Kinerja Bareksa Robo Advisor Solid di 2025, Ini Arah Strategi 2026

Abdul Malik • 09 Jan 2026

an image
Ilustrasi investor memantau perkembangan investasinya di Robo Advisor Bareksa. (Shutterstock)

Sepanjang 2025, Bareksa Robo Advisor mencetak return positif di semua profil risiko. Strategi risk on berlanjut menyambut 2026.

Bareksa -Sepanjang tahun 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan tertinggi hingga 22% ke level 8.646, ditopang oleh sejumlah saham konglomerasi dengan tingkat likuiditas tinggi. Sementara untuk saham kapitalisasi besar seperti perbankan, yang tercermin dari indeks LQ45 hanya mencatat kenaikan 2,4% sepanjang tahun lalu.

Hal tersebut dapat diartikan pergerakan di pasar keuangan cenderung “semu” karena saham Big Banks yang mampu mencetak laba 3x lipat dibandingkan saham konglomerasi, justru dihargai 6x lebih rendah dari sisi valuasi PE ratio.

Kemudian, dari pasar obligasi, indeks obligasi Indonesia (INDOBEX) mencatat kinerja 1 tahun capai 12,4% di 2025, dengan yield acuan sempat menguat dari level 7,1% ke level 5,9%. Hal ini didorong oleh pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia yang cukup agresif dari 5,75% di Desember 2024 ke level 4,75% di 2025.

Apa Artinya?

Kinerja IHSG saat ini kurang mencerminkan pergerakan saham bank besar karena ekonomi riil yang masih melemah. Penyaluran dana ke bank Himbara juga dinilai belum maksimal, sehingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut menambah insentif ke masyarakat untuk mendorong daya beli.

Sehingga, fokus utama tahun ini adalah meningkatkan konsumsi masyarakat agar target pertumbuhan ekonomi 6% bisa tercapai. Tentunya ini akan berdampak positif terhadap sektor terkait.

Tahun 2026, era suku bunga rendah juga masih berlanjut, setidaknya hingga semester 1 2026. Instrumen obligasi tentunya masih terdampak positif dari kebijakan ini dan menopang kinerja reksadana pendapatan tetap.

Sehingga, posisi alokasi Bareksa Robo Advisor saat ini masih berada dalam mode Risk On untuk menangkap peluang akumulasi bertahap di saham consumer related yang masih terdiskon serta saham konglomerasi di sektor energi.

Apa Efeknya ke Portofoliomu?

Tabel: Kinerja Bareksa Robo Advisor Berdasarkan Profil Risiko

Profil Risiko
Return 1 Bulan
Return 1 Tahun

Risk Averse

0.37%

6.94%

Conservative

0.39%

7.32%

Moderate

0.30%

7.96%

Aggressive

0.33%

7.53%

Very Aggressive

0.19%

7.84%

Sumber: Bareksa, kinerja per 30 Des 2025

Strategi yang cukup adaptif terhadap kondisi pasar membuat Bareksa Robo Advisor mencetak kinerja positif hingga 8% setahun. Selama bulan desember, semua risk profile juga melanjutkan kinerja positif.

Saat ini, BRI Indeks Syariah menjadi default portofolio untuk reksadana berbasis saham karena fokus di sektor konsumsi dan energi. Kemudian, Trimegah Dana Obligasi Nusantara juga masih menjadi default reksadana pendapatan tetap sejak Oktober 2025.

Sehingga diharapkan ketika pemberian insentif oleh Menteri Purbaya mulai berjalan dan efektif mendorong daya beli masyarakat, maka tentunya akan semakin menopang kinerja BRI Indeks Syariah serta portofolio Bareksa Robo Advisor.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi di Bareksa Robo Advisor

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

Disclaimer:

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.