Net Buy Asing Tembus Rp11 Triliun Year to Date, 10 Saham Ini Paling Diburu

Bareksa • 21 Jan 2019

an image
Sejumlah orang mengamati layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG turun dengan sejumlah saham berkapitalisasi besar melemah. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Terdapat 3 faktor yang membuat investor wait and see di tengah Ketidakpastian pasar global

Bareksa.com - Rally pembelian bersih asing di pasar saham Indonesia masih berlanjut hingga akhir pekan lalu. Investor asing mencatatkan pembelian bersih di seluruh pasar dalam 15 hari perdagangan berturut-turut. Kenaikan IHSG sejalan dengan nilai tukar rupiah yang sempat menguat ke posisi Rp14.040 per dolar AS.

Total pembelian bersih asing mencapai Rp11,54 triliun sejak 27 Desember 2018 hingga Jumat (18/1) lalu. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, pembelian bersih di seluruh pasar mencapai Rp928,38 miliar meski ada penjualan bersih Rp375,22 miliar di pasar non reguler.

Pekan lalu, pembelian bersih terbesar asing tercatat pada 15 Januari, yakni mencapai Rp1,91 triliun. Dari total tersebut, transaksi crossing saham PT Bank Agris Tbk (AGRS) mencapai sekitar Rp 1 triliun. Tanpa crossing ini pun, asing masih mencatat pembelian bersih lebih dari Rp900 miliar.

Berikut adalah saham-saham yang paling diburu asing di seluruh pasar :

1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp1,68 triliun
2. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp1,48 triliun
3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp1,45 triliun
4. PT Astra International Tbk (ASII) Rp1,21 triliun
5. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp1,09 triliun
6. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp1,04 triliun
7. PT Bank Agris Tbk (AGRS) Rp1,03 triliun
8. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp584,28 miliar
9. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp564,68 miliar
10. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp339,84 miliar.

Wait and See di Tengah Ketidakpastian Pasar Global

Menurut analisis Bareksa, saat ini terdapat tiga faktor utama yang akan mempengaruhi pergerakan market global maupun domestik sepanjang tahun 2019 terdiri dari :

1. Perang Dagang AS

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, apabila masih berlanjut di 2019 berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi kedua negara yang merupakan perekonomian nomor satu dan dua terbesar di dunia melambat sehingga akan berdampak juga kepada pertumbuhan ekonomi negara lainnya. 

Sebab AS dan China merupakan negara tujuan ekspor baik bahan baku maupun manufaktur dari banyak negara di dunia.

2. The Fed Mulai Dovish

Kebijakan The Fed yang akan lebih moderat dalam menaikkan Fed Fund Rate (FFR) di 2019 mengacu kepada pertumbuhan data ekonomi AS yang melambat seperti data manufacturing dan potensi penerimaan personal tax yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Rencana The Fed untuk lebih hati-hati menaikkan FFR dapat memberikan sentimen positif bagi emerging market seperti Indonesia berupa capital inflow karena imbal hasil investasi yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan di AS.

3. Penurunan Harga Minyak

Penurunan harga minyak mentah karena supply yang tersedia lebih banyak dibandingkan demand mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

(KA02/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.