
Bareksa - Tak lama setelah pengumuman MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam hingga menyentuh level terendah 7.482 (turun 18% dari puncaknya), sebelum akhirnya menutup Januari di level 8.330 (turun 3,7% secara bulanan).
Menurut riset Ciptadana Sekuritas Asia (3/2), investor asing mencatatkan jual bersih Rp12,3 triliun (sekitar US$700 juta) pada Rabu–Jumat, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market (EM) ke Frontier Market (FM).
Pada awal pekan berikutnya, asing kembali mencatat beli bersih tipis. Saat ini bobot Indonesia sekitar 1,2% di indeks MSCI EM. Jika terjadi reklasifikasi penuh, potensi arus keluar tambahan diperkirakan US$9–16 miliar. Karena itu, arus dana terkait MSCI masih menjadi tekanan jangka pendek bagi pasar.
Setelah pertemuan antara BEI, OJK, dan regulator pasar lainnya dengan MSCI, disepakati sejumlah langkah konkret, antara lain penurunan batas pelaporan kepemilikan saham menjadi di atas 1% (dari sebelumnya 5%), serta klasifikasi investor yang diperinci dari 9 menjadi 27 kategori, termasuk pengungkapan pemilik manfaat.
Regulator juga memastikan kenaikan minimum saham beredar (free float) dari 7,5% menjadi 15% secara bertahap. Langkah cepat dan proaktif ini dinilai positif untuk menjaga kepercayaan investor serta menekan risiko struktural dalam jangka panjang.
Meski arus dana terkait MSCI masih menekan pasar dalam jangka pendek, pemerintah dan regulator secara paralel menyiapkan sumber likuiditas alternatif dari dalam negeri untuk menyeimbangkan volatilitas dan mengurangi ketergantungan pada arus dana asing.
Salah satunya melalui kenaikan batas investasi saham bagi dana pensiun dan asuransi. Porsi investasi saham diperkirakan meningkat ke 15% dan dalam jangka panjang berpotensi mencapai 20%, langkah yang krusial mengingat pasar saham Indonesia selama ini masih didominasi investor ritel.
Selain itu, dukungan dana dari institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Danantara diperkirakan signifikan. Danantara diproyeksikan mulai aktif pada 2026 dengan mengalokasikan sekitar 50% dana investasinya ke pasar modal, baik saham maupun obligasi.
Aliran dana ini diperkirakan masuk secara bertahap, namun bahkan realisasi sebagian saja dinilai cukup untuk meningkatkan likuiditas, meredam volatilitas, dan menopang valuasi saham berkapitalisasi besar dengan fundamental yang solid.
Institusi | AUM (Rp triliun) | Perkiraan Alokasi Saham Saat Ini (%) | Target Alokasi Saham (%) | Potensi Tambahan Dana (Rp triliun) |
|---|---|---|---|---|
BPJS Ketenagakerjaan | 879 | 12–13 | 20–25 | 65–120 |
Dana Pensiun (wajib & sukarela) | 1.662 | 8–10 | 15–20 | 80–150 |
Perusahaan Asuransi | 1.194 | 5–7 | 15–20 | 95–179 |
Danantara (50% dari rencana dana investasi 2026F) | – | – | – | 58–117 |
Total Potensi | 240–440 |
Sumber: Ciptadana Sekuritas
Ke depan, rilis PDB kuartal IV 2025 dan laporan keuangan emiten menjadi katalis penting, termasuk panduan kinerja 2026. Bank-bank besar akan memimpin musim laporan, dengan BBCA dan BBNI sudah menunjukkan kinerja yang solid.
Untuk 2026, laba emiten diperkirakan tumbuh sekitar 11%, didukung basis laba yang rendah di 2024–2025, proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1%, dan dampak penurunan suku bunga.
Di tengah volatilitas, saham-saham pilihan relatif stabil (0% bulanan), lebih baik dibanding penurunan IHSG sekitar 3,7%.
Kinerja positif ditopang oleh MBMA, ERAL, AADI, MYOR, dan PWON. Sementara itu, BBCA, CMRY, dan DSNG terkoreksi. Beberapa saham juga tertekan oleh arus dana MSCI, seperti WIFI dan EXCL.
Target IHSG tetap di level 8.960 untuk skenario dasar dan 9.600 untuk skenario optimistis. Investor disarankan tetap selektif, mempertahankan saham defensif, dan mencicil beli saham berkualitas saat harga melemah sambil menunggu tekanan MSCI mereda.
Saham pilihan difokuskan pada sektor defensif seperti konsumsi dan telekomunikasi (ICBP, MYOR, EXCL), bank yang valuasinya menarik (BBCA, BBTN), komoditas (AADI, MDKA), serta saham domestik dengan kepemilikan asing relatif rendah.
Kode Saham | Rekomendasi | Kapitalisasi Pasar (Rp triliun) | Harga Terakhir | Target Harga | Potensi Naik (%) | PER 2026 | EV/EBITDA 2026* | ROE 2026 (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
BBCA | Beli | 931 | 7.400 | 11.200 | 51,4 | 15,1 | 3,0 | 4,2 |
BBTN | Beli | 17 | 1.230 | 1.500 | 22,0 | 4,5 | 0,5 | 5,3 |
MYOR | Beli | 53 | 2.310 | 2.700 | 16,9 | 14,6 | 9,1 | 2,2 |
CMRY | Beli | 43 | 5.100 | 6.800 | 33,3 | 18,6 | 14,4 | 2,7 |
EXCL | Beli | 52 | 2.910 | 3.300 | 13,4 | 83,4 | 2,0 | 3,5 |
DSNG | Beli | 14,6 | 1.375 | 1.980 | 44,0 | 7,1 | 4,3 | 2,5 |
PWON | Beli | 17 | 360 | 530 | 47,2 | 6,8 | 3,6 | 4,0 |
AADI | Beli | 63 | 7.600 | 8.650 | 13,8 | 5,5 | 2,5 | 8,5 |
MDKA | Beli | 67 | 2.730 | 3.850 | 41,0 | -168,6 | 5,8 | 0,0 |
ERAL | Beli | 2 | 350 | 440 | 25,7 | 6,2 | 4,4 | 3,3 |
Sumber: Ciptadana Sekuritas
Tekanan pasar akibat isu MSCI bersifat jangka pendek dan lebih dipicu faktor teknis arus dana. Respons cepat regulator serta potensi masuknya dana besar dari institusi domestik menjadi penyangga penting bagi pasar saham Indonesia. Dengan dukungan musim laporan keuangan dan prospek pertumbuhan laba 2026, koreksi justru membuka peluang akumulasi selektif pada saham berfundamental kuat, khususnya sektor defensif, perbankan valuasi menarik, dan emiten dengan kepemilikan asing rendah.
1. Apakah risiko penurunan IHSG masih besar jika MSCI benar-benar mereklasifikasi Indonesia?
Risiko volatilitas jangka pendek tetap ada, namun dampaknya berpotensi lebih terbatas karena sebagian sudah diantisipasi pasar dan diimbangi dana domestik.
2. Apakah semua saham terdampak sama oleh arus MSCI?
Tidak. Saham dengan bobot besar di indeks MSCI dan kepemilikan asing tinggi cenderung lebih tertekan dibanding saham domestik-oriented.
3. Kapan dampak dana institusi domestik mulai terasa signifikan?
Dampaknya diperkirakan bertahap mulai 2025–2026, seiring penyesuaian regulasi dan realisasi alokasi dana.
4. Strategi investor ritel sebaiknya bagaimana di kondisi ini?
Fokus pada saham berfundamental kuat, likuid, dan defensif, serta lakukan akumulasi bertahap saat volatilitas tinggi.
5. Apakah ini saat yang tepat untuk masuk saham Indonesia?
Untuk investor jangka menengah–panjang, volatilitas akibat MSCI dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat dan likuid.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(AM)
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.