Mengapa Emas Logam Mulia Bisa Jadi Aset Diversifikasi Investasi?

Hanum Kusuma Dewi • 30 Nov 2021

an image
Ilustrasi investasi emas logam mulia dalam portofolio investor di atas kertas yang menggambarkan grafik kinerja investasi saham reksadana obligasi. (shutterstock)

Dalam portofolio investor, emas bisa jadi satu safe haven melengkapi berbagai aset investasi lainnya

Bareksa.com - Dalam berinvestasi, kita tentu mengharapkan keuntungan. Namun, ada risiko yang perlu kita hadapi. Salah satu cara untuk mengurangi risiko adalah dengan melakukan diversifikasi, atau peragaman jenis investasi. ​​

Diversifikasi ini sesuai dengan pepatah "Don't put your eggs in one basket" atau jangan taruh telurmu dalam satu keranjang. Sebab, bila keranjang itu jatuh, semua telur bisa ikut pecah. 

Contoh diversifikasi adalah membuat portofolio dari berbagai jenis instrumen investasi. Seorang investor bisa saja memiliki reksadana, dan melengkapi portofolionya dengan Surat Berharga Negara dan emas logam mulia dengan porsi tergantung profil risikonya. 

Meskipun untuk seorang investor agresif, logam mulia emas bisa menjadi satu aset untuk diversifikasi. Sebab, nilainya cenderung stabil dan dalam jangka panjang harganya justru meningkat. Karena nilai emas terbilang stabil dan tidak banyak terpengaruh aset-aset lainnya, logam mulia ini sering disebut sebagai investasi aman (safe haven). 

Emas dianggap safe haven oleh banyak investor dan juga analis. Adapun safe haven adalah aset yang diharapkan nilainya tetap atau meningkat walaupun pasar tidak stabil atau bergejolak. Pada prinsipnya, safe haven dicari oleh para investor untuk menghindari aset mereka dari kerugian ketika terjadi penurunan pasar atau krisis keuangan.

Bukti emas menjadi safe haven adalah ketika awal pandemi Covid-19 pada tahun lalu. Saat itu, pasar saham anjlok (market crash) dan para investor mencari aset aman yaitu emas. Harga emas logam mulia Antam pun terpantau naik. 

Pada saat pandemi tahun lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok 33 persen dari awal tahun ke titik terendahnya di kisaran 3.800 pada Maret 2020. Namun, harga emas Antam justru naik 21 persen ke Rp933.000 per gram dalam periode yang sama. 

Investasi emas logam mulia ini juga unik. Bila harga logam mulia di pasar anjlok, berat emas batangan yang investor miliki akan tetap. Jadi, bila uangnya tidak ingin digunakan dalam waktu dekat, sebaiknya jangan menjual emas saat harga sedang turun. 

Grafik Harga Emas Logam Mulia

Sumber: logammulia.com

Secara jangka panjang, harga emas cenderung naik. Menurut data harga Logam Mulia Antam di logammulia.com, dalam lima tahun terakhir, harga emas logam mulia Antam sudah melesat 52 persen dari Rp612.000 ke Rp930.000 per 30 November 2021. 

Jadi, itulah alasan emas logam mulia atau emas batangan cocok dijadikan aset sebagai diversifikasi dan melengkapi portofolio smart investor

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.