CEO Mandiri Investasi, Alvin Pattisahusiwa : Strategi Jadi Juara Saat Pandemi dan Target 2021

Abdul Malik • 22 Dec 2020

an image
Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa (Dok. Mandiri Investasi)

Target total AUM tahun depan Rp64,7 triliun, di mana AUM Reksadana dibidik Rp50,4 triliun

Bareksa.com - Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report November 2020mencatat PT Mandiri Manajemen Investasi/ MMI atau Mandiri Investasi, kembali jadi Manajer Investasi (MI) jawara dana kelolaan reksadana pada November 2020, atau mampu mempertahankan predikat yang sama pada bulan sebelumnya.

Mandiri Investasi mengantongi dana kelolaan reksadana Rp48,37 triliun, pada November 2020 dengan menguasai market share 9 persen di industri. AUM reksadana anak perusahaan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang terbentuk pada Desember 2004 ini meningkat 3 persen secara bulanan (month on month/MoM), naik 8 persen year to date (YtD), dan melesat 10 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Top 2 MI Dana Kelolaan Reksadana Terbesar November 2020

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report November 2020 ​

Sepanjang tahun ini, Mandiri Investasi menjadi jawara dana kelolaan reksadana 5 kali pada Mei, Juli, September, Oktober dan November. Jelang tutup tahun di 2020, yakni pada Desember 2020 ini, jika Mandiri Investasi masih tetap mempertahankan kinerja dana kelolaannya yang positif, maka berpeluang kembali menjuarai dan mempertahankan status juara pada 2020.

Mandiri Investasi yang telah mencatatkan kinerja positif menunjukkan telah berhasil pulih dari dampak pandemi Covid-19 karena telah melampaui level akhir tahun lalu. Selain itu kinerja perseroan juga berhasil tumbuh meskipun dihantam dampak pandemi, dan pertumbuhannya secara YtD jauh di atas industri yang hanya naik 1 persen.

Untuk mengetahui bagaimana strategi Mandiri Investasi tetap bertumbuh dan mempertahankan statusnya sebagai perusahaan manajemen investasi juara sepanjang tahun ini dan bagaimana target kinerja perseroan di 2021, Martina Priyanti dari Bareksa mewawancarai Chief Executive Officer (CEO) PT Mandiri Manajemen Investasi, Alvin Pattisahusiwa, secara tertulis, Senin (21/12/2020). Berikut petikan wawancaranya :

Dengan realisasi AUM reksadana Mandiri Investasi yang senilai Rp48,37 triliun per November, berapa proyeksi hingga akhir 2020?

Kami berusaha untuk mencapai target di akhir tahun Rp 50 trilliun.Kenaikan AUM Perseroan di tahun 2020 utamanya ditopang oleh pertumbuhan AUM dari asset class reksadana pasar uang. Sampai dengan bulan November, reksadana pasar uang tumbuh 49,1 persen secara YtD atau Rp5,9 triliun.

Akhir tahun tinggal 10 hari lagi dan strategi kami seperti yang pada tahun ini masih sama tetap memfokuskan kepada beberapa produk unggulan di reksadana pasar uang, pendapatan tetap, dan untuk mengantisipasi pemulihan ekonomi kami juga mulai mengandalkan pada reksadana saham.

Apa saja evaluasi dan tren-tren baru yang dialami perseroan dari sisi pengelolaan reksadana sepanjang tahun ini karena diwarnai pandemi Covid-19?

Di tahun ini, dengan meningkatnya likuiditas di pasar dan kecenderungan investor risk-off, MMI melihat pertumbuhan yang sangat pesat pada jenis reksadana pasar uang. Dari sisi pengembangan produk, MMI lebih berhati-hati dalam pemilihan underlying terutama untuk reksadana terproteksi mengingat semakin langkanya emiten dengan kualitas yang baik di tengah pandemi.

Secara total AUM (tidak hanya reksadana) berapa realisasinya saat ini?

Total AUM MMI sampai dengan akhir November 2020 mencapai Rp 61,3 triliun, sementara untuk total AUM konsolidasi dengan subsidiary di Singapura Rp 66,9 triliun.

Perseroan tahun ini sejatinya di awal 2020 menargetkan AUM Rp66 triliun (secara total), Apakah melampaui target?

Melihat data di bulan November 2020, target AUM tersebut secara konsolidasi sudah tercapai dan kami berusaha untuk mempertahankan atau sedikit meningkatkan. Beberapa hal yang mendukung pencapaian target ini di antaranya adalah:

Pertama, tingginya likuiditas di pasar yang mendorong pertumbuhan terutama reksadana pasar uang. Sampai dengan November, AUM reksadana pasar uang nasional mengalami pertumbuhan year-to-date sampai dengan 31,3 persen. Untuk MMI sendiri, reksadana pasar uang di tahun ini hampir mencapai 50 persen. Hal ini didukung juga oleh pertumbuhan fund on fund reksadana pasar uang MMI dari subsidiari di Singapura.

Kedua, membaiknya kondisi pasar menjelang akhir tahun, didukung adanya kabar positif terkait distribusi vaksin mendorong pertumbuhan Reksadana Saham. Hal ini didukung pula oleh kenaikan AUM dari Reksadana Saham MGSED, yang MMI tawarkan kepada investor sebagai bentuk diversifikasi di tengah situasi pandemi. Di tengah turunnya AUM Reksadana Saham Nasional, unit penyertaan MGSED tumbuh 181 persen.

Bagaimana gambaran 2021, berapa target AUM perseroan tahun depan, total AUM berapa dan reksadana berapa?

Untuk tahun 2021, MMI menargetkan total AUM sebesar Rp 64,7 triliun, sedangkan untuk produk reksadana Rp50,4 triliun. Sementara secara konsolidasian ditargetkan AUM mencapai Rp69 triliun.

Seiring potensi pemulihan ekonomi pasca vaksinasi dan mulai kembalinya investor ke asset class yang lebih berisiko, MMI rencananya akan mulai memfokuskan penjualan pada risky assets seperti reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap. Untuk masing-masing asset class, MMI memiliki produk-produk yang kinerjanya telah terbukti unggul serta memiliki keunikan yang dapat menjadi solusi kebutuhan Investasi bagi investor. Untuk kategori reksadana saham, produk unggulan MMI di antaranya adalah MGSED dan ASEAN5.

Sementara itu, untuk kategori RD pendapatan tetap MMI memiliki MIDO 2, Mandiri Investasi Obligasi Nasional dan IDAMAN. Melalui peningkatan komposisi reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap dalam bauran produk MMI, diharapkan perseroan dapat meningkatkan blended margin. Distribusinya pun akan difokuskan melalui channel yang dapat memberikan kontribusi margin yang lebih tinggi. Tidak hanya dari reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap, MMI juga menargetkan pertumbuhan dari asset class lainnya di tahun 2021.

Target pertumbuhan reksadana pasar uang memang tidak ditargetkan setinggi tahun ini dengan pertimbangan kembalinya aktivitas lending perbankan yang akan mempengaruhi likuiditas di market. Dari reksadana pasar uang, MMI akan fokus pada penjualan produk MIPU, MIPU2 dan MPUS. Sementara itu, untuk Alternative Investment telah ditargetkan penerbitan produk KIK EBA Syariah untuk tahun 2021.

Bagainana cara perseroan memaksimalkan distribusi penjualan?

Untuk mendukung distribusi produk, MMI akan mengoptimalkan seluruh channel distribusi yang ada. Untuk channel distribusi offline, ditargetkan akan ada kerja sama dengan APERD baru. Sedangkan dengan APERD yang ada, penjualan akan dioptimalkan dengan menambah produk reksadana MMI yang ditawarkan melalui APERD tersebut.

Sama halnya dengan channel distribusi online, telah direncanakan beberapa kerja sama baru dengan fintech dan e-commerce. MMI juga akan melakukan evaluasi dan analisa kesesuaian produk yang ditawarkan pada platform mitra online. MoInves sebagai platform digital milik MMI akan terus dikembangkan untuk dapat menjadi platform Investasi yang bisa menawarkan nilai tambah atau benefit eksklusif kepada penggunanya, di antaranya adanya kesempatan untuk melakukan konsultasi langsung dengan tim Investasi MMI, adanya kelas-kelas finansial dan penambahan fitur pada platform.

Selain itu, MMI juga akan memperkuat sinergi dengan Mandiri Group melalui kerjasama dengan Bank Mandiri dan perusahaan anak lainnya sebagai APERD. Untuk penetrasi pasar overseas, MMI akan mengembangkan potensi melalui subsidiari di Singapura.

Apa inovasi-inovasi terbaru yang disiapkan perseroan di 2021?

Di tahun 2021, MMI telah menargetkan peluncuran produk KIK EBA Syariah dan juga produk-produk investasi alternatif lainnya. Total penambahan AUM yang ditargetkan dari penerbitan untuk kedua produk ini mencapai Rp2,5 triliun.  Selain itu, MMI juga rencananya akan menerbitkan beberapa produk baru untuk reksadana open-end baik konvensional maupun syariah.

Bagaimana strategi perseroan untuk terus mempertahankan posisinnya sebagai juara pertama perusahaan manajemen investasi terbesar di Indonesia?

Untuk tahun depan, MMI telah menyiapkan beberapa strategi bisnis, di antaranya :

• Menargetkan blended margin lebih tinggi melalui fokus pemasaran pada APERD yang bisa memberikan kontribusi margin yang lebih tinggi serta pengendalian dan efisiensi biaya

Monetizing potensi dari produk-produk unggulan melalui channel distribusi yang tepat dan pengembangan solusi keuangan alternatif untuk investor

• Memperkuat kemitraan dengan fintech dan e-commerce; menambah jumlah kerja sama dengan APERD/gerai online serta jumlah produk yang dipasarkan melalui platform Digital

• Memperkuat sinergi dengan Bank Mandiri Group melalui optimalisasi kerja sama baik dengan Bank Mandiri maupun Perusahaan Anak Mandiri lainnya, serta pengembangan bisnis penasihat Investasi.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.