
Bareksa - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (24/6/2026), tertekan kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Emas spot diperdagangkan di kisaran US$4.067/oz, turun sekitar 9,8% dari puncaknya US$4.595/oz pada akhir Mei 2026. Di pasar domestik, harga emas Antam tercatat Rp2.655.000/gram per 24 Juni 2026.
Tiga faktor utama menekan harga emas saat ini. Pertama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 101,4, tertinggi dalam 13 bulan terakhir, sehingga emas yang berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Kedua, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 melonjak menjadi 86% dari 61% sebelum rapat pekan lalu, meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Ketiga, negosiasi AS-Iran membuka peluang normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz, mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang emas.
Bagi investor dalam negeri, tekanan berlapis: harga emas USD turun sekaligus kurs USD/IDR menguat ke Rp17.951/US$, sehingga daya beli rupiah terhadap emas tergerus dari dua arah.
Harga Emas Global (XAU/USD)
Level | USD/oz |
|---|---|
Harga spot terakhir | US$4.067 |
Support 1 | US$4.091 |
Support 2 | US$4.040 |
Support 3 (deep) | US$4.020 |
Resistensi 1 | US$4.180 |
Resistensi 2 | US$4.200 |
Zona konfirmasi bullish | di atas US$4.225 |
Sumber: Kitco, Investing.com (24/6/2026)
Catatan: Angka di bawah adalah estimasi berdasarkan konversi harga spot + premium rata-rata Treasury saat ini (~3%). Bukan harga resmi — harga aktual dapat berbeda sesuai kondisi pasar.
Level | Estimasi IDR/gram |
|---|---|
Harga Treasury beli (aktual 24/6) | Rp2.424.361 |
Estimasi support 1 | ~Rp2.439.000 |
Estimasi support 2 | ~Rp2.408.000 |
Estimasi support 3 (deep) | ~Rp2.396.000 |
Estimasi resistensi 1 | ~Rp2.492.000 |
Estimasi resistensi 2 | ~Rp2.504.000 |
Zona konfirmasi bullish | ~di atas Rp2.516.000 |
Sumber: PT Indonesia Logam Pratama / Treasury (24/6/2026)
Koreksi harga emas tidak selalu berarti bear market jangka panjang. Analis KMLM, Jerry Prior, seperti dilansir Kitco News, menyatakan bahwa tren de-dolarisasi yang mendorong permintaan bank sentral global bersifat struktural dan tidak akan berbalik dalam waktu dekat. Bank of America, meskipun merevisi target jangka pendek, tetap mempertahankan pandangan konstruktif untuk jangka panjang dengan target US$6.000/oz yang digeser ke horizon yang lebih panjang.
Deutsche Bank memangkas proyeksi rata-rata Q3 menjadi US$4.300/oz (turun 22% dari proyeksi sebelumnya), namun memperkirakan pemulihan ke US$4.800/oz pada Q4 — dengan catatan bahwa jika The Fed menaikkan suku bunga tiga hingga empat kali, emas berpotensi tertekan hingga US$3.800/oz. Satu pilar yang disebut Deutsche Bank masih solid adalah permintaan bank sentral: China mencatat impor emas tertinggi dalam 26 bulan terakhir pada Mei 2026, sebesar 163 ton, naik 76% secara YTD dibandingkan periode yang sama 2025.
Bagi investor yang tidak ingin terfokus pada pergerakan harga harian, dollar cost averaging — membeli emas dalam jumlah rupiah tetap secara berkala — terbukti efektif meratakan harga perolehan. Dalam kondisi koreksi seperti saat ini, DCA memungkinkan investor membeli lebih banyak gram emas per bulan dibandingkan ketika harga berada di puncak.
Sebagai ilustrasi: investasi rutin Rp500.000/bulan di harga Rp2.424.000/gram menghasilkan sekitar 0,206 gram per bulan. Jika harga turun ke estimasi support Rp2.396.000/gram, jumlah yang diperoleh naik menjadi sekitar 0,209 gram — selisih kecil per transaksi yang bermakna secara kumulatif dalam 12–24 bulan ke depan.
Emas saat ini berada dalam tekanan jangka pendek yang nyata, dipicu kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat dan meredanya risiko geopolitik. Namun struktur permintaan jangka panjang dari bank sentral global dan tren de-dolarisasi tetap menjadi penyangga fundamental. Investor dapat mencermati level support US$4.091/oz (estimasi ~Rp2.439.000/gram untuk produk Treasury) sebagai area akumulasi bertahap, dengan strategi DCA sebagai pendekatan yang mengurangi risiko timing pasar. Bagi investor defensif jangka panjang, koreksi ini berpotensi menjadi titik masuk yang lebih menarik dibanding puncak Mei 2026.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(Rahmat Hidayat/Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.
Pelemahan emas USD saat ini lebih besar dari pelemahan rupiah, sehingga harga emas dalam rupiah ikut turun. Dalam 1 bulan terakhir, emas IDR turun sekitar 6,5% menurut data Treasury.
Tidak ada jawaban universal — bergantung tujuan dan horizon investasi. Untuk investasi jangka panjang (3 tahun ke atas), koreksi historis sering menjadi kesempatan akumulasi. Untuk jangka pendek, risiko tekanan lanjutan masih ada selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed belum mereda.
DCA adalah strategi membeli aset dalam jumlah rupiah tetap secara berkala, terlepas dari kondisi harga. Karena harga emas berfluktuasi, DCA membantu meratakan harga perolehan dan mengurangi risiko membeli di puncak harga.
Keempatnya mencerminkan produk emas berbeda dengan premium berbeda atas harga spot global. Treasury umumnya memiliki premium paling rendah (~3%), sementara emas fisik Antam memiliki premium paling tinggi (~13%) karena nilai kolektibel dan sertifikasinya.
Deutsche Bank memproyeksikan pemulihan ke US$4.800/oz pada Q4 2026, namun proyeksi ini bergantung pada kebijakan The Fed. Jika The Fed menaikkan suku bunga agresif (3–4 kali), pemulihan bisa tertunda dan harga berpotensi turun ke US$3.800/oz.