Jokowi Effect Luntur, IHSG Anjlok Namun Asing Borong 5 Saham Ini

Bareksa • 23 Apr 2019

an image
Seorang pria mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/4/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc

Perdagangan Senin kemarin IHSG ditutup anjlok 1,42 persen berakhir di level 6.414

Bareksa.com - Mengawali perdagangan pasca libur panjang pekan lalu, pasar saham Indonesia mengalami tekanan yang berat hingga harus berakhir dengan penurunan tajam.

Jatuhnya bursa saham domestik bertolak belakang di saat mayoritas bursa saham utama kawasan Asia berakhir di zona hijau. Indeks Nikkei (Jepang) naik tipis 0,08 persen, Indeks Straits Times (Singapura) menguat 0,22 persen, dan Indeks Kospi (Korea) bertambah 0,02 persen.

Sama seperti pekan kemarin, cemerlangnya data ekonomi China masih menjadi penggerak aksi beli atas saham-saham di Benua Kuning. Pada pekan lalu, pertumbuhan ekonomi China periode kuartalI 2019 diumumkan di level 6,4 persen YoY, mengalahkan konsensus yang sebesar 6,3 persen YoY, seperti dilansir dari Trading Economics.

Kemudian, produksi industri periode Maret 2019 diumumkan tumbuh 8,5 persen secara tahunan, di atas konsensus 5,9 persen, seperti dilansir dari Trading Economics. Terakhir, penjualan barang-barang ritel untuk bulan yang sama melesat hingga 8,7 persen secara tahunan, juga di atas konsensus 8,4 persen.

Lantas, kekhawatiran bahwa perekonomian China akan mengalami hard landing pada tahun ini menjadi sedikit mereda. Sebagai informasi, belum lama ini pemerintah China resmi memangkas target pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 menjadi 6 - 6,5 persen.

Sebelumnya, target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 dipatok di kisaran 6,5 persen. Pada tahun 2018, perekonomian China tumbuh hingga 6,6 persen.

Lebih lanjut, perkembangan terkait negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang kondusif ikut memantik aksi beli di bursa saham regional. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Gao Feng mengungkapkan ada kemajuan baru dalam perundingan Washington - Beijing, walaupun dirinya tak mengelaborasi lebih jauh.

Jika kesepakatan dagang benar bisa dicapai, tentu perekonomian AS dan China, berikut perekonomian dunia, akan bisa untuk dipacu untuk melaju lebih kencang.

Sementara dari dalam negeri, Jokowi effect yang mendorong IHSG melesat hingga 1,58 persen pada pekan lalu terlihat sudah luntur pada perdagangan kemarin.

Sejauh ini, hasil hitung cepat dari berbagai lembaga serentak memenangkan pasangan calon nomor urut 01 yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Hasil hitung cepat dari Litbang Kompas misalnya, sudah menerima sebanyak 99,95 persen suara masuk dengan 54,4 persen suara jatuh ke pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin.

Bisa dibilang Jokowi menang besar pada tahun ini. Karena jika melihat pada pilpres 2014, Jokowi “hanya” mengalahkan Prabowo dengan margin 53,15 persen berbanding 46,85 persen.

Bagi pasar saham, kemenangan Joko Widodo - Ma’ruf Amin memang diperkirakan akan menjadi berkah. Pasalnya jika berkaca kepada sejarah, IHSG selalu memberikan imbal hasil yang menggiurkan di tahun Pemilu, dengan catatan hasil pemilihan presiden sesuai dengan proyeksi dari mayoritas lembaga survei.

Pada pemilihan presiden edisi 2019, mayoritas lembaga survei memang sebelumnya menjagokan Joko Widodo - Ma'ruf Amin sebagai pemenang.

Di sisi lain, kinerja bursa saham Tanah Air dibebani oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Hingga penutupan perdagangan kemarin, harga minyak mentah WTI kontrak pengiriman bulan Mei melesat 2,44 persen ke level US$65,56 per barel, minyak Brent kontrak pengiriman bulan Juni melesat 2,63 persen ke level US$73,86 per barel.

Saat harga minyak melesat, ada kemungkinan bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) melebar, mengingat status Indonesia sebagai net importir minyak mentah.

Jika berbicara mengenai rupiah, transaksi berjalan memang merupakan hal yang sangat penting lantaran menggambarkan pasokan devisa yang tidak mudah berubah (dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa). Hal ini berbeda dengan pos transaksi modal dan finansial yang bisa cepat berubah karena datang dari aliran modal portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money.

Pada Senin, 22 April 2019 IHSG ditutup anjlok 1,42 persen dengan berakhir di level 6.414,74. Aktivitas transaksi pada perdagangan kemarin berlangsung sangat ramai, di mana tercatat 16,04 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp11,08 triliun.

Secara sektoral, seluruhnya kompak berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin, dengan tiga sektor yang mencatatkan penurunan terdalam yakni aneka industri (-3,55 persen), konsumer (-2,76 persen), dan manufaktur (-2,68 persen).

Beberapa saham yang menekan IHSG pada perdagangan kemarin :

1. Saham HMSP (-5,2 persen)
2. Saham ASII (-4,1 persen)
3. Saham UNVR (-2,3persen)
4. Saham TLKM (-2,1 persen)
5. Saham MAYA (-13,6 persen)

Sebanyak 124 saham menguat, 282 saham melemah, dan 117 saham tidak mengalami perubahan harga. Di sisi lain, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) di seluruh pasar pada perdagangan kemarin senilai Rp 55,27miliar.

Saham-saham yang terbanyak diburu investor asing :

1. Saham BBCA (Rp132,82 miliar)
2. Saham BBRI (Rp50,43 miliar)
3. Saham WIKA (Rp21,62 miliar)
4. Saham WSKT (Rp15,59miliar)
5. Saham CTRA (Rp13,41 miliar)

Analisis Teknikal IHSG

Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle IHSG pada perdagangan kemarin membentuk bearish candle dengan body yang sangat besar, menggambarkan IHSG mengalami pergerakan negatif yang sangat berat hingga hampir ditutup pada level terendahnya.

Dalam dua hari perdagangan terakhir, pola candle IHSG membentuk pergerakan yang cenderung negatif sehingga menandakan adanaya potensi pelemahan cukup kuat dalam jangka pendek.

Selain itu, indikator relative strength index (RSI) juga terpantau bergerak turun tajam dan menuju area jenuh jual, mengindikasikan adanya momentum penurunan yang kuat. Dilihat dari sudut pandang teknikal, pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan melemah.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.