
Bareksa - Kondisi global dalam beberapa waktu terakhir masih diwarnai ketidakpastian. Suku bunga tinggi yang diperkirakan akan bertahan lebih lama (higher for longer), ditambah dinamika geopolitik, membuat arah pasar keuangan belum sepenuhnya jelas. Di sisi lain, tekanan inflasi masih terasa dalam kehidupan sehari-hari, dari kenaikan harga bahan bakar, pangan hingga biaya layanan.
Situasi ini membuat strategi keuangan menjadi semakin penting. Menyimpan dana saja tidak cukup masyarakat perlu memastikan dana tersebut tetap berkembang agar tidak tergerus inflasi.
Selama ini, deposito masih menjadi salah satu instrumen favorit untuk menyimpan dana. Alasannya sederhana, yaitu relatif aman dan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa.
Namun, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Suku bunga deposito saat ini cenderung terbatas, salah satunya karena mengacu pada tingkat bunga penjaminan LPS yang berada di kisaran 3,5% (sebelum pajak). Setelah dikenakan pajak 20%, imbal hasil bersih yang diterima nasabah menjadi lebih rendah, sekitar 2,8%.
Di tengah tekanan inflasi saat ini, tingkat imbal hasil bisa terasa kurang optimal, terutama bagi investor yang ingin menjaga daya beli dan pertumbuhan nilai dananya. Sebagai gambaran, inflasi per Maret 2026 mencapai 3,48% secara tahunan (year-on-year/yoy) menurut data BPS. Oleh karena itu, imbal hasil di deposito dapat tergerus inflasi jika dihitung setelah potongan pajak.
Sebagai alternatif, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) kini mulai banyak dilirik. Instrumen ini mengelola dana pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga relatif stabil namun tetap produktif.
Berikut perbandingan sederhananya:
Karakteristik | Deposito | Reksa Dana Pasar Uang |
|---|---|---|
Likuiditas | Jangka waktu tertentu dan pencairan sebelum jatuh tempo biasanya dikenakan pinalti. | Lebih fleksibel karena dapat dicairkan kapan saja sesuai kebutuhan, tanpa pinalti. |
Imbal hasil | Deposito sekitar 3,5% p.a. (dijamin LPS dan belum termasuk pajak) | Potensi imbal hasil yang lebih kompetitif, tergantung kinerja pasar, dengan kisaran historis sekitar 4,5% p.a. |
Pajak | 20% dari bunga. | Tidak dikenakan pajak langsung karena sudah tercermin dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) |
Diversifikasi | Hanya ditempatkan pada satu bank | Mengalokasikan dana ke berbagai instrumen pasar uang, sehingga lebih terdiversifikasi |
Sumber: LPS, Bareksa
Perbedaan ini menunjukkan bahwa selain faktor keamanan, fleksibilitas dan potensi imbal hasil juga menjadi pertimbangan penting.
Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi sederhana dengan modal awal sebesar Rp10 juta selama 1 tahun:
Keterangan | Deposito* | Reksa Dana** |
|---|---|---|
Modal Awal | Rp 10.000.000 | Rp 10.000.000 |
Perkiraan Imbal Hasil | 3,5% p.a | 4,5% p.a |
Pajak | 20% | - |
Perkiraan Imbal Hasil Bersih | 2,8% p.a | 4,5% p.a |
Total Investasi | Rp 10.280.000 | Rp 10.450.000 |
Perkiraan Keuntungan | Rp 280.000 | Rp 450.000 |
*Deposito dijamin LPS
**Data Kinerja Reksa Dana Maybank Dana Pasar Uang setahun per 30 April 2026
Seperti terlihat di dalam tabel, reksa dana berpotensi memberikan hasil lebih optimal karena tidak dikenakan pajak lagi. Dengan simulasi modal awal sebesar Rp10 juta, investor Reksa Dana berpotensi mendapat return sebesar Rp 450.000, sementara pada deposito sebesar Rp 280.000.
Selisih pada simulasi di atas mungkin terlihat kecil, namun, jika modal awal yang ditempatkan berjumlah lebih besar atau periodenya lebih panjang, perbedaan tersebut dapat terlihat signifikan.
Salah satu produk yang dapat dipertimbangkan adalah Maybank Dana Pasar Uang. Reksa Dana ini mencatatkan return historis sekitar 4,5% setahun per 30 April 2026. Dana kelolaan (AUM) Reksa Dana Maybank Dana Pasar Uang yang dikelola oleh PT Maybank Asset Management per 30 April 2026 telah mencapai Rp 495 miliar.
Portofolionya ditempatkan pada instrumen pasar uang seperti deposito dan surat utang jangka pendek (kurang dari 1 (satu) tahun), yang cenderung memiliki volatilitas lebih rendah dibandingkan instrumen jangka panjang.
Dengan karakteristik tersebut, produk ini dapat menjadi pilihan bagi investor yang mencari keseimbangan antara stabilitas dan potensi imbal hasil.
Deposito tetap memiliki peran sebagai instrumen yang aman dan konservatif. Namun, dengan keterbatasan imbal hasil dan fleksibilitas, penting bagi investor untuk mempertimbangkan alternatif lain.
Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan potensi imbal hasil tanpa mengorbankan kemudahan akses dana. Di tengah ketidakpastian, strategi bukan hanya soal menjaga keamanan, tetapi juga memastikan dana tetap berkembang secara optimal.
(ADV)
* * *
DISCLAIMER
Konten bersponsor. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon nasabah wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
PT Maybank Asset Management selaku Manajer Investasi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksa dana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksa dana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
Tentang Penulis
* Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik.