Ingin Investasi Jangka Panjang? Reksadana Indeks Bisa Dipilih

Abdul Malik • 24 May 2021

an image
Ilustrasi investor yang sedang memantau perkembangan pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), SBN, harga minyak hingga emas, yang berpengaruh terhadap investasinya di reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Reksadana indeks ialah reksadana yang meniru portofolio indeks acuannya, baik itu indeks saham maupun indeks obligasi

Bareksa.com - Reksadana indeks merupakan salah satu jenis reksadana yang disarankan dipilih sebagai instrumen investasi oleh Warren Buffet, legenda hidup investasi dunia.

Reksadana indeks ialah reksadana yang meniru portofolio indeks acuannya, baik itu indeks saham maupun indeks obligasi. Karena itu, tujuan dari penerbitan reksadana indeks adalah meniru pergerakan indeks acuannya.

Jadi, sebuah reksadana indeks memang tidak memiliki imbal hasil (return) yang sama persis seperti indeks acuan, tapi angkanya sangat mendekati. Artinya, target performa investasinya bukan untuk mengalahkan kinerja indeks acuannya, melainkan hanya menyamai.

Kinerja sebuah reksadana indeks dapat dikatakan semakin baik apabila memiliki selisih kinerja yang semakin kecil dari indeks acuannya.

Diversifikasi Investasi

Tubagus Farash Akbar Farich, Direktur PT Avrist Asset Management menyatakan reksadana indeks bisa jadi salah satu pilihan bagi investor yang tengah mencari instrumen investasi termasuk untuk diversifikasi investasi.

"Usia berinvestasi semakin panjang karena dimulai lebih cepat oleh karena itu kebutuhan akan instrumen jangka panjang juga bertambah salah satunya reksadana indeks saham," kata Farash kepada Bareksabeberapa waktu lalu.

Dia melanjutkan dari potensi return jangka panjang reksadana indeks masih paling tinggi dibandingkan reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

Kelebihan Reksadana Indeks

Dibandingkan reksadana saham konvensional, Bareksamencatat reksadana indeks punya beberapa keunggulan, antara lain :

1. Investasi Terjangkau

Bila seorang investor ingin melakukan diversifikasi namun punya dana yang terbatas, Reksadana indeks bisa jadi pilihan. Dengan membeli reksadana indeks, misalnya Reksa Dana Indeks Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund, otomatis kita seperti membeli 22 saham yang ada dalam indeks itu, namun dengan minimal pembelian mulai dari Rp50.000.

Sedangkan, tanpa reksadana indeks kita harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk melakukan diversifikasi ke 22 saham tersebut.

2. Biaya Pengelolaan (Management Fee) Lebih Murah

Reksadana indeks dikelola secara pasif, sehingga manajer investasi tidak banyak melakukan transaksi dalam pengelolaan portofolionya. Ini membuat biaya pengelolaan (expense ratio) dari reksadana indeks lebih kecil dari reksadana konvensional.

Jadi, daripada dikelola secara aktif, pendekatan dari reksadana indeks adalah secara pasif dengan menyusun portofolio investasi menyerupai indeks acuannya.

Karena komposisinya mirip atau bahkan persis dengan indeks acuan, maka hasilnya juga tentunya akan mirip dengan indeks acuannya.

Cara ini dikenal pula dengan strategi manajemen pasif (passive management strategy). Pengelolaan secara pasif menghasilkan efisiensi biaya karena manajer investasi tidak memerlukan tenaga analis yang banyak untuk menganalisis saham atau obligasi sebuah perusahaan.

Kemudian biaya transaksi juga menjadi lebih kecil karena manajer investasi tidak melakukan trading jual beli secara aktif. Karena itu, biaya reksadana indeks umumnya lebih kecil dibandingkan reksadana konvensional.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.