Tengah Naik Daun, Yuk Intip Rahasia Dapur Sucorinvest Stable Fund

Abdul Malik • 08 Sep 2021

an image
Ilustrasi manajer investasi sedang mengelola produk reksadananya sehingga berhasil membukukan lonjakan dana kelolaan dan kinerja. (Shutterstock)

SSF tepat bagi nasabah yang memiliki target investasi jangka menengah antara 1 – 3 tahun

Bareksa.com - Usianya memang masih muda, baru diluncurkan sejak Februari 2020 atau baru sekitar 1,5 tahun. Namun Sucorinvest Stable Fund (SSF), produk reksadana pendapatan tetap kelolaan Sucor Asset Management tengah naik daun. ​

Ini terlihat dari tingginya minat investor terhadap reksadana ini. Sehingga kelolaan reksadana Sucorinvest Stable Fund yang bisa dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000 ini pun meroket.

Pada akhir tahun lalu, reksadana ini baru mengelola dana investor senilai Rp138 miliar. Namun fantastis, pada Juli 2021, nilai kelolaan Sucorinvest Stable Fund mencapai Rp2,11 triliun atau naik lebih dari 15 kali lipat.

Senada, jumlah unit penyertaan investor terhadap reksadana ini juga melesat dari hanya 123,9 juta unit penyertaan di Desember 2020, melesat jadi 1,86 miliar unit penyertaan pada Juli 2021.

Sumber : Bareksa

Kinerja reksadana berbasis surat utang ini pun tergolong stabil bertumbuh. Sepanjang tahun berjalan (YtD) hingga 7 September, Sucorinvest Stable Fund membukukan imbalan 6,51 persen dan setahun terakhir 9,37 persen. 

Sumber : Bareksa

Di tengah gejolak pasar akibat gelombang II pandemi Covid-19 tahun ini, serta sentimen pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Sucorinvest Stable Fund memang bisa dipilih untuk diversifikasi investasi atau cocok bagi investor dengan profil risiko moderat.

Apa sih sebenarnya rahasia dapur Sucor AM dalam meracik Sucorinvest Stable Fund sehingga diminati investor? Yuk intip resep rahasia reksadana ini.

Taufan Yamin, Investment Specialist Sucor AM buka-bukaan mengenai pengelolaan Sucorinvest Stable Fund dalam wawancara dengan Bareksa akhir pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya :

Sucorinvest Stable Fund berhasil jadi salah satu reksadana pendapatan tetap yang saat ini sedang naik daun dan diminati investor. Bagaimana strategi Sucor AM mengelola Sucorinvest Stable Fund di tengah kondisi pasar saat ini?

Kami melihat Sucorinvest Stable Fund sebagai reksadana pendapatan tetap yang dapat memberikan imbal hasil yang cukup menarik. Alokasi portfolio SSF berfokus pada obligasi korporasi, yang umumnya memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah, sekaligus pergerakan pasar obligasi korporasi yang cukup stabil.

Selain itu, kami menyukai obligasi korporasi minimum rating A- dengan tenor 1-3 tahun, karena secara risiko, likuiditas dan imbal hasil cukup menarik.

Bagaimana kinerja terkini reksadanaSucorinvest Stable Fund?

Kinerja terkini dari SSF dapat di cek langsung pada fund fact sheet yang dirilis setiap awal bulan. Hingga Juli 2021, kami mampu memberikan return stabil 9.62 persen secara tahunan (YoY), melebihi dari benchmark indeks yang kami gunakan yaitu Infovesta Fixed Income Fund Index (IFIFI) 6.3 persen.

Sedangkan sepanjang 2021, kami telah mampu memberikan return 5.65 persen YtD. Selama kurang lebih 1,5 tahun sejak kami meluncurkan SSF di 26 Februari 2020, kami telah mampu memberikan return 13.59 persen kepada nasabah.

Kelolaan Sucorinvest Stable Fund melesat dari Desember 2020 hanya Rp138 miliar, melonjak jadi Rp2,11 triliun pada Juli 2021, apa pendorongnya? Berapa target hingga akhir 2021?

SSF memang merupakan produk reksadana yang baru dilaunching pada 2020, jadi sangat wajar dalam tahap awal pengenalan produk kami hingga Desember tahun lalu masih belum terlalu banyak jumlah investornya.

Sedangkan, kenaikan pada nilai aktiva bersih (NAV) ini tidak terlepas dari peran kerja sama dengan beberapa APERD seperti Bareksa dan lainnya dalam menjangkau pasar investor ritel yang lebih luas lagi. Target hingga akhir tahun adalah kami dapat mencapai dana kelolaan lebih dari Rp5 triliun.

Nilai aktiva versih (NAB) per unit Sucorinvest Stable Fund juga naik dari 1.075 per 30 Desember 2020 jadi 1.143 per 1 September 2021, apa penyebabnya?

Kenaikan NAV seiring dengan kenaikan kinerja SSF yang positif sejak awal tahun.

Alokasi investasi Sucorinvest Stable Fund juga tampak bergeser, di mana porsi di portofolio per Desember 2020 obligasi menyumbang 90,92 persen dan pasar uang 9,08 persen, kemudian bergeser jadi obligasi 94,49 persen dan pasar uang 5,51 persen pada Juli 2021, kenapa?

Perubahan ini sesuai dengan pertimbangan kami dalam mengelola portfolio, di mana akhir tahun lalu supply obligasi korporasi yang berkualitas cukup terbatas dengan beberapa nama yang juga jatuh tempo.

Sementara pada tahun ini kami kembali menambah beberapa nama obligasi seiring dengan meningkatnya AUM (asset under management/dana kelolaan) SSF dan supply obligasi korporasi yang membaik pada kuartal kedua.

Top portofolio investasi reksadana ini per Juli 2021 ialah Obligasi INKP01BCN3, Obligasi PPRO02CN2, Obligasi PSAB01ACN5, Obligasi SMMF01BCN3, dan Sukuk SIMORA01ACN4. Mengapa memilih obligasi ini? Mengapa portofolio didominasi obligasi korporasi ketimbang SBN?

Alokasi portfolio SSF sendiri berfokus pada obligasi korporasi yang umumnya memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah, sekaligus pergerakan pasar obligasi korporasi yang cukup stabil.

Selain itu, kami menyukai obligasi korporasi minimum rating A- dengan tenor 1-3 tahun karena secara risiko, likuiditas dan imbal hasil cukup menarik.

Ada portofolio obligasi lain yang sangat mempengaruhi kinerja Sucorinvest Stable Fund?

SSF fokus berinvestasi pada obligasi korporasi tenor 1-3 tahun yang memiliki rating minimun A-. Kinerja Sucorinvest Stable Fund dalam jangka sebulan terakhir (per 1 September 2021) dan sepanjang tahun berjalan masing-masing membukukan imbalan 0,69 persen dan 6,38 persen.

Setahun terakhir berhasil mencatat return 9,43 persen. Bisa dijelaskan apa rahasianya?

Di tengah pandemi yang sedang tinggi pada tahun lalu, kami melihat terdapat banyak sekali obligasi korporasi di pasar dengan imbal hasil (yield) yang tinggi hingga 2 digit akibat adanya panic selling.

Di tengah kepanikan pasar ini, kami justru mengambil kesempatan melihat kemampuan bayar perusahaan sebernarnya masih cukup terjaga terutama pada obligasi korporasi dengan tenor pendek 1-3 tahun dan tentunya kami tetap memperhatikan rating minimum A-. Oleh sebab itu, kami dapat mencetak kinerja yang cukup baik.

Hingga akhir 2021 dan ke depannya, bagaimana strategi pengelolaan investasi Sucorinvest Stable Fund?

SSF akan terus mengedepankan stabilitas dan likuiditas dengan tetap berfokus pada obligasi korporasi yang umumnya memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah, sekaligus pergerakan pasar obligasi korporasi yang cukup stabil.

Selain itu, kami menyukai obligasi korporasi minimum rating A- dengan tenor 1-3 tahun karena secara risiko, likuiditas dan imbal hasil cukup menarik.

Bagaimana saran Sucor AM kepada nasabah yang memiliki Sucorinvest Stable Fund dalam portofolionya saat ini?

Tetap fokus pada target investasi yang cocok dengan profil risiko masing-masing secara realistis, karena setiap investasi memiliki risikonya tersendiri.

Berinvestasi di SSF merupakan Langkah yang tepat bagi nasabah yang memiliki target investasi menengah 1 – 3 tahun, namun menginginkan return yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Sucorinvest Money Market Fund (SMMF).

Perlu diperhatikan bahwa SSF memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan reksadana pasar uang (RDPU), namun kami berkomitmen untuk mengelola SSF sebaik mungkin untuk dapat menjaga stabilitas kinerja dan tingkat likuiditas yang optimal.

(Martina Priyanti/AM)

​​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.