat
Kualitas aset sehat
Pertumbuhan kredit masih tinggi
Analis mempertahankan rekomendasi BUY untuk BMRI dengan target harga Rp6.150 per saham.
Target ini mencerminkan keyakinan bahwa fundamental BMRI masih kuat meski margin bunga mengalami tekanan.
BMRI membukukan kuartal awal 2026 yang solid dengan laba Rp15,4 triliun, ditopang CoC rendah, efisiensi membaik, dan kredit tumbuh double digit. Walau panduan NIM direvisi turun, fundamental tetap sehat. Rekomendasi analis saat ini BUY dengan target harga Rp6.150.
1. Berapa laba BMRI Q1 2026?
Rp15,4 triliun (+16% YoY).
2. Kenapa laba naik?
Karena biaya kredit rendah dan efisiensi meningkat.
3. Berapa pertumbuhan kredit BMRI?
Naik 16,2% YoY.
4. Apakah kualitas aset aman?
Ya, NPL 1,0% dan LAR 6,1%.
5. Apa rekomendasi analis?
BUY dengan target harga Rp6.150.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.