Prospek Reksadana Pendapatan Tetap Masih Menarik, Apa Saja Faktornya?

Bareksa • 17 Jun 2019

an image
Ilustrasi investor memegang kertas laporan keuangan kinerja return hasil keuntungan investasi saham reksadana obligasi surat utang

Secara YtD, reksadana pendapatan tetap berkinerja terbaik dibandingkan tiga jenis reksadana lainnya

Bareksa.com - Pergerakan pasar obligasi terlihat berada dalam tren positif dalam sepekan kemarin dikarenakan masih tersisanya euforia atas sentimen kenaikan peringkat utang Indonesia ke BBB oleh S&P pada akhir Mei lalu. Tren ini turut membuat proyeksi reksadana jenis pendapatan tetap atau fixed income semakin menarik.

Tercatat, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Bareksa yang mencatat kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap berhasil menguat 2,11 persen dalam satu bulan terakhir. Dalam jangka waktu satu tahun pun, kinerja reksadana pendapatan tetap ini masih surplus di level 3,96 persen.

Grafik Pergerakan Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Bareksa

Sumber : Bareksa

Di sisi lain, secara year to date (YtD) reksadana yang berbasis surat utang ini menghasilkan kinerja paling bagus (4,18 persen YtD) dibandingkan dengan ketiga indeks jenis reksadana yang lain. Sementara itu, urutan kedua ditempati indeks reksadana campuran (3,37 persen YtD), urutan ketiga ditempati reksadana pasar uang (2,27 persen YtD), dan urutan keempat ditempati reksadana saham (0,26 persen YtD).

Grafik Perbandingan Return Empat Indeks Reksadana Bareksa

Sumber : Bareksa

Kenaikan kinerja reksadana pendapatan tetap didominasi oleh surat utang dengan tenor panjang, bahkan kenaikannya di atas kinerja obligasi. Mengutip Bloomberg Jumat (14 Juni 2019) yield obligasi tenor 10 tahun di level 7,6 persen, turun dibanding yield dua pekan lalu di level 7,9 persen (31/5).

Sebagai informasi, penurunan yield menandakan bahwa harga obligasi sedang mengalami tren kenaikan, yang pada akhirnya berimbas pada naiknya nilai aktiva bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap.

Di sisi lain, kinerja reksadana pendapatan tetap juga mendapatkan dorongan dari peningkatan peringkat (rating) surat utang pemerintah Indonesia. Langkah S&P memberikan upgrade  terhadap investment grade Indonesia, tentu akan memberi dampak yang bagus sehingga membuat investor asing tertarik untuk mengoleksi surat utang negara (SUN) Indonesia.

Setelah keluar sentimen tersebut benar saja, pihak asing mulai masuk ke SUN Indonesia dengan jumlah besar. Sebelum adanya upgrade peringkat utang, terlihat peluang SUN jangka panjang bisa menuju ke yield 7,8 persen.

Kemudian sentimen positif lain datang dari the Federal Open Market Committee (FOMC) dan rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan berlangsung pekan depan. Bila skenarionya kedua bank sentral itu memangkas suku bunga, tentu hal tersebut akan membawa berkah tersendiri untuk reksadana pendapatan tetap.

Terkait kinerja hingga akhir tahun, dalam waktu hanya beberapa bulan ke depan, kinerja reksadana pendapatan tetap diperkirakan akan semakin moncer apabila penurunan suku bunga benar-benar menjadi suatu kenyataan.

Setelah adanya kenaikan peringkat surat utang oleh S&P, serta jika dibarengi dengan skenario penurunan suku bunga baik dari FOMC dan BI, maka bukan hal yang salah jika kita menaruh rasa optimis bahwa yield dari SUN akan berpeluang akan turun di bawah level 7,5 persen.

Perlu diketahui, reksadana pendapatan tetap memiliki mayoritas obligasi atau instrumen surat utang di dalam portofolionya. Meski bergerak stabil, masih ada sedikit risiko fluktuasi dalam jangka pendek untuk reksadana jenis ini. Reksadana pendapatan tetap bisa dipilih untuk investor moderat dan dengan tujuan jangka pendek hingga menengah.

Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/hm)

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.