
Bareksa – Emas sering dianggap sebagai aset pelindung nilai saat ekonomi mengalami krisis. Namun, sejarah menunjukkan harga emas tidak selalu langsung naik ketika pasar keuangan terguncang. Pada krisis global 2008 dan pandemi 2020, harga emas dunia justru sempat anjlok sebelum kembali pulih.
Sebaliknya, ketika rupiah melemah tajam seperti pada krisis moneter 1998, harga emas dalam rupiah meningkat signifikan. Mengapa pergerakannya bisa berbeda dan apa pelajarannya bagi investor?
Emas dikenal sebagai aset safe haven yang sering dicari ketika ketidakpastian meningkat. Namun, saat krisis likuiditas, investor juga dapat menjual emas untuk memperoleh uang tunai atau menutup kerugian pada aset lain.
Bagi investor Indonesia, harga emas dipengaruhi dua faktor utama:
Harga emas dunia: Perubahan harga emas internasional dalam dolar AS.
Nilai tukar rupiah: Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga emas domestik, meskipun harga emas dunia relatif stabil.
Karena itu, harga emas dunia dan emas dalam rupiah tidak selalu bergerak searah.
Periode | Pergerakan Emas | Faktor Utama |
|---|---|---|
1998 | Harga emas dalam rupiah melonjak | Pelemahan rupiah |
2008 | Emas dunia sempat turun sekitar 30% dari puncaknya | Krisis likuiditas global |
2020 | Emas terkoreksi tajam pada Maret, lalu mencetak rekor | Pandemi dan pemulihan permintaan emas |
Sumber: Kemenkeu, BPS, World Gold Council, WisdomTree.
Krisis moneter 1997–1998 menunjukkan pengaruh nilai tukar terhadap harga emas domestik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga emas di pasar Jakarta meningkat dari Rp42.000 per gram pada Desember 1997 menjadi Rp75.000 pada Desember 1998, atau naik sekitar 78,6%.
Kenaikan ini menggambarkan peran emas sebagai aset pelindung nilai ketika rupiah mengalami depresiasi tajam.
Saat krisis keuangan global 2008, harga emas dunia sempat terkoreksi sekitar 30% dari level tertingginya. Investor menjual berbagai aset, termasuk emas, untuk mendapatkan likuiditas dan memenuhi kewajiban keuangan.
Namun, setelah tekanan mereda, emas kembali menguat. Menurut WisdomTree, harga emas mengalami kenaikan sekitar 170% dari November 2008 hingga Agustus 2011.
Pola serupa terjadi ketika pandemi COVID-19 mengguncang pasar keuangan pada Maret 2020. World Gold Council menjelaskan bahwa tekanan jual emas saat itu dipengaruhi kebutuhan investor memperoleh uang tunai di tengah gejolak pasar.
Setelah mengalami koreksi tajam, emas kembali pulih dan mencetak rekor harga baru pada 2020. Ketiga peristiwa tersebut menegaskan bahwa emas dapat menjadi pelindung nilai jangka panjang, tetapi tetap berisiko turun dalam jangka pendek.
Investor sebaiknya tidak membeli emas hanya karena khawatir terhadap krisis. Perhatikan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta kebutuhan likuiditas.
Ada tiga strategi yang dapat dipertimbangkan:
Siapkan dana darurat agar tidak terpaksa menjual emas ketika harga turun.
Menabung emas secara rutin untuk mengurangi ketergantungan pada satu harga pembelian.
Pilih layanan yang fleksibel dengan mempertimbangkan kemudahan jual-beli, biaya, dan fasilitas pencetakan fisik.
Melalui Bareksa Emas, investor dapat membeli emas digital secara bertahap, menjual sebagian saldo sesuai kebutuhan, hingga mengajukan pencetakan emas fisik berdasarkan ketentuan yang berlaku. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan selisih harga beli dan jual (spread), biaya pencetakan, serta risiko perubahan harga.
Emas tidak selalu naik saat krisis, sebagaimana terlihat pada 2008 dan 2020.
Pelemahan rupiah dapat mendorong harga emas domestik.
Pembelian berkala membantu pengelolaan investasi, tetapi tidak menjamin keuntungan.
Emas digital memberikan fleksibilitas transaksi, dengan risiko dan biaya yang tetap perlu diperhatikan.
Sejarah krisis 1998, 2008, dan 2020 menunjukkan bahwa emas dapat membantu diversifikasi dan menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Namun, harganya tetap dapat turun tajam ketika investor membutuhkan likuiditas. Karena itu, menyiapkan dana darurat dan menabung emas secara bertahap bisa menjadi pendekatan yang lebih terukur dibandingkan membeli karena kepanikan pasar.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Tidak. Harga emas dunia sempat turun tajam pada krisis 2008 dan pandemi 2020.
Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga emas domestik.
Investor dapat menjual emas untuk memenuhi kebutuhan uang tunai atau menutup kerugian investasi lainnya.
Emas dapat menjadi bagian dari diversifikasi portofolio, tetapi tetap memiliki risiko fluktuasi harga.
Bisa, dengan minimum pencetakan 1 gram, sesuai ketentuan dan biaya yang berlaku.