Bagaimana Peluang Investasi Pasar Modal Berkelanjutan?

Hanum Kusuma Dewi • 06 Dec 2021

an image
Ilustrasi keuangan berkelanjutan, di antaranya investasi yang berwawasan lingkungan, obligasi dan SBN Berkelanjutan, hingga reksadana ESG. (Shutterstock)

ESG dapat dijadikan salah satu pertimbangan untuk melakukan diversifikasi portfolio investasi dengan tetap mempelajari terlebih dahulu fundamental dari instrument investasi tersebut

Bareksa.com - Investasi berkelanjutan (sustainable investment) atau yang khususnya di pasar modal lebih dikenal dengan investasi ESG (environmental, social, governance), dinilai akan semakin berkembang. Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR AM) menilai tren ini semakin meningkat di masa pandemi COVID-19.

Bahkan, dalam keterangan tertulisnya kepada media, STAR AM menilai bukan tidak mungkin dalam 5 tahun – 10 tahun ke depan, setiap investor di dunia termasuk di Indonesia, hanya akan berinvestasi pada saham-saham yang tergolong saham berkelanjutan. Salah satu jenis investasi yang berlandaskan prinsip ESG, dapat berupa investasi reksadana yang berinvestasi pada saham – saham perusahaan yang menganut prinsip ESG. 

Untuk mengetahui bagaimana potensi investasi ESG ke depannya, STAR AM menyampaikan pada 25 November 2021 lalu menggelar webinar yang mengusung tema investasi berbasis ESG khususnya pada era pasca pandemi. Dibahas lebih dalam tentang sustainable investing yang sudah merambah ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Susanto Chandra, Chief Investment Officer STAR AM menyampaikan isu perubahan iklim sedang menjadi topik dunia dan berbagai risikonya membuat tren investasi ESG meningkat beberapa tahun terakhir. Alasannya, bukan hanya berinvestasi pada perusahaan yang menerapkan prinsip ESG tetapi juga berinvestasi yang memberikan dampak positif untuk kelestarian lingkungan.

Untuk mendukung penanganan perubahan iklim, para investor dunia mulai mengarahkan investasi kepada sustainable investing. Penerapan prinsip ESG pada perusahaan dinilai memberikan pengaruh yang positif terhadap kinerja keuangan mereka.

Susanto menilai bahwa menuju tren peningkatan suku bunga, para investor dapat menerapkan ESG investing untuk memperoleh manfaat dari sisi diversifikasi, mitigasi downside risk dan potensi imbal hasil yang lebih optimal. Makanya, ia melanjutkan dengan masyarakat yang sudah mulai aware dan perhatian terhadap lingkungan, ESG diperkirakan akan terus menjadi tren ke depannya.

"ESG dapat dijadikan salah satu pertimbangan untuk melakukan diversifikasi portfolio investasi dengan tetap mempelajari terlebih dahulu fundamental dari instrument investasi tersebut," kata Susanto Chandra dalam keterangan tertulis STAR AM kepada media.

Produk ESG STAR AM

STAR AM, sebagai Manajer Investasi menyampaikan juga turut berpartisipasi pada ESG investing. Partisipasi dimaksud melalui tiga produk reksadananya yaitu:

Pertama, STAR Sustainable Equity – produk reksadana open end dalam mata uang rupiah yang berinvestasi pada saham – saham perusahaan yang menganut prinsip ESG di Indonesia.

Kedua, STAR ETF Sri Kehati - produk reksadana indeks bebasis ESG yang bertujuan memberikan imbal hasil mengikuti indeks SRI-KEHATI.

Ketiga, Star Balance Green - produk reksadana campuran syariah yang akan berinvestasi pada instrumen yang menganut prinsip ESG. Rencananya akan diluncurkan di Q1 2022.

Dukungan Pemerintah, OJK, dan BEI

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang diwakili Suminto, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal/Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan,  menyampaikan di tengah upaya pemulihan ekonomi dan dunia usaha pasca pandemi Covid-19, pemerintah tetap berkomitmen dalam melakukan transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Proses transisi tersebut dilakukan dengan baik agar dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, meningkatkan lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan. Antara lain dengan inisiatif Kementerian Keuangan mencakup insentif pajak, climate budget tagging, mengembangkan climate change fiscal framework, mengembangkan inovasi pembiayaan termasuk green bond dan SDG bond, serta carbon pricing (carbon tax dan carbon trading).

Pemerintah mengapresiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga serius dengan agenda sustainable investment. OJK telah menerbitkan Sustainable Roadmap 2021-2025 yang merupakan kelanjutan dari Roadmap tahap pertama (2015-2019). Roadmap untuk mendukung penciptaan ekosistem keuangan berkelanjutan secara komprehensif.

BEI juga turut melancarkan inisiatif-inisiatif dalam mendukung pengembangan sustainable investing di Indonesia. Laksono W. Widodo, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa mengatakan BEI secara konsisten terus mendukung pengembangan dan penerapan ESG di pasar modal Indonesia, sebagai salah satu langkah awal pada tanggal 18 April 2019, BEI telah bergabung sebagai partner dalam sustainable stock exchange (SSE).

(Martina Priyanti/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.