
Bareksa - Harga emas dunia masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah terkoreksi dari rekor tertingginya tahun ini. Namun, di balik pergerakan yang tampak datar, sejumlah indikator mulai menunjukkan perubahan yang menarik.
Yang berubah bukan harga emasnya, melainkan fondasi di bawah harga tersebut. Sinyal teknikal mulai membaik, bank sentral kembali meningkatkan pembelian emas, sementara investor Asia terus melakukan akumulasi.
Kombinasi ketiga faktor tersebut membuka peluang reli berikutnya apabila tekanan dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat mulai mereda.
Harga emas masih menghadapi tekanan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap menarik. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Faktor | Dampak terhadap Emas |
The Fed masih hawkish | Menekan harga emas |
Yield US Treasury tinggi | Investor beralih ke obligasi |
Dolar AS menguat | Membatasi kenaikan emas |
Ekspektasi inflasi | Pasar menunggu arah kebijakan berikutnya |
Sumber: Kitco News, Treasury, diolah
Meski demikian, harga emas juga menunjukkan daya tahan. Setelah koreksi tajam pada kuartal II, harga belum menembus titik terendah baru. Hal ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai berkurang.
Meski harga belum banyak bergerak, tiga indikator penting mulai mengarah pada cerita yang sama.
Menurut analis Kitco Gary Wagner, Juli lebih tepat disebut sebagai bulan konsolidasi daripada bulan kenaikan harga.
Namun justru dari fase tersebut muncul tiga sinyal teknikal penting:
terbentuknya higher low pertama sejak April;
pola doji pada grafik bulanan;
penutupan harga di atas descending trendline harian untuk pertama kalinya dalam sekitar lima bulan.
Ketiga indikator tersebut belum mengonfirmasi dimulainya tren naik baru. Namun dalam banyak siklus pasar, kombinasi tersebut sering menjadi fondasi sebelum reli berikutnya berkembang.
Fundamental juga mulai mendukung. Laporan World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral melonjak menjadi 289 ton pada kuartal II 2026, lebih dari lima kali lipat dibanding kuartal sebelumnya.
Permintaan Emas Global Kuartal II 2026 | Volume |
Total permintaan | 1.269 ton |
Pembelian bank sentral | 289 ton |
Permintaan batangan & koin | 307 ton |
Permintaan OTC | 327 ton |
Arus ETF | -45 ton |
Sumber: Kitco News, WGC, diolah
Menariknya, meski ETF berbasis emas mencatat arus keluar, total permintaan emas global tetap stabil karena ditopang pembelian bank sentral, transaksi OTC, dan permintaan fisik dari Asia.
Perilaku investor di Asia juga berbeda dibanding investor Barat. China mencatat permintaan batangan dan koin mencapai 314 ton sepanjang semester I 2026, tertinggi dalam sejarah. Sementara itu, permintaan investasi emas di India juga meningkat karena investor memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi.
Dengan kata lain, ketika sebagian investor Barat memilih merealisasikan keuntungan melalui ETF, investor Asia justru memanfaatkan pelemahan harga untuk menambah kepemilikan emas.
Prospek jangka panjang emas juga tercermin pada harga emas digital di Bareksa. Per 3 Agustus 2026, seluruh mitra pengelola emas masih mencatat kenaikan lebih dari 32% dalam setahun terakhir, meski harga emas global sempat mengalami koreksi.
Mitra Pengelola | Harga (Rp/gram) | Return 1 Tahun |
Treasury | Rp2.436.789 | 32,95% |
Pegadaian | Rp2.485.770 | 33,40% |
Indogold | Rp2.425.200 | 35,21% |
Antam | Rp2.613.000 | 36,52% |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 3/8/2026 siang
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa koreksi harga dalam beberapa bulan terakhir belum mengubah tren kenaikan emas dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut sejalan dengan Daily Market Update Treasury, yang menilai peluang pemulihan harga emas masih terbuka apabila tekanan dari ekspektasi suku bunga The Fed mulai mereda dan dolar AS melemah.
Di sisi lain, tingginya imbal hasil US Treasury masih menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek. Treasury juga mengutip revisi proyeksi Commerzbank yang memangkas target harga emas akhir 2026 menjadi US$4.500 per troy ons, mencerminkan ekspektasi bahwa pemulihan harga kemungkinan berlangsung lebih bertahap.
Menurut data Investing, harga emas spot pada Senin (3/8/2026) pukul 13.58 WIB menguat 0,56% jadi US$4.065,11 per ons.
Saat ini, faktor pendukung dan penahan reli emas masih berjalan bersamaan.
Faktor Pendukung Reli | Faktor yang Masih Menahan |
Higher low mulai terbentuk | The Fed masih hawkish |
Bank sentral membeli 289 ton | Yield US Treasury tinggi |
Permintaan Asia tetap kuat | Dolar AS masih kuat |
Permintaan global stabil | ETF masih mencatat arus keluar |
Sumber: Kitco News, WGC, Treasury, diolah
Bagi investor jangka panjang, fase seperti ini umumnya lebih relevan untuk melakukan akumulasi secara bertahap melalui strategi dollar cost averaging (DCA) dibanding menunggu harga mencapai titik terendah yang sulit dipastikan.
Harga emas memang belum kembali mencetak rekor baru. Namun, untuk pertama kalinya sejak koreksi besar pada kuartal II, indikator teknikal, fundamental, dan perilaku permintaan mulai mengarah pada narasi yang sama. Tekanan jual mulai mereda, bank sentral kembali meningkatkan pembelian, dan investor Asia tetap melakukan akumulasi.
Belum ada kepastian bahwa reli baru telah dimulai. Namun, fondasi yang dibutuhkan untuk mendukung kenaikan harga berikutnya tampak semakin lengkap. Bagi investor, kondisi seperti ini layak dicermati bukan karena harga emas sedang naik, melainkan karena peluangnya mulai terbentuk.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.
Harga emas masih dipengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, tingginya imbal hasil US Treasury, dan penguatan dolar AS yang membatasi kenaikan harga.
Sinyalnya adalah terbentuknya higher low secara teknikal, pembelian bank sentral yang melonjak menjadi 289 ton pada kuartal II 2026, serta kuatnya permintaan emas fisik di Asia.
Per 3 Agustus 2026, harga emas digital di Bareksa mulai dari Rp2.425.200 per gram (Indogold), Rp2.436.789 (Treasury), dan Rp2.485.770 (Pegadaian).
Tidak ada yang bisa memastikan titik terendah harga. Investor jangka panjang dapat mempertimbangkan pembelian bertahap (DCA) ketika harga masih berada dalam fase konsolidasi.
Risiko utamanya adalah The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, imbal hasil US Treasury tetap tinggi, dan dolar AS kembali menguat.