
Bareksa - Sepanjang Januari 2026, IHSG mencatat penurunan 3,6%. Pasar saham tertekan aksi profit taking, setelah sempat menyentuh level tertinggi di 9.174 pada 20 Januari.
Selain itu sentimen negatif datang dari lembaga riset MSCI yang merilis pernyataan bisa menurunkan peringkat Indonesia ke “negara perintis” (frontier market), jika Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak segera berbenah soal transparansi pasar saham domestik.
Melihat kondisi ini, volatilitas di pasar saham meningkat dan investor cenderung risk-off hingga kondisi membaik. Terlihat dari pergerakan IHSG yang sempat turun signifikan mencapai 8% dalam sehari.
Kemudian, dari sisi pasar obligasi juga dihantam berita kurang baik dari lembaga pemeringkat Moody's yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari Stable ke Negative. Namun peringkat masih sama di Baa2. Artinya lembaga ini juga memberikan peringatan terhadap Pemerintah mengenai kondisi ekonomi Indonesia dalam 12 bulan ke depan.
Dengan adanya sejumlah peringatan dari berbagai lembaga riset dan pemeringkat asing, tentunya Pemerintah diharapkan segera berbenah baik dari sisi pasar keuangan maupun ekonomi riil di masyarakat. Karena dua hal ini menjadi indikator penting dalam menilai kelayakan investasi di Indonesia.
Merespons MSCI, BEI juga sudah mulai menyediakan data yang lebih transparan kepada investor publik serta memberi kesempatan kepada emiten untuk meningkatkan free float hingga 15% dalam 3 tahun ke depan. Selain itu, Danantara juga berencana investasi langsung di pasar modal sebagai stimulus tambahan.
Namun memang proses tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang dan dalam jangka pendek, volatilitas di pasar masih cukup tinggi.
Sehingga, posisi alokasi investasi saat ini mulai berubah menjadi mode Risk Off untuk menjaga stabilitas kinerja portofolio investor Bareksa Robo Advisor.
Profil Risiko di Bareksa Robo Advisor | Return 1 Bulan |
|---|---|
Risk Averse | 0,23% |
Conservative | 0,18% |
Moderate | 0,08% |
Aggressive | 0,02% |
Very Aggressive | -0,12% |
Sumber: Tim Analis Bareksa
Meninjau kinerja Robo di Januari 2026, meski IHSG turun signifikan namun profil risiko dengan level Very Aggressive masih lebih unggul dengan penurunan 0,12%. Diharapkan, dengan merubah mode menjadi Risk-Off kestabilan dan kinerja portofolio dapat lebih baik di bulan Februari.
Tekanan pasar di awal 2026 membuat volatilitas meningkat dan investor cenderung mengambil sikap hati-hati. Merespons kondisi tersebut, Bareksa Robo Advisor menyesuaikan alokasi portofolio ke mode risk-off untuk menjaga stabilitas kinerja. Strategi defensif ini diharapkan mampu meredam gejolak jangka pendek sembari menunggu perbaikan sentimen pasar di bulan-bulan berikutnya.
1. Apakah strategi risk-off berarti keluar dari saham sepenuhnya?
Tidak. Risk-off berarti mengurangi porsi aset berisiko dan memperbesar instrumen yang lebih stabil, bukan keluar total dari pasar.
2. Apakah investor perlu mengubah profil risiko saat pasar volatil?
Tidak wajib. Bareksa Robo Advisor secara otomatis menyesuaikan alokasi sesuai profil risiko masing-masing investor.
3. Apakah kinerja negatif berarti strategi Bareksa Robo Advisor gagal?
Tidak. Dalam kondisi pasar turun tajam, tujuan utama strategi defensif adalah menjaga penurunan tetap lebih terkendali dibanding pasar.
4. Kapan strategi agresif akan kembali digunakan?
Strategi akan disesuaikan kembali saat volatilitas menurun dan indikator pasar menunjukkan kondisi yang lebih kondusif.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
Investasi Bareksa Robo Advisor di Sini
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
Disclaimer:
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.