Saham Perbankan Mulai Dilirik, Reksa Dana Indeks STAR Opsi Diversifikasi Menarik

Hanum Kusuma Dewi • 13 Feb 2026

an image

STAR Infobank 15 Kelas Utama berisikan saham-saham perbankan besar maupun menengah dengan kinerja yang sudah terseleksi

Bareksa – Dalam beberapa waktu terakhir, pasar saham domestik bergerak lebih dinamis. Sentimen global, isu metodologi indeks, hingga arus dana asing yang berbalik arah membuat volatilitas meningkat. Investor pun cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana, tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi mulai kembali mencermati fundamental sektor dan emiten.

Setelah tahun lalu IHSG mencatat kenaikan signifikan, sektor perbankan justru menunjukkan kinerja yang terbatas. Padahal, secara fundamental, sektor yang sering menjadi cerminan ekonomi Indonesia ini masih memiliki fundamental kuat. 

Harga saham-saham perbankan yang terbilang undervalued saat ini, bisa menjadi peluang untuk masuk bagi investor agresif dalam jangka panjang. Dan untuk investor yang tidak mau repot, diversifikasi dengan reksa dana indeks bisa menjadi pertimbangan, termasuk dengan STAR Infobank 15 Kelas Utama

Kinerja Sektor Bank dan Dinamika Arus Asing

Data per 9 Februari 2026 menunjukkan indeks saham perbankan, yaitu Infobank15 terkoreksi 3,8% dalam setahun terakhir, sementara IHSG mencatatkan kenaikan 20,81% dan LQ45 naik 6,17% pada periode yang sama. Perbedaan ini menunjukkan bahwa reli pasar sebelumnya cenderung terkonsentrasi, sementara sektor perbankan relatif tertinggal.

Sumber: Bareksa, data per 9 Februari 2026

Selain faktor sektoral, arus dana asing juga turut berpengaruh pada pergerakan pasar. Hingga 9 Februari 2026, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp11,74 triliun sejak awal tahun di pasar saham domestik. Tekanan arus dana seperti ini umumnya berdampak pada volatilitas harga, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.

Di sisi lain, perhatian terhadap aspek transparansi dan metodologi indeks global turut meningkatkan sensitivitas pasar terhadap struktur kepemilikan dan free float. Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga saham dalam jangka pendek dapat lebih dipengaruhi oleh sentimen dan arus dana dibandingkan perubahan fundamental emiten.

Lalu bagaimana dengan kondisi industri perbankan itu sendiri?

Fundamental Industri Perbankan Masih Terjaga

Secara industri, indikator fundamental perbankan nasional masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7,74% secara tahunan (yoy) per November 2025, meningkat dari 7,46% pada Oktober 2025. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan dan permintaan pembiayaan tetap tumbuh.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,21% pada November 2025, turun dari 2,25% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 26,05%, yang mencerminkan permodalan industri masih kuat.

Kombinasi pertumbuhan kredit, kualitas aset yang terjaga, serta permodalan yang solid.

Dari Pasar Terkonsentrasi ke Strategi Rebalancing

Dalam fase pasar yang lebih selektif, sebagian investor mulai mempertimbangkan strategi rebalancing sektor. Sektor yang sebelumnya tertinggal secara harga namun memiliki fundamental yang relatif stabil kerap menjadi bahan pertimbangan dalam penyesuaian portofolio.

Namun demikian, memilih saham perbankan secara individual tidak selalu mudah. Setiap bank memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi segmen kredit, struktur pendanaan, maupun strategi ekspansi. Perbedaan tersebut dapat berpengaruh pada kinerja masing-masing saham.

Bagi investor yang ingin memperoleh eksposur ke sektor perbankan tanpa harus melakukan analisis dan pemilihan saham satu per satu, pendekatan berbasis indeks dapat menjadi alternatif, yaitu dengan reksa dana indeks. 

Diversifikasi Saham Bank Melalui Reksa Dana Indeks

Salah satu pilihan untuk memperoleh eksposur sektor perbankan adalah melalui reksa dana indeks yang mengacu pada indeks saham perbankan, seperti STAR Infobank 15 Kelas Utama.

Reksa dana ini mengacu pada indeks yang terdiri dari sejumlah saham perbankan, yang diseleksi berdasarkan kriteria tertentu. Berikut top holdings reksa dana, yang mencakup berbagai bank besar maupun menengah, menurut Fund Fact Sheet Januari 2026: 

  • Bank Central Asia Tbk (BBCA)

  • Bank Cimb Niaga Tbk (BNGA)

  • Bank Jago Tbk (ARTO)

  • Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)

  • Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)

  • Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK)

  • Bank OCBC NISP Tbk (NISP)

  • Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)

  • Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) 

  • Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)

Dengan pendekatan berbasis indeks, investor memperoleh diversifikasi dalam satu produk, sehingga tidak bergantung pada kinerja satu saham tertentu. Strategi ini juga menawarkan transparansi karena komposisi portofolio mengikuti struktur indeks yang menjadi acuannya.

Per 9 Februari 2026, kinerja produk tercatat tumbuh 0,91% dalam sebulan meski terkoreksi 0,85% secara year-to-date. Dalam periode setahun, STAR Infobank15 Kelas Utama mencatatkan kenaikan 0,44%, relatif lebih stabil dibandingkan indeks sektoral yang terkoreksi lebih dalam.

Sebagai reksa dana indeks, pergerakan produk akan mengikuti dinamika sektor perbankan itu sendiri, baik dalam fase tekanan maupun pemulihan.

Menimbang Strategi di Tengah Volatilitas

Pasar saham secara alami bergerak dalam siklus. Ada periode ketika kenaikan indeks terkonsentrasi pada sektor tertentu, dan ada fase ketika investor kembali mencermati fundamental secara lebih mendalam.

Di tengah dinamika tersebut, sektor perbankan yang relatif tertinggal secara harga namun didukung indikator industri yang masih stabil dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam strategi rebalancing. Akan tetapi, strategi ini harus tetap memperhatikan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Pendekatan melalui reksa dana indeks berbasis sektor dapat menjadi alternatif bagi investor agresif yang ingin mendapatkan eksposur terdiversifikasi ke saham-saham perbankan tanpa perlu melakukan pemilihan emiten secara individual.

STAR Infobank 15 Kelas Utama bisa menjadi pertimbangan buat investor agresif jangka panjang yang ingin memanfaatkan momentum masuk di saat valuasi menarik saat ini. Reksa dana indeks ini tersedia di Aplikasi Investasi Bareksa dan bisa dibeli dengan modal mulai Rp100.000 saja. 

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksa dana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksa dana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Beli STAR Infobank 15 Kelas Utama

(ADV | hm)

* * *

DISCLAIMER

Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksa dana.