Harga Emas Masih Sideways, Tapi 3 Sinyal Reli Mulai Terlihat, Saatnya Mulai Cicil?

Abdul Malik • 03 Aug 2026

an image
Ilustrasi harga emas logam mulia yang sedang sideways tapi mulai ada sinyal reli. (Shutterstock)

Harga emas masih bergerak sideways. Namun sinyal teknikal, pembelian bank sentral, dan permintaan investor Asia mulai mengarah pada peluang reli berikutnya. Apa artinya bagi investor?

Bareksa - Harga emas dunia masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah terkoreksi dari rekor tertingginya tahun ini. Namun, di balik pergerakan yang tampak datar, sejumlah indikator mulai menunjukkan perubahan yang menarik. 

Yang berubah bukan harga emasnya, melainkan fondasi di bawah harga tersebut. Sinyal teknikal mulai membaik, bank sentral kembali meningkatkan pembelian emas, sementara investor Asia terus melakukan akumulasi. 

Kombinasi ketiga faktor tersebut membuka peluang reli berikutnya apabila tekanan dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat mulai mereda.

Mengapa Harga Emas Belum Kembali Reli?

Harga emas masih menghadapi tekanan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap menarik. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.

Faktor

Dampak terhadap Emas

The Fed masih hawkish

Menekan harga emas

Yield US Treasury tinggi

Investor beralih ke obligasi

Dolar AS menguat

Membatasi kenaikan emas

Ekspektasi inflasi

Pasar menunggu arah kebijakan berikutnya

Sumber: Kitco News, Treasury, diolah

Meski demikian, harga emas juga menunjukkan daya tahan. Setelah koreksi tajam pada kuartal II, harga belum menembus titik terendah baru. Hal ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai berkurang.

Tiga Sinyal Reli Mulai Terlihat

Meski harga belum banyak bergerak, tiga indikator penting mulai mengarah pada cerita yang sama.

1. Teknikal Menunjukkan Tekanan Jual Mulai Mereda

Menurut analis Kitco Gary Wagner, Juli lebih tepat disebut sebagai bulan konsolidasi daripada bulan kenaikan harga.

Namun justru dari fase tersebut muncul tiga sinyal teknikal penting:

  • terbentuknya higher low pertama sejak April;

  • pola doji pada grafik bulanan;

  • penutupan harga di atas descending trendline harian untuk pertama kalinya dalam sekitar lima bulan.

Ketiga indikator tersebut belum mengonfirmasi dimulainya tren naik baru. Namun dalam banyak siklus pasar, kombinasi tersebut sering menjadi fondasi sebelum reli berikutnya berkembang.

2. Bank Sentral Kembali Menjadi Pembeli Besar

Fundamental juga mulai mendukung. Laporan World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral melonjak menjadi 289 ton pada kuartal II 2026, lebih dari lima kali lipat dibanding kuartal sebelumnya.

Permintaan Emas Global Kuartal II 2026

Volume

Total permintaan

1.269 ton

Pembelian bank sentral

289 ton

Permintaan batangan & koin

307 ton

Permintaan OTC

327 ton

Arus ETF

-45 ton

Sumber: Kitco News, WGC, diolah

Menariknya, meski ETF berbasis emas mencatat arus keluar, total permintaan emas global tetap stabil karena ditopang pembelian bank sentral, transaksi OTC, dan permintaan fisik dari Asia.

3. Investor Asia Memanfaatkan Koreksi Harga

Perilaku investor di Asia juga berbeda dibanding investor Barat. China mencatat permintaan batangan dan koin mencapai 314 ton sepanjang semester I 2026, tertinggi dalam sejarah. Sementara itu, permintaan investasi emas di India juga meningkat karena investor memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi.

Dengan kata lain, ketika sebagian investor Barat memilih merealisasikan keuntungan melalui ETF, investor Asia justru memanfaatkan pelemahan harga untuk menambah kepemilikan emas.

Harga Emas Digital Bareksa Masih Naik Lebih dari 30%

Prospek jangka panjang emas juga tercermin pada harga emas digital di Bareksa. Per 3 Agustus 2026, seluruh mitra pengelola emas masih mencatat kenaikan lebih dari 32% dalam setahun terakhir, meski harga emas global sempat mengalami koreksi.

Mitra Pengelola

Harga (Rp/gram)

Return 1 Tahun

Treasury

Rp2.436.789

32,95%

Pegadaian

Rp2.485.770

33,40%

Indogold

Rp2.425.200

35,21%

Antam

Rp2.613.000

36,52%

Sumber: fitur Bareksa Emas, per 3/8/2026 siang

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa koreksi harga dalam beberapa bulan terakhir belum mengubah tren kenaikan emas dalam jangka panjang.

Fase Konsolidasi Masih Berpotensi Berlanjut

Pandangan tersebut sejalan dengan Daily Market Update Treasury, yang menilai peluang pemulihan harga emas masih terbuka apabila tekanan dari ekspektasi suku bunga The Fed mulai mereda dan dolar AS melemah.

Di sisi lain, tingginya imbal hasil US Treasury masih menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek. Treasury juga mengutip revisi proyeksi Commerzbank yang memangkas target harga emas akhir 2026 menjadi US$4.500 per troy ons, mencerminkan ekspektasi bahwa pemulihan harga kemungkinan berlangsung lebih bertahap.

Menurut data Investing, harga emas spot pada Senin (3/8/2026) pukul 13.58 WIB menguat 0,56% jadi US$4.065,11 per ons. 

Apa yang Sebaiknya Dicermati Investor?

Saat ini, faktor pendukung dan penahan reli emas masih berjalan bersamaan.

Faktor Pendukung Reli

Faktor yang Masih Menahan

Higher low mulai terbentuk

The Fed masih hawkish

Bank sentral membeli 289 ton

Yield US Treasury tinggi

Permintaan Asia tetap kuat

Dolar AS masih kuat

Permintaan global stabil

ETF masih mencatat arus keluar

Sumber: Kitco News, WGC, Treasury, diolah

Bagi investor jangka panjang, fase seperti ini umumnya lebih relevan untuk melakukan akumulasi secara bertahap melalui strategi dollar cost averaging (DCA) dibanding menunggu harga mencapai titik terendah yang sulit dipastikan.

Kesimpulan

Harga emas memang belum kembali mencetak rekor baru. Namun, untuk pertama kalinya sejak koreksi besar pada kuartal II, indikator teknikal, fundamental, dan perilaku permintaan mulai mengarah pada narasi yang sama. Tekanan jual mulai mereda, bank sentral kembali meningkatkan pembelian, dan investor Asia tetap melakukan akumulasi.

Belum ada kepastian bahwa reli baru telah dimulai. Namun, fondasi yang dibutuhkan untuk mendukung kenaikan harga berikutnya tampak semakin lengkap. Bagi investor, kondisi seperti ini layak dicermati bukan karena harga emas sedang naik, melainkan karena peluangnya mulai terbentuk.

Investasi di Aplikasi Jual - Beli Emas Terbaik - Bareksa

Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.

Beli Emas di Sini

(Rahmat Hidayat/AM)

Tentang Penulis

*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.

***

DISCLAIMER

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.

Pertanyaan Umum

Mengapa harga emas masih bergerak sideways?

Harga emas masih dipengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, tingginya imbal hasil US Treasury, dan penguatan dolar AS yang membatasi kenaikan harga.

Apa saja tiga sinyal yang menunjukkan peluang reli emas?

Sinyalnya adalah terbentuknya higher low secara teknikal, pembelian bank sentral yang melonjak menjadi 289 ton pada kuartal II 2026, serta kuatnya permintaan emas fisik di Asia.

Berapa harga emas digital di Bareksa saat ini?

Per 3 Agustus 2026, harga emas digital di Bareksa mulai dari Rp2.425.200 per gram (Indogold), Rp2.436.789 (Treasury), dan Rp2.485.770 (Pegadaian).

Apakah sekarang waktu yang tepat membeli emas?

Tidak ada yang bisa memastikan titik terendah harga. Investor jangka panjang dapat mempertimbangkan pembelian bertahap (DCA) ketika harga masih berada dalam fase konsolidasi.

Apa risiko yang masih dapat menekan harga emas?

Risiko utamanya adalah The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, imbal hasil US Treasury tetap tinggi, dan dolar AS kembali menguat.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.