Syailendra: 2021, Tahun Reksadana Saham

Hanum Kusuma Dewi • 22 Jan 2021

an image
Syailendra memandang investasi aset saham pada 2021 dapat memberikan kinerja yang lebih baik dibanding pendapatan tetap dengan kelancaran proses vaksinasi sebagai kunci

Produk yang menjadi rekomendasi adalah Syailendra Equity Opportunity Fund (SEOF)

Bareksa.com - Setelah mengalami ketidakpastian di 2020, pasar saham diperkirakan bangkit pada 2021. Hal ini tentu berpotensi mendorong kinerja reksadana saham. 

Syailendra Capital dalam Market Insight 20 Januari 2021 menjelaskan bahwa kelancaran program vaksinasi oleh pemerintah akan menentukan arah perbaikan ekonomi dan pergerakan pasar 2021. Sebab, dosis vaksin yang sudah dipesan (firm orders) dapat mencukupi target pemerintah untuk memvaksinasi 67 persen populasi. 

"Kinerja investasi saham kami perkirakan akan mengalahkan kinerja pendapatan tetap pada 2021," tulis Syailendra dalam riset berjudul berjudul 2021: The Year for Equity yang sudah dibagikan kepada nasabah tersebut. 

Syailendra menyebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencerminkan pasar modal akan ditopang oleh pemulihan laba perusahaan. Di sisi lain, banyaknya pasokan obligasi akan membatasi kinerja investasi pendapatan tetap. 

Syailendra memperkirakan pertumbuhan laba emiten tahun 2020 untuk saham-saham pilihan Syailendra (SC equity universe) berkisar minus 30 sampai minus 35 persen dari tahun ke tahun (year on year/yoy). Di saat yang sama, prediksi laba 2021 berkisar 30 persen yoy dengan kontribusi terbesar berada pada kuartal kedua dan ketiga 2021, akibat kinerja terburuk di tahun sebelumnya sehingga peningkatannya akan terlihat tinggi (lowbase effect). 

Selain itu, partisipasi investor ritel yang meningkat dapat mendorong kinerja saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah (mid-small cap). Melihat kejadian historis 10 tahun terakhir, Syailendra memperkirakan IHSG akan cenderung mengalahkan saham-saham besar yang masuk LQ45 dalam jangka pendek.

Seperti terlihat di dalam grafik, IHSG bisa memiliki kinerja lebih tinggi daripada LQ45 di tahun-tahun dengan meningkatnya partisipasi investor ritel di pasar saham. 

Grafik Perbandingan Kinerja IHSG, LQ45 dan Saham Small Cap
Sumber: Bloomberg, Syailendra Research

Syailendra menjelaskan partisipasi ritel lebih besar dibandingkan investor institusi pada 2020. Hal ini dapat disebabkan dari meningkatnya uang tunai (excess cash) dan waktu luang yang dikarenakan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi.  

Grafik Porsi Investor Domestik Ritel, Institusi dan Asing di Pasar Saham
Sumber: KSEI, Syailendra Research

"Berdasarkan poin di atas, kami memandang bahwa investasi aset saham pada 2021 dapat memberikan kinerja yang lebih baik dibanding pendapatan tetap dengan kelancaran proses vaksinasi sebagai kunci," tulis Syailendra. 

Salah satu produk yang menjadi rekomendasi dari manajer investasi ini adalah Syailendra Equity Opportunity Fund (SEOF), yaitu reksadana saham dengan alokasi optimum saham berkapitalisasi besar (large) dan menengah (mid cap) yang saat ini didominasi mid cap. Investor dapat memperoleh kinerja baik saham-saham mid small cap dengan risiko yang seimbang.

Sebagai pengingat, reksadana saham memiliki risiko yang tinggi karena bisa naik turun (fluktuasi) jangka pendek tetapi menawarkan potensi imbal hasil tinggi jangka panjang. Reksadana saham disarankan untuk investor agresif dengan tujuan jangka panjang di atas 5 tahun. 

* * *

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.