Pekan Ketiga Oktober 2020, Reksadana Saham Dominasi Juara Imbal Hasil Mingguan

Abdul Malik • 19 Oct 2020

an image
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). Pada awal perdagangan pertama tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 0,22 persen atau 13,59 poin di level 6.313,13. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Pada periode 12–16 Oktober 2020, IHSG tercatat menguat 0,98 persen ke level 5.103

Bareksa.com - Mengakhiri pekan ketiga di Oktober 2020, bursa saham Tanah Air berhasil mengalami pergerakan yang positif. Pada periode 12–16 Oktober 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,98 persen ke level 5.103,41. Dalam lima hari perdagangan pekan lalu, IHSG mampu berakhir di zona hijau sebanyak tiga kali di tiga hari perdagangan pertama, kemudian berada di zona merah pada dua hari terakhir perdagangan.

Pada pekan lalu, sentimen positif dan negatif memang silih berganti. Dari dalam negeri, pada Selasa (13/10/2020), Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate di level 4 persen. Fokus BI tetap tidak berubah yaitu menitikberatkan pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun dalam pemaparan kebijakan moneternya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan suatu berita baik. Bank Sentral Tanah Air memperkirakan transaksi berjalan RI yang selama ini defisit akan berubah menjadi surplus yang dipengaruhi oleh perbaikan ekspor dan penyesuaian impor sejalan dengan permintaan domestik yang belum cukup kuat.

Apabila perkiraan BI tersebut benar terwujud, maka ini menjadi pertama kalinya sejak kuartal terakhir tahun 2011 neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus.
Pasar juga menyambut positif kabar yang menyebutkan Indonesia siap melaksanakan vaksinasi Covid-19 lebih awal yakni bulan November setelah mengantongi komitmen dari tiga pengembang vaksin China yaitu Sinovac, Sinopharm dan CanSino Biological Inc untuk memasok vaksin buatan mereka ke Tanah Air mulai bulan depan.

Masih dari dalam negeri, pada Kamis (15/10/2020), Badan Pusat Statistik(BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia mencatatkan surplus US$2,44 miliar di bulan September. Di akhir kuartal ketiga perdagangan internasional Tanah Air berhasil mengalami perbaikan.ekspor yang naik 6,97 persen dibandingkan Agustus dan impor pun sudah mulai ikut naik 7,71 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dari luar negeri, sentimen negatif datang dari Amerika Serikat (AS) dan Benua Biru. Di Negeri Paman Sam, negosiasi RUU stimulus ekonomi Covid-19 lanjutan kembali mentok dan kabarnya tidak akan ada kesepakatan dalam waktu dekat sebelum pemilu AS yang digelar November nanti usai.

Dari Benua Biru, lonjakan kasus yang terjadi di Eropa membuat sebagian negara seperti Inggris, Perancis hingga Polandia kembali menghadapi kondisi darurat dan memutuskan untuk memperketat mobilitas publiknya.

Reksadana Berbasis Saham Dominasi Return Mingguan

Kondisi bursa saham domestik yang mengalami penguatan sepanjang pekan lalu turut berdampak positif terhadap kinerja reksadana berbasis saham secara umum. Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham berhasil menguat 1,44 persen dan indeks reksadana saham syariah bertambah 1,21 persen, keduanya melampaui kinerja IHSG yang naik 0,98 persen.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan reksadana yang dijual Bareksa, 10 besar imbal hasil (return) tertinggi pada pekan lalu mayoritas ditempati oleh produk reksadana saham yakni sebanyak 9 produk, sementara 1 produk lainnya merupakan produk reksadana campuran yang memang juga memiliki alokasi pada instrumen saham dalam portofolionya.

Top 10 Reksadana Return Tertinggi Sepekan (12-16 Oktober 2020)

No
Reksadana
Jenis
NAV (Rp)
Return 1 Minggu (%)
1
Sucorinvest Sharia Equity Fund
saham
1.321,68
7,83
2
Sucorinvest Maxi Fund
saham
1.333,26
4,84
3
Sucorinvest Flexi Fund
campuran
4.342,08
4,04
4
Sucorinvest Equity Fund
saham
1.839,4
3,72
5
Manulife Saham SMC Plus
saham
568,35
3,66
6
BNP Paribas Solaris
saham
1.761,32
3,4
7
Mandiri Investa Atraktif Syariah
saham
906,07
2,72
8
Manulife Saham Andalan
saham
1.530,06
2,46
9
Manulife Greater Indonesia Fund
saham
0,8227 (US$)
2,42
10
TRIM Syariah Saham
saham
1.549,34
2,26

Sumber: Bareksa

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana