
Bareksa - Investasi saham selalu menawarkan peluang keuntungan, tetapi juga dibarengi risiko. Karena itu, banyak investor baik pemula maupun berpengalaman cenderung memulai dari saham yang lebih stabil. Salah satu yang paling populer adalah saham blue chip. Saham jenis ini dikenal memiliki fundamental kuat, kinerja konsisten, dan menjadi tulang punggung banyak portofolio jangka panjang.
Artikel ini akan membahas pengertian saham blue chip, ciri-cirinya, serta contoh daftar sektornya yang umum dijadikan acuan investor.
Saham blue chip adalah saham dari perusahaan besar yang mapan, memiliki reputasi kuat, dan beroperasi sebagai pemimpin di industrinya. Perusahaan-perusahaan ini sudah melalui berbagai fase ekonomi, tetap bertahan, dan bahkan tumbuh di tengah tekanan pasar.
Agar kamu lebih mudah mengidentifikasi apakah suatu saham termasuk blue chip, berikut ciri-ciri umumnya:
1. Kapitalisasi Pasar Besar
Biasanya berada di level large cap, menunjukkan perusahaan berskala besar dengan pondasi kuat.
2. Pendapatan dan Laba Stabil
Kinerja keuangan yang konsisten dari tahun ke tahun menandakan manajemen yang sehat.
3. Pemimpin Industri (Market Leader)
Produk atau jasanya mendominasi pangsa pasar dan menjadi pilihan utama masyarakat.
4. Likuiditas Tinggi
Transaksi harian tinggi sehingga mudah dibeli atau dijual di pasar.
5. Manajemen Profesional
Dikelola oleh tim yang kredibel dan terbukti mampu menjaga bisnis tetap tumbuh.
6. Rutin Membagikan Dividen
Banyak perusahaan blue chip memberikan dividen sebagai bentuk pembagian keuntungan kepada pemegang saham.
Istilah “blue chip” sendiri diambil dari dunia kasino, tempat chip berwarna biru merupakan chip dengan nilai tertinggi.
Untuk menjaga objektivitas dan tidak mempromosikan emiten tertentu, berikut daftar kategori sektor yang biasanya berisi saham blue chip. Kamu dapat menemukan perusahaan-perusahaan besar ini langsung di aplikasi Bareksa.
1. Perbankan & Keuangan
Sektor yang stabil dan mendominasi kapitalisasi pasar di Indonesia.
2. Telekomunikasi
Perusahaan yang menyediakan layanan telekomunikasi, internet, dan jaringan digital.
3. Consumer Goods
Perusahaan yang memproduksi kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, hingga produk personal care.
4. Energi
Termasuk perusahaan di bidang minyak, gas, hingga energi terbarukan.
5. Infrastruktur & Utilitas
Perusahaan di sektor transportasi, jalan tol, konstruksi, dan listrik.
6. Pertambangan
Emiten yang bergerak dalam industri batu bara, mineral, dan komoditas global lainnya.
Saham-saham dari sektor di atas dikenal paling sering masuk kategori blue chip karena skala usaha besar, profit stabil, dan ketahanan terhadap gejolak ekonomi.
Beberapa alasan utama:
Risiko lebih rendah, karena harga tidak mudah terjun bebas
Stabil dalam jangka panjang, cocok untuk strategi buy & hold
Fundamental kuat, membuatnya tetap kokoh saat pasar sedang tidak menentu
Dividen rutin, memberikan pendapatan pasif
Likuiditas tinggi, memudahkan transaksi kapan saja.
Bagi investor pemula, saham blue chip sering direkomendasikan sebagai pondasi awal portofolio.
Siap membangun portofolio yang stabil dan kuat? Beli saham blue chip langsung di Super App Bareksa. Proses mudah, aman, banyak pilihan emiten unggulan, dan cocok untuk strategi jangka panjang.
(Tubagus Imam Satrio/AM)
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.