DBS Indonesia : Peluang dan Tantangan Layanan Wealth Management di Indonesia

Abdul Malik • 13 Nov 2020

an image
Gedung Kantor DBS Indonesia. (Dok. perusahaan)

Perilaku nasabah Indonesia nyaris tidak berbeda dengan nasabah di kawasan lain di Asia

Bareksa.com -  DBS Indonesia menyatakan masyarakat Indonesia cenderung konservatif dalam berinvestasi dan lebih memilih mendepositokan dana mereka. Investasi di pasar modal (saham dan obligasi) juga masih terbatas dan belum banyak dipahami masyarakat Indonesia, walaupun Obligasi Pemerintah menawarkan imbal hasil lebih dari 7 persen.

"Hal ini mengindikasikan, edukasi pasar seputar produk investasi perlu dikembangkan dengan cepat dan seluruh pelaku industri perlu menggunakan waktu dan dana untuk menambah jumlah nasabah baru pada masa mendatang," ujar Executive Director, Talent Rotation, Wealth Management, PT Bank DBS Indonesia, Koh Keng Swee dalam diskusi panel secara digital ‘Hubbis digital dialogue series’ beberapa waktu lalu mengenai Wealth Management di Indonesia.

Dia mengatakan mendigitalkan produk kelolaan kekayaan dan menyediakan perencanaan keuangan adalah cara Bank DBS Indonesia mendemokratisasikan layanan pengelolaan kekayaan dan membawa layanan tersebut ke segmen masyarakat Indonesia yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia untuk mempercepat digitalisasi sektor keuangan.

"Selain itu, bagi kami di Bank DBS Indonesia, digitalisasi internal sama pentingnya dengan digitalisasi eksternal. Tim user experience kami memainkan peranan yang penting karena mereka secara langsung memengaruhi pengalaman nasabah. Karena itu, saat merancang seluruh proses, kami juga mempertimbangkan proses yang memberikan kemudahan bagi relationship manager dan investment consultant kami, baik dalam menentukan harga, penempatan atau penyelesaian akhir transaksi,” ungkapnya.

Dalam merancang solusi digital, DBS Indonesia berfokus terutama pada relevansi dengan nasabah, dengan penyampaian dan isi pandangan keuangan, yang disesuaikan dengan segmen kekayaan yaitu mulai dari lower wealth hingga nasabah kelas atas. Kategori lower wealth membutuhkan pendidikan dasar keuangan dan produk yang lebih mendasar, sedangkan kelas atas membutuhkan produk lebih canggih, fokus internasional lebih luas, dan lebih banyak masukan tentang kecenderungan dan prospek pasar.

Pengembangan akses digital merupakan inisiatif yang penting dan Bank DBS Indonesia telah melakukan pengembangan di bidang tersebut, dengan fokus pada sistem dan akses yang secara langsung berhubungan dengan nasabah serta platform digitalnya untuk memperluas jangkauan produk dan aksesibilitas ke obligasi, produk terstruktur (investasi terkait pasar), saham, dan reksadana/trust.

Koh Keng Swee menambahkan industri layanan pengelolaan kekayaan  di Indonesia siap berkembang menjadi lebih besar. "Pada saat ini, kami memiliki rangkaian obligasi lokal dan reksadana unit trust yang kuat. Sebagai pelengkap, kami menawarkan pilihan instrumen investasi luar negeri, yang semakin berkembang, seperti, investasi syariah di pasar internasional, yang memungkinkan nasabah kami berinvestasi di pasar Amerika Serikat (AS), Hong Kong, dan Tiongkok. Selama beberapa bulan ke depan, kami berencana memperluas jangkauan ke India, serta dana yang berfokus pada tema tertentu, seperti, dana global disruption dan perusahaan yang memenuhi kriteria lingkungan, sosial dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG)," ungkapnya.

Perilaku Nasabah

Perilaku nasabah Indonesia nyaris tidak berbeda dengan nasabah di kawasan lain di Asia. Dengan kata lain, masih sangat didorong oleh transaksi, orientasi perdagangan, dan tentunya orientasi hasil, serta, yang terakhir, obligasi pemerintah, yang memberi imbal hasil tinggi. Selain itu, Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, produk syariah serta solusi syariah harus semakin dipertajam untuk pasar, baik untuk investasi maupun asuransi.

Dengan menilik komposisi pasar Indonesia secara lebih mendalam, Koh Keng Swee menyampaikan Bank DBS Indonesia akan menawarkan layanan menyeluruh, melayani berbagai segmen yang membentuk populasi, yang terus berkembang. “Kami memiliki istilah yang kami gunakan di bank kami, yaitu wealth continuum (kontinum kekayaan), memahami nasabah mulai dari segmen yang high net worth hingga nasabah ritel," ungkapnya,

“Menurut saya, tugas yang paling mendesak saat ini adalah edukasi keuangan. Saya tidak membicarakannya hanya dari perspektif menghasilkan uang, namun tentang menghubungkannya dengan tujuan yang lebih tinggi dalam hidup. Jadi, apa pun yang dirancang, baik untuk dana pensiun atau pendidikan anak-anak, Bank DBS Indonesia dapat membantu dan mendukung nasabah untuk mencapainya. Menurut saya, lembaga keuangan dan bank memiliki peran penting dalam memulai dan memberikan arahan bagi perkembangannya pada masa depan," tutup Koh Keng Swee.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.