
Bareksa – Dua dari lima exchange traded fund (ETF) Emas yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 10 Agustus 2026, Trimegah Syariah ETF Emas (XTRA) dan BRI MI Gold ETF Syariah (XDES), sama-sama menawarkan eksposur terhadap emas melalui struktur reksadana syariah.
Sekilas keduanya terlihat hampir sama. Keduanya menempatkan minimum 95% NAB pada aset emas, menggunakan struktur ETF yang diperdagangkan di bursa, dan melibatkan dealer partisipan, kustodian, penyedia emas, penyimpan emas, serta KSEI.
Namun, prospektus masing-masing produk menunjukkan ada sejumlah perbedaan yang layak dicermati, terutama pada tujuan investasi dan batas maksimum biaya.
Dari sisi kinerja awal, data Bareksa per 10 Agustus 2026 menunjukkan XDES mencatat return NAV 1,94%, sedangkan XTRA 1,92%. Selisihnya hanya 0,02 poin persentase, sehingga belum cukup untuk menyimpulkan keunggulan kinerja.
XTRA vs XDES: Perbandingan Singkat
Aspek | XTRA | XDES |
Manajer Investasi | Trimegah AM | BRI MI |
Return NAV awal | 1,92% | 1,94% |
Minimum aset emas | 95% NAB | 95% NAB |
Maksimum non-emas | 5% | 5% |
Struktur | ETF Syariah | ETF Syariah |
Imbalan jasa MI maksimum | 3% p.a. | 2% p.a. |
Bank Kustodian maksimum | 0,20% p.a. | 0,10% p.a. |
Penyimpanan emas | Maks. 0,11% p.a. | 0,11% p.a. |
Sumber: Prospektus XTRA dan XDES, Bareksa
Prospektus XTRA menyebut tujuan investasinya adalah memberikan potensi pertumbuhan investasi yang optimal melalui investasi pada aset dasar emas sesuai Prinsip Syariah di Pasar Modal.
Komposisi investasinya:
minimum 95% NAB pada aset emas;
maksimum 5% pada pasar uang syariah domestik, deposito syariah, kas, dan setara kas.
Dalam mekanismenya, emas fisik dibeli dari penyedia emas dan dialokasikan sebagai aset portofolio. Emas kemudian disimpan melalui lembaga penyimpanan dan penyelesaian serta penyimpan emas, lalu kepemilikannya direpresentasikan melalui Electronic Gold Receipt (EGR).
XDES memiliki tujuan yang lebih eksplisit. Prospektus menyatakan BRI MI Gold ETF Syariah bertujuan memberikan hasil investasi terhadap harga emas.
Komposisinya sama secara garis besar:
minimum 95% NAB pada aset emas;
maksimum 5% pada pasar uang syariah, deposito syariah, kas, dan setara kas.
Aset emas XDES memenuhi standar kemurnian minimum 99,9% untuk SNI atau 99,5% untuk LBMA Good Delivery. BRI MI juga wajib mengumumkan komposisi portofolio ETF setiap Hari Bursa setelah penutupan perdagangan.
Ini bagian yang menarik.
XTRA
Prospektus mencantumkan:
Manajer Investasi: maksimum 3% per tahun
Bank Kustodian: maksimum 0,20% per tahun
Penyimpanan emas: maksimum 0,11% per tahun
XDES
Prospektus mencantumkan:
Manajer Investasi: maksimum 2% per tahun
Bank Kustodian: maksimum 0,10% per tahun
Penyimpanan emas: 0,11% per tahun
Sekilas, batas maksimum biaya XDES lebih rendah. Tetapi investor perlu berhati-hati: angka maksimum dalam prospektus bukan otomatis biaya aktual yang selalu dikenakan sebesar angka tersebut.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan XDES pasti lebih murah atau pasti memiliki return lebih tinggi.
Yang perlu dibandingkan adalah biaya aktual, tracking error, dan kinerja setelah produk memiliki rekam jejak yang cukup panjang.
Ini justru inti perbandingan kedua produk. Pada ETF Emas, return investor tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga emas. Return ETF secara sederhana dipengaruhi oleh: harga emas + kurs - biaya - tracking error - friksi transaksi.
Prospektus XTRA secara eksplisit menjelaskan tracking error, yaitu selisih antara kinerja ETF dan harga emas acuannya.
Tracking error dapat muncul akibat biaya pengelolaan, biaya Bank Kustodian, biaya penyimpanan emas, biaya transaksi, hingga dealer partisipan yang tidak dapat melakukan arbitrase secara optimal.
Jadi dalam beberapa bulan ke depan, pertanyaan yang lebih penting bukan “siapa yang return-nya paling tinggi hari ini?”, melainkan: siapa yang paling efisien mengikuti harga emas setelah biaya dan friksi pasar?
Dealer partisipan berperan besar pada perdagangan ETF. Dalam prospektus XDES, dealer partisipan antara lain bertanggung jawab pada proses creation/redemption, menggunakan harga penyedia emas sebagai acuan, serta menjaga kuotasi jual dan beli di pasar.
Dealer partisipan juga menentukan rentang spread berdasarkan kondisi komersial dan kebijakannya, sekaligus menyampaikan penawaran beli-jual secara berkala atau terus-menerus di pasar sekunder BEI.
Karena itu, spread dan likuiditas tidak kalah penting dari biaya pengelolaan. ETF dengan fee rendah tetapi spread lebar belum tentu lebih efisien bagi investor yang sering melakukan transaksi.
Prospektus XTRA menyebut sejumlah risiko:
perubahan ekonomi dan politik;
fluktuasi harga emas;
likuiditas pasar primer;
likuiditas pasar sekunder;
penurunan NAB;
pihak ketiga;
nilai tukar rupiah terhadap dolar AS;
tracking error.
Risiko nilai tukar cukup penting karena harga emas global menggunakan dolar AS. Rupiah yang menguat dapat menekan nilai emas dalam rupiah meskipun harga emas dunia relatif stabil.
Prospektus XDES antara lain mencantumkan:
risiko kondisi ekonomi dan politik;
risiko fluktuasi NAB;
risiko likuiditas;
risiko pasar.
Masyarakat pemodal juga tidak melakukan pembelian atau redemption langsung ke Manajer Investasi. Transaksi dilakukan melalui dealer partisipan, APERD yang ditunjuk jika ada, atau perdagangan di BEI.
Belum bisa disimpulkan hanya dari hari pertama. XDES unggul sangat tipis dari sisi return NAV awal, yakni 1,94% vs 1,92%. Batas maksimum biaya MI dan kustodian XDES juga lebih rendah daripada XTRA.
Namun, return awal dan batas maksimum fee belum cukup untuk menentukan ETF yang lebih efisien.
Dalam beberapa bulan mendatang, investor perlu melihat:
tracking error;
spread;
volume perdagangan;
NAV vs harga pasar;
AUM;
biaya aktual;
konsistensi dealer partisipan;
keterbukaan portofolio.
XTRA dan XDES memiliki fondasi produk yang sangat mirip: sama-sama ETF syariah dengan minimum 95% aset pada emas. XDES sementara mencatat return NAV 1,94%, sedikit di atas XTRA 1,92%. Prospektus XDES juga menetapkan batas maksimum biaya Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang lebih rendah. Namun, adalah biaya murah belum tentu tracking lebih baik.
Dalam ETF Emas, kualitas produk baru benar-benar terlihat setelah investor dapat membandingkan seberapa efisien masing-masing ETF mengikuti harga emas, setelah memperhitungkan biaya, spread, likuiditas, dan tracking error. Jadi untuk sekarang, belum waktunya menentukan “ETF Emas terbaik”. Yang lebih penting adalah mulai mengetahui indikator apa yang harus dibandingkan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Romainah/Reynaldi Gumay/AM)
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Per 10 Agustus 2026, XDES 1,94% dan XTRA 1,92%.
Batas maksimum fee di prospektus XDES memang lebih rendah pada beberapa komponen, tetapi itu bukan berarti biaya aktual selalu sebesar batas tersebut.
Keduanya menempatkan minimum 95% NAB pada aset emas.
Perbedaan antara return ETF dan pergerakan harga emas acuannya.
Tracking error, spread, volume, harga pasar vs NAV, biaya aktual, dan likuiditas.