Pasar Turun Naik akibat Pandemi, Ini Review Kinerja Reksadana 2020

Hanum Kusuma Dewi • 28 Dec 2020

an image
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencerminkan pasar modal telah tertekan sejak awal tahun.

Reksadana saham paling tertekan, sementara pendapatan tetap paling untung

Bareksa.com - Pasar modal mengalami terpaan sepanjang tahun ini, karena berbagai sentimen negatif mulai dari perang dagang hingga ancaman krisis akibat Covid-19. Kinerja reksadana yang berbasis saham paling tertekan di antara jenis reksadana dalam industri. ​​

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencerminkan pasar modal telah tertekan sejak awal tahun. Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi sentimen negatif bagi pasar saham global. Di akhir Januari 2020, IHSG turun 3,84 persen dibandingkan penutupan tahun lalu. 

Tekanan pada IHSG semakin dalam ketika World Health Organization (WHO) mengumumkan wabah virus Corona menjadi pandemi yang berimplikasi global pada Maret 2020. IHSG menyentuh level terendah tahun ini di 3.938 pada 24 Maret 2020, anjlok 37,49 persen dari awal tahun. 

Kemudian, perlahan IHSG mulai naik seiring dengan berbagai stimulus yang diluncurkan oleh Pemerintah. Selain itu, pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja pada Oktober dan diundangkan pada November juga membawa angin segar bagi pasar saham. 

Kondisi global juga berangsur membaik, dengan lancarnya pemilihan presiden (pilpres) AS yang membawa hasil sesuai ekspektasi pasar. Terbaru, pengembangan dan kedatangan vaksin di Indonesia juga memberi dorongan besar hingga IHSG kembali tembus level 6.000 di awal Desember 2020. 

Grafik Pergerakan IHSG, LQ45 dan Indeks Reksadana Bareksa
Sumber: Bursa Efek Indonesia, Bareksa.com

Menurut data Bareksa, reksadana berbasis saham paling terseret oleh berbagai sentimen yang terjadi sepanjang tahun ini. IHSG mencatat penurunan 4,62 persen dan LQ45 minus 7,66 persen secara year to date (awal tahun hingga 23 Desember 2020). 

Per 23 Desember 2020, Indeks Reksadana Saham Bareksa juga turun 7,53 persen sepanjang tahun. Indeks Reksadana Campuran Bareksa merosot 0,88 persen. 

Adapun Indeks Reksadana Pasar Uang Bareksa melemah 0,49 persen. Hal ini lebih disebabkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7 DRRR) yang sudah turun 125 basis poin sejak awal tahun. Suku bunga acuan yang rendah menekan tingkat bunga deposito dan dampaknya ke reksadana pasar uang. 

Satu jenis reksadana yang mendapatkan keuntungan dari kondisi ini adalah reksadana pendapatan tetap karena penguatan harga obligasi terutama surat berharga negara (SBN). Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Bareksa mencatat return 6,87 persen sepanjang tahun berjalan (hingga 23 Desember 2020). 

Menguatnya reksadana pendapatan tetap seiring dengan yield obligasi negara yang turun mencapai level 5,9 persen per 18 Desember 2020, dibandingkan 7 persen di awal tahun. Yield yang turun menandakan harga obligasi di pasar naik karena permintaan yang meningkat. 

Grafik Pergerakan Yield SBN Tenor 10 Tahun
Sumber: Bursa Efek Indonesia, Bareksa.com

Investor cenderung mencari aset aman, seperti obligasi negara Indonesia yang dijamin oleh pemerintah. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasinegara Indonesia juga menarik dalam tren yield negatif secara global. 

Menjelang akhir tahun, pasar modal terlihat kembali bangkit dengan sentimen positif yang bisa mendorong pergerakan reksadana saham dan pendapatan tetap hingga tahun depan. 


***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.